Inilah Batik Batang yang Eksotis, tetapi Nasibnya Kian Terkikis

0 66

Inilah Batik Batang yang Eksotis, tetapi Nasibnya Kian Terkikis

Batang, Jawa Tengah memiliki jenis batik tradisional yang tak kalah cantik. Terkenal dengan jenis Batik Tiga Negara, tetapi kondisinya kini semakin terkikis zaman. Batik tiga negara khas Batang diproduksi di Desa Kalipucang Wetan, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Batik ini memiliki ciri khas motifnya yang sangat detil, dan selalu menggunakan tiga warna filosofis, merah, biru, dan coklat.

Selain itu memiliki renda di bagian bawah, sebagai pengaruh era kolonial Eropa, lalu warna merah dengan motif Tionghoa pesisir. Keseluruhan batik batang ada 24 motif dasar yang terus diwariskan secara turun temurun. Antara lain motif pelo ati, gendangan, benji tambal, kotak kitir, sigar kupat, kawung jenggot, ila ili, klasem, dan lainnya.

Salah satu batik tertua di Jawa Tengah ini kian sulit mencari pengrajinnya. Dahulu ada empat sentra pembuatan, kini tinggal satu sentra batik yang masih bertahan, ialah Batik Rifa’iyah. Miftakhutin (40), pewaris Sentra Batik Rifa’iyah mengatakan kini tinggal 87 orang di desa yang aktif membatik, hanya separuhnya.

Ia mengaku kesulitan mencari masyarakat Batang yang masih mau aktif membatik. Dari 87 orang itu, hampir semuanya usia 30 ke atas, paling tua 40, hanya satu orang yang 18 tahun. “Di Batang, membatik itu identik pekerjaan wanita, dari dulu gak ada pria yang membatik,” tuturnya.

Padahal, di masa jayanya batik ini sudah mampir ke banyak negara, dari Jepang, Singapura, Malaysia, Laos, dan Eropa. Perempuan yang akrab disama Tin itu mengatakan orang luar negeri paling suka batik ini kalau menggunakan pewarna alam. “Tapi sekarang kita cuma bisa pakai pewarna sintetis, selain prosesnya lam modalnya juga besar kalau pakai warna alami,” katanya. Kemerosotan perajin batik ini mulai tahun 2000 awal. Dari empat sentra batik batang, menurun jadi satu sampai sekarang. “Regenerasi anak muda sekarang sudah tidak mau membatik, anggapannya lama terjual.

Kalau zaman saya 70-an akhir, wanita wajib bisa membatik buat suaminya, sebelum SD sudah diajari,” katanya. Ia berpendapat, jika ini terus terjadi kurang dari 10 tahun lagi, batik batang terancam hilang. Hal ini disebabkan masyarakat menganggap memproduksi batik itu lama untungnya. Prosesnya yang lama juga sulit membuat harganya mahal, dan akhirnya lama terjual. “Membuat satu motif batik batang asli itu butuh enam bulan. Ada yang satu bulan satu batik,” ujarnya. Namun, ia berpikir batik ini telah memberi pelajaran banyak pada masyarakat, dan sudah sewajarnya diselamatkan dan dilestarikan. Akhirnya Tin pun membuat kelompok usaha bersama (KUB) Tunas Cahaya, yang beranggotakan perajin batik batang. “Sekarang kita ada 30 orang, sudah regenerasi. Aktivitasnya membatik bareng, pameran bareng kalau ada yang ngundang, simpan pinjam, memberi nama motif dan lainnya,” jelas Tin.

Sejalan dengan usahanya, tahun ini pun Pemerintah Kabupaten Batang mulai mencanangkan membatik sebagai ekatra kurikuler SD. Beberapa istansi juga setiap tanggal 8, diwajibkan menggunakan kebaya, yang bisa dipasangkan dengan batik. Ia berharap ke depan akan ada bantuan yang bisa melatih perajin-perajin batik agar lebih inovatif membuat produk. “Kita lagi nunggu Bekraf katanya mau adakan pelatihan membuat produk dari batik, supaya terjualnya tidak lama,” ujar Tin. Produk-produk inovatif dari batik dinilai akan bisa mengangkat pasar-pasar batik batang yang sudah jenuh, seperti Jakarta. Sehingga bisa terjual lebih cepat dan banyak peminatnya.

Source https://www.kompas.com/ https://travel.kompas.com/read/2018/05/03/100300327/inilah-batik-batang-yang-eksotis-tetapi-nasibnya-kian-terkikis
Comments
Loading...