Hari Batik Nasional Dorong Peningkatan Penjualan Para Pedagang Batik

0 164

Hari Batik Nasional Dorong Peningkatan Penjualan Para Pedagang Batik

Para pedagang batik yang ada di sentra Kampung Batik Semarang penjualan mengalami peningkatan saat memperingati Hari Batik Nasional 2 Oktober 2017, seiring meningkatkan para konsumen yang berkunjung di kawasan itu. Pemilik Batik Balqis, Fairuz Zabadi mengatakan Hari Batik Nasioanl itu mendorong penjualan para pedagang batik di kawasan Kampung batik hingga melojak 30% dibanding hari-hari biasa. “Menjelang hari Batik Nasional penjualan batik sudah terlihat mengalami peningkatan bersamaan dengan bertambahnya jumlah konsumen yang datang ke sentra pedagang batik itu,” ujarnya. Saat ini semakin banyak kesadaran masyarakat untuk menggunakan batik khususnya anak-anak muda, sehingga, untuk mempromosikan batik di kalangan anak-anak muda sudah lebih mudah menerima warisan budaya Indonesia tersebut. Dengan adanya Hari Batik Nasional, lanjutnya, ternyata dapat mendorong penjualan batik di berbagai sentra perdagangan batik, ternasuk di Kampung Batik Semarang.

Momen Hari Batik Nasional itu, dia menambahkan diharapkan masyarakat bisa semakin sadar untuk bisa menggunakan batik dan ikut melestarikan budaya leluhur. Kota Semarang selama ini tidak hanya memiliki makanan khas yang dikenal seperti Lunpia, Bandeng Presto, Wingko Babad dan lainnya, Namun, juga memiliki warisan budaya batik, yang dibuktikan dengan adanya Kampung Batik yang sudah berdiri sejak jaman Kolonial. Kampung Batik Semarang saat ini menjadi pusat perdagangan oleh-oleh kain atau busana batik yang mulai diminati para wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Ibukota Jateng itu. Menurut Tri Utomo, salah satu pemilik gerai batik di Kampung itu, batik Semarangan yang diprakarsai pada 2006 oleh Ibu Sinto Sukawi istri mantan Walikota Semarang Sukawi Sutarip, kini mulai banyak dikenal masyarakat.

Pemilik gerai batik Ngesti Pandowo itu menuturkan Kampung Batik ini sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Di kawasan Kampung Batik sebelumnya menjadi pusat pengrajin batik pada era 1940-an ketika waktu jaman penjajahan dan dulu bersamaan dengan terjadinya pertempuran lima hari kampung ini dibakar habis. Memang di kawasan ini dulu banyak pengrajin batik yang akhirnya banyak yang mengungsi, meninggal atau mungkin direkrut pengrajin batik dari kota lain seperti Pekalongan, Lasem dan Kota lainnya. Setelah kejadian pertempuran itu di Kampung Batik aktivitas pengrajin batik hampir terjadi stagnan atau nyaris punah tidak ada lagi kegiatan batik- membatik hingga generasi sekarang, namun sebutannya hingga saat ini masih tetep Kampung Batik.

Pada 2006 mulai diadakan pelatihan membatik dengan menggali batik Semarangan dan pelatihan tersebut tidak hanya untuk warga Kampung Batik saja, tetapi juga bagi warga Semarang yang berminat diperbolehkan untuk mengikuti pelatihan. Pelatihan membatik didampingi oleh Dinas Perindustrian Dan Perdagangan, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pariwisata Kota Semarang dan juga di datangkan ahli-ahli batik dari Pekalongan, Solo. Saat itu di Kampung Batik memiliki gedung Balai yang memang sengaja digunakan sebagai tempat pelatihan. Hasil dari pelatihan batik, Pemerintah Kota Semarang mencoba ikut membantu memasarkan melalui berbagai pameran yang di gelar di berbagai tempat seperti pameran di PRPP, saat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Semarang maupun acara pameran yang diselenggarakan di Mall-Mall Kota Semarang.

Source https://semarangpedia.com/ https://semarangpedia.com/hari-batik-nasional-dorong-peningkatan-penjualan-para-pedagang-batik/
Comments
Loading...