Industri Batik Di Indonesia

0 333

Industri Batik Di Indonesia

Industri batik di Indonesia umumnya merupakan industri kecil menengah (UKM) yang menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat. Sebelum krisis moneter pada tahun 1997 industri kecil menengah ini sempat mengalami kemajuan yang pesat. Beberapa pengusaha batik sempat mengalami masa kejayaan. Apalagi pada tahun 1980-an batik merupakan pakaian resmi yang harus dipakai pada setiap acara kenegaraan ataupun acara resmi lainnya. Sehingga dapat mengenalkan dan meningkatkan citra batik di dunia internasional pada waktu itu. Industri batik di Indonesia tersebar di beberapa daerah di pulau Jawa yang kemudian menjadi nama dari jenis-jenis batik tersebut seperti Batik Pekalongan, Batik Surakarta, Batik Yogya, Batik Lasem, Batik Cirebon, Batik Sragen. Setiap batik dari daerah tersebut memiliki ciri motif yang spesifik.

Jenis batik yang diproduksi ada tiga yaitu batik tulis, batik cap dan batik printing. Perkembangan Industri batik di Indonesia sangat terkait dengan perkembangan batik yang dimulai sejak beratusratus tahun yang lalu. Batik sebenarnya adalah salah satu jenis produk sandang yang telah berkembang pesat di Jawa sejak beberapa ratus tahun yang lalu. Sebagian besar masyarakat Indonesia telah menganal batik baik dalam coraknya yang tradisionil maupun modern. Sejarah batik di Indonesia sangat terkait dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa. Pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan mataram kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta. Meluasnya kesenian batik menjadi milik rakyat Indonesia dan suku Jawa khususnya setelah akhir abad ke XVIII atau awal abad ke XIX.

Sempat maju dan berkembang pesat pada tahun 1970an. Dan mengalami kemunduran disebabkan oleh krisis moneter tahun 1997, bom Bali 1 dan 2 yang memperparah keadaan dan juga bencana alam yang terus saja terjadi sampai saat ini (gempa di Yogya dan lumpur Sidoarjo). Geliat industri batik memang agak meredup ini dapat dilihat dari berkurangnya usaha-usaha produksi batik dan mengalihkan ke usaha yang lain. Misalnya saja industri batik Yogyakarta dari 1200 unit usaha yang ada di awal 1970-an saat ini tinggal 400 unit usaha yang bertahan.

Data dari Koperasi Batik Persatuan Pengusaha Batik Indonesia (Kobat PPBI) Yogyakarta dari 116 unit usaha hanya tinggal 16 unit usaha. Yang benar-benar menjalankan unit usaha tersebut hanya 5 unit usaha. Hal yang sama terjadi kabupaten lain di DIY yaitu di Gunung Kidul. Menurut data Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) DIY, jumlah batik tulis di Gunung Kidul tahun 2003-2004 berkurang dari 107 unit usaha menjadi 8 unit usaha. Hal yang sama juga terjadi di Koperasi Kobat Tantama lebih dari 70 persen dari 132 anggota pengrajin tidak lagi aktif menjadi produsen batik.

Source https://media.neliti.com/media/publications/24399-ID-analisis-industri-batik-di-indonesia.pdf
Comments
Loading...