Ipda Kukuh Kembalikan Kejayaan Batik Indigo Borobudur


0 11

Ipda Kukuh Kembalikan Kejayaan Batik Indigo Borobudur

Menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri) tidak membatasi kreativitas seorang Ipda Kukuh Tirto Satrio Leksono untuk berkarya di bidang seni dan ekonomi kreatif. Kepala Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Magelang, Jawa Tengah, mampu mengembangkan seni batik dengan warna alami dari daun indigo yang nyaris punah di kawasan Candi Borobudur.

Tidak ada darah seni yang mengalir pada diri pria berusia 35 tahun itu. Semua berawal dari keprihatinan bahwa seni batik indigo sudah sulit bahkan tidak dapat ditemui di Candi Borobudur. Informasi tentang batik warna daun indigo diketahui ketika ia mulai menggeluti dunia seni di Candi Borobudur.

Berawal dari ketika bergabung dengan komunitas mobil, membangun homestay di Borobudur, lalu ikut komunitas seni rupa, teater, sampai sinematografi. Kukuh kemudian mencari tahu dan bereksperimen dengan warna daun indigo yang diambil dari seorang petani di Kabupaten Temanggung.

Daun indigo berasal dari pohon indigo yang mirip dengan pohon kelor namun daunnya lebih kecil. Prosesnya cukup lama untuk menjadi pewarna batik, mulai dari fermentasi, direndam di larutan air biasa, dicampur dengan air kapur, sampai dicampur dengan air gula atau tape.

Kukuh mulai memberdayakan orang-orang disekitarnya untuk memproduksi batik indigo. Kreativitasnya membuahkan hasil setelah banyak kalangan yang menyukai batik karyanya. Ia juga memprodukasi batik dengan pewarna alam lain seperti mahoni, jambal, daun mangga, bunga sumbo, yang banyak tumbuh di kawasan taman wisata Candi Borobudur.

Kukuh memproduksi batik dua jenis, yakni batik Tingal Laras yang diprosuksi dengan edisi terbatas. Batik ini lebih kepada media untuk menuangkan ide atau ekspresinya, biasanya dipakai untuk fine art atau dekorasi. Selain itu, pihaknya juga membuat batik Samaratungga yang biasa dipakai untuk cinderamata tamu.

Karena motifnya relief Borobudur, ada unsur pohon kalpataru, pohon yang hampir ada di setiap relief candi di Indonesia. Bersama sang istri, Lidia Pustpita Kusuma dan tim, Kukuh ingin terus mengembangkan batik ini, sehingga menjadi ciri khas Candi Borobudur.

Kukuh merasa memiliki manfaat dari kegiatannya membatik, selain tambahan pendapatan juga sebagai sarana menuangkan inspirasi atau menuangkan ide yang tidak bisa diperoleh ketika bertugas menjadi anggota polisi. Sampai saat ini, batiknya sudah diproduksi sampai ratusan jenis.

Dia menargetkan bisa memproduksi 10 motif batik baru per bulan. Pangsa pasar tidak hanya turis-turis asing, tapi juga masyarakat pecinta batik Indonesia. Harganya berkisar Rp 200.000-Rp 2,5 juta per batik. Keahlian menciptakan dan mengembangkan bisnis batik membuatnya kerap diundang untuk mengisi berbagai pelatihan. Namun, Kukuh tidak pernah mengabaikan tugas utamanya menjadi abdi negara. Kegiatannya membatik dilakukannya usai berdinas.

Source https://www.goodnewsfromindonesia.id/ https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/07/30/kegigihan-ipda-kukuh-kembalikan-kejayaan-batik-indigo-borobudur
Comments
Loading...