Hidupkan Motif Batik Khas Kalimantan Barat

0 146

Hidupkan Motif Batik Khas Kalimantan Barat

Batik memang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Mulai dari pakaian kerja sehari-hari atau dalam menghadiri acara besar. Namun, masyawakat Pontianak dapat menggemari motif atau corak batiknya sendiri, dirasa masih kurang. Kerajinan batik khas sangat penting karena tidak hanya dikuasai oleh industri berskala besar, namun juga bisa dijalankan oleh orang-orang kreatif dengan skala rumahan.

Pengamatan yang dilakukan dari Pembina Sentra Batik Khatulistiwa, Reni Dwi Widyastuti, banyak Motif Batik Kalimantan Barat yang beredar di pasaran. Tetapi batik tersebut juga diproduksi di pulau Jawa. Hal itu dirasanya wajar, karena di Kalimantan Barat sendiri belum ada pelaku UMKM yang terjun dalam usaha batik sejauh itu. Belum ada keterampilan yang menjadi cikal bakal sebuah industri itu.

Kota Pontianak sudah ada pelajaran membatik di beberapa SMK di Kota Pontianak tetapi hal itu hanya berhenti pada sebuah pelajaran sekolah saja, tidak banyak yang benar-benar melanjutkan keterampilan membatik tersebut.

Berbekal pengamatannya bersama beberapa mahasiswa itu, Sentra Batik Khatulistiwa pun muncul menjadi sebuah ide dalam mata kuliah kewirausahaan. Dalam mata kuliah yang mengharuskan mahasiswa menjalankan usaha berbasis wirausaha ini, mahasiswa bimbingannya memilih untuk menjalankan model usaha membatik.

Dalam proses belajar membatik, semua kegiatannya dilakukan di lingkungan Kampus. Bermodalkan bahan seadanya yang didatangkan dari Jogja, usaha kecil itu bisa berjalan. Saat itu, dirinya mendatangkan Agung Suhaifa, guru SMK Negeri 3 Pontianak sebagai pengajar.

Setelah matakuliah kewirausahaan selesai, ternyata mahasiswa memiliki ide untuk melanjutkan usaha membatik tersebut. Dan tercetuslah rencana magang ke Sentra batik Nakula Sadewa di Sleman, Yogyakarta. Selama satu bulan, sepuluh mahasiswa itu dikirim dan dilatih tentang bagaimana membuat batik. Tak lupa juga mendapatkan pelajaran tetang standar operasional, manajemen, dan pemasaran batik itu sendiri.

Sudah berjalan dua tahun sejak 2014 lalu, kelompok mahasiswa semester akhir itu, berkomitmen bersama untuk memulai sebuah usaha hingga bisa berkembang. Usaha ini juga sempat kewalahan karena kekurangan modal. Modal awal pernah didapat dari Dikti tetapi dirasa masih kurang. Akhirnya aliran modal pun datang dari Dekan pembimbing itu.

Aris Setiawan, ketua Sentra Batik Khatulistiwa, mengatakan usaha batiknya memang belum memiliki badan hukum yang jelas, karena usaha kecil ini juga masih belum mampu memproduksi batik dalam jumlah besar.

Usaha kecil yang ditekuninya perlahan mulai dikenal di Kalimantan Barat. Permintaan akan produksi batik diakuinya sudah sangat banyak, sekitar 30-40 lembar kain batik sudah dipesan. Untuk memenuhi pesanan itu, dia bersama tujuh temannya masih kejar-kejaran memenuhi pesanan.

Membuat satu lembar kain Motif Batik Tulis, membutuhkan waktu dua minggu pengerjaannya. Hal itu diakuinya karena kekurangan tangan untuk membantu proses pengerjaan batik tersebut. Apalagi, dia bersama teman-temannya sedang menjalankan tugas akhir skripsi. Namun, dia yakin usaha yang telah ditekuni itu tetap bisa berjalan setelah ia lulus nanti. Karena sejumlah prestasi yang sudah disematkan rumah usaha ini-setelah beberapa kali pindah-pindah stan pameran-kini mereka sedang mengejar stok produk untuk dipamerkan dalam pameran.

Sentra Batik Khatulistiwa pun terpilih menjadi salah satu industri yang mewakili Kota Pontianak dalam Inacraft 2016 yang memamerkan produk unggulan kerajinan dan batik dari seluruh pelosok Indonesia. Di Jakarta nanti, Sentra batik ini memiliki kesempatan besar untuk semakin memperluas pasar.

Source Hidupkan Motif Batik Khas Kalimantan Barat Batik
Comments
Loading...