Industri Batik Lasem

0 210

Industri Batik Lasem

Hampir seluruh rumah tangga di Lasem mengelola usaha batik. Kemajuan industri Batik Lasem sangat pesat. Pemasaran batik Lasem pada awal abad XX sudah meliputi seluruh Jawa, Sumatera, Bali, Thailand Selatan, Malaka dan Suriname. Tidak mengherankan jika industri Batik Lasem menjadi sebagai salah satu dari lima sentra batik terbesar Hindia Belanda, sejajar dengan industri batik di daerah-daerah Surakarta, Pekalongan, Yogyakarta dan Cirebon.

Hal ini dimungkinkan karena cukup banyaknya jumlah pengusaha batik yang cakap di Lasem. Pada tahun 1930 jumlah pengusaha batik di Lasem adalah 120 orang. Mereka seluruhnya merupakan pengusaha batik etnis Tionghoa. Kejayaan industri Batik Lasem berlanjut sampai tahun 1942. Selama masa pendudukan Jepang, seluruh usaha batik di Lasem ditutup. Barulah sekitar tahun 1950 pengusaha Batik Lasem mencoba bangkit kembali. Kemajuan usaha batik memang terjadi tidak secemerlang masa Hindia Belanda.

Jumlah pengusaha Batik Lasem terus berkurang akibat kurang lancarnya regenerasi pengusaha batik, krisis ekonomi nasional dan ketatnya persaingan antar sesama pengusaha batik. Permintaan terhadap kain Batik Lasem menurun tajam akibat perubahan gaya pakaian masyarakat Indonesia yang mulai mengadopsi gaya pakaian barat. Jumlah pengusaha Batik Lasem terkikis tajam dari sekitar 140 orang  pada tahun 1970 menjadi hanya tinggal 18 orang pada tahun 2004.

Rendahnya daya serap industri Batik Lasem terhadap para pembatik potensial di berbagai desa tertinggal. Akibatnya, pengangguran tenaga kerja pembatik pun tidak dapat dihindarkan. Sementara itu, generasi muda dari keluarga pembatik enggan meneruskan pembatikan akibat relatif rendahnya upah kerja di industri batik tradisional dibandingkan dengan upah pekerjaan lain di sektor modern. Pengetahuan budaya Batik Lasem juga masih sangat terbatas di kalangan generasi muda Kabupaten Rembang.

Kurangnya data tentang sejarah, ragam motif, fungsi dan nilai filosofi Batik Lasem menyebabkan sulitnya pengembangan pendidikan budaya Batik Lasem, baik sebagai pelajaran muatan lokal di sekolah maupun sebagai kegiatan pendidikan non formal di bidang ketrampilan batik di lingkungan keluarga. Akibatnya, kelestarian budaya Batik Lasem sulit dijamin di masa yang akan datang. Untuk itu, sinergi multi pihak peduli, termasuk sendiri sebagai unsur bangsa Indonesia, sangat diperlukan dalam penguatan kesadaran budaya serta daya saing industri Batik Lasem.

Source Industri Batik Lasem Batik
Comments
Loading...