Go Tik Swan Pelopor Batik Indonesia

0 30

Go Tik Swan Pelopor Batik Indonesia

Presiden Soekarno dibuat terkesan dengan tarian Hardjonagoro/ Go Tik Swan, terlebih saat itu boleh dikatakan belum ada keturunan Tionghoa yang tertarik untuk menari Jawa. Begitu mengetahui bahwa keluarganya sudah turun-temurun menjadi pengusaha batik, Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966).

Bung Karno kemudian menyarankannya untuk menciptakan batik yang tidak beridentitas lokal seperti batik Yogya, Solo, Pekalongan, Lasem, melainkan Batik Indonesia. Mendapat dorongan dari orang nomor satu di masa itu, tak ayal membuat semangatnya tergugah. Pada tahun 1955, ia pulang ke kampung halamannya untuk mendalami segala sesuatu tentang batik, termasuk sejarah dan falsafahnya. Kuliahnya di Fakultas Sastra UI yang baru sampai tingkat tiga pun ditinggalkan demi menapaki karir barunya sebagai seniman batik.

Kedekatannya dengan keluarga Keraton Solo memungkinkannya belajar langsung dari ibunda Susuhunan Paku Buwana XII yang memiliki pola-pola batik pusaka. Pola batik langka yang tadinya tidak dikenal umum maupun pola tradisional lainnya digali dan dikembangkan tanpa menghilangkan ciri khasnya. Agar terlihat lebih menarik, pola-pola tadi diberi sentuhan baru dengan warna-warna cerah seperti merah darah, pink, kuning dan hijau, bukan hanya coklat soga, biru nila, hitam, dan putih kekuningan seperti yang lazim dijumpai pada batik Solo-Yogya.

Ia mengaku mendapat inspirasi menciptakan batik dengan warna-warna cerah dari Ibu Soed, pencipta lagu Indonesia yang juga dikenal piawai dalam seni batik. Selain banyak memberi saran berharga karena seleranya bagus dalam memadukan warna, sosok Ibu Soed juga membantu Go Tik Swan dalam memasarkan hasil karyanya.


Bukan hanya soal warna, Tik Swan juga mengembangkan motif-motif baru pada batiknya, namun tetap bermakna. Dari hasil pengembangan pola tersebut, lahirlah Batik Indonesia. Batik dengan warna dan motif baru hasil eksplorasinya antara lain Parang Bima Kurda, Sawunggaling, Kukila Peksa Wani, Rengga Puspita dan Pisan Bali. Selain itu, ia mengembangkan batik yang tetap dalam nuansa batik klasik keraton, seperti Tumurun Sri Narendra, Slobog, dan Truntum.

Inovasi yang dilakukan Go Tik Swan mengantarkan batik pada masa jaya di tahun 1960-1970. Bahkan pada sebuah pameran di tahun 1953, Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966) Presiden Soekarno, sebagai orang pertama yang memberinya motivasi berjanji akan membeli apa saja yang dibuat Go Tik Swan. Undangan untuk tampil sebagai pembicara tentang batik di mancanegara pun mulai berdatangan di sela rutinitasnya melakukan berbagai penelitian di bidang kebudayaan, serta menggelar pameran.

Tak hanya menciptakan batik dengan warna dan motif indah yang akan mempercantik penampilan pemakainya, Go Tik Swan juga menjadikan batik ciptaannya sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi. Batik Kembang Bangah yang berarti bunga yang berbau busuk, diciptakan Go Tik Swan sebagai ungkapan protes terhadap pemerintah yang tidak memihak rakyat tetapi memihak kaum kapitalis. Motif ini sering kali disinggung ketika ceramah atau menulis tentang batik. Ternyata kreasinya itu mendapat banyak penghargaan sehingga ia bangga dengan pola kembang bangah itu.

Di era Soekarno, tiap kali ada tamu negara, Go Tik Swan kerap mendapat tugas sebagai anggota Panitia Negara Urusan Penerima Kepala Negara Asing yang bertanggung-jawab menyelenggarakan pameran batik di Istana Negara termasuk mendesain batik untuk cinderamata para tamu. Setelah Soekarno meninggal, Go Tik Swan sempat kehilangan gairah merancang batik. Ia bahkan merasa tersisih, tidak dihargai dan jerih payahnya sia-sia.

Sepanjang karirnya dari tahun 1950an hingga 2008, Go Tik Swan telah menciptakan sekitar 200 motif batik Indonesia, bahkan diantaranya banyak yang menjadi koleksi museum-museum di Eropa, Amerika, Australia, serta para kolektor batik. Tak jarang ia juga mendapat pesanan dari para tokoh nasional salah satunya adalah Presiden Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004). Megawati Soekarnoputri. Motif batik yang secara khusus dipersembahkannya untuk putri kedua Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966) Bung Karno itu diberi nama Parang Megakusumo. Selain Mega, ada sejumlah nama lain seperti Gubernur DKI Jakarta (2007-2012) Fauzi Bowo dan Menteri Penerangan (1983-1997) dan Ketua DPR/MPR (1997-1998) Harmoko yang menjadi pengagum batik karya Go Tik Swan.

Go Tik Swan menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 77 tahun pada 5 November 2008. Rekam jejaknya baik sebagai penari, pembatik, pelestari budaya dan warisan nenek moyang menampilkan sosoknya sebagai seorang Tionghoa yang dibesarkan dalam lingkungan Jawa yang amat menyadari adanya keharusan untuk mencari dan membangun jati diri Jawa pada dirinya untuk bekal hidup di tengah-tengah komunitas dan masyarakat, tanpa harus mengingkari ketionghoaannya.

Kentalnya darah Jawa yang mengalir dalam dirinya bisa dilihat dari kediaman sekaligus pusat kegiatannya sejak tahun 1950-an yang berlokasi di Kratonan 101 atau sekarang Yos Sudarso 176. Di rumah itu, selain berfungsi sebagai tempat tinggal juga ada beberapa bangunan lain, mulai dari perpustakaan, ruang untuk berlatih gamelan, bangsal untuk display/pameran batik, bangunan los untuk membatik, untuk besalen keris, serta gudang penyimpanan barang-barang antik.

Atas jasa-jasanya sebagai budayawan dan pembatik, Presiden Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014) Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penghargaan sebagai putra terbaik dengan tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma yang diterima ahli warisnya KRAr Hardjo Suwarno dan istrinya, Supiyah Anggriyani pada tahun 2011.

Tanda kehormatan itu membuat keduanya semakin termotivasi untuk menggali dan menghidupkan kembali motif-motif batik Indonesia ciptaan Go Tik Swan. Keduanya mengungkapkan rasa terima kasih yang sangat mendalam kepada pemerintah atas pengakuan dan penghargaan terhadap Go Tik Swan yang telah mengabdikan hidupnya untuk pengembangan budaya.

Source http://www.batiksemarang.com/ http://www.batiksemarang.com/2014/10/go-tik-swan-pelopor-batik-indonesia.html
Comments
Loading...