Go Tik Swan, Pejuang Batik Zaman Soekarno Diganjar CHI Award 2018

0 131

Go Tik Swan, Pejuang Batik Zaman Soekarno Diganjar CHI Award 2018

Pahlawan tanpa tanda jasa kini sudah memiliki makna yang luas. Tak lagi guru, tetapi banyak pahlawan yang saat ini masih berjuang dan mengabdi pada negara Indonesia.

Melestarikan budaya merupakan salah satu perjuangan yang mengabdi pada Indonesia. Tentu saja yang wajib dilestarikan salah satunya warisan Indonesia, batik.

Banyak yang tidak tahu bahwa dibalik proses diciptakannya batik, ada pejuang canting, malam, dan pembuat kain batik. Tepat pada hari Pahlawan Nasional, Yayasan Al-Mar menginisiasi sebuah penghargaan untuk para pejuang atau pelestari batik bertajuk The Culture Heritage Indonesia atau CHI Award 2018.

Batik buah karya Go Tik Swan yang dipamerkan dalam acara penghargaan CHI Award 2018. (Inri Sembiring/JawaPos.com)
Terdapat empat kategori yang berhak mendapatkan penghargaan, yaitu kategori pelestari, penerus, inovator, dan penghargaan khusus.

Dalam menyukseskan kegiatan ini, para tokoh yang sangat cinta batik ikut terjun sebagai dewan pemerhati. Di antaranya, Neneng Iskandar dari Wastraprema, Musa Widyatmojo sebagai perancang mode Indonesia, William Kwan sebagai pengamat wastra batik, Insana Ilham Habibie sebagai kreator batik, dan Wiwit Ilham Panjaitan sebagai Inisiator dan Pendiri CHI Heritage Warisan Budaya Indonesia.

Apresiasi ini bertujuan agar masyarakat Indonesia sadar bahwa dari 260 juta rakyat Indonesia, ternyata hanya sebagian kecil yang masih bertahan banting tulang untuk batik.

“Bayangkan saat ini, pengrajin canting di Pekalongan, hanya tinggal satu keluarga, belum ada lagi yang meneruskan. Cantingnya saja terbilang murah dijual dengan harga tiga ribu rupiah,” ungkap Musa Widyatmojo, saat ditemui di acara konferensi pers CHI Award, Plaza Indonesia.

Musa juga miris akan kondisi orang yang pernah memegang warisan canting antik, harus menjual seluruhnya ke Malaysia. Tentu penyebabnya tak jauh dari kondisi ekonomi, karena kurangnya kepedulian masyarakat terhadap industri batik.

Bukan hanya ajang selebrasi dan penghargaan, melalui acara ini juga ingin mengajak para generasi penerus untuk ikut serta mengenal budaya sekaligus juga melestarikan batik itu sendiri dari segi membuat canting, malam, dan kain batik.

Setelah seluruh tim melakukan kurasi dalam proses yang cukup panjang sejak Juli 2018, mereka akhirnya memutuskan nama-nama terpilih yang berhak mendapatkan penghargaan. Dari kategori pelestari ada Aris Gunadi sebagai pengrajin malam, Agus Sriyono pengrajin canting cap, dan Chuzazi pengrajin canting tulis.

Kemudian kategori penerus, yaitu Oey Soe Tjoen Widianti Widjaja dari duta batik peranakan. Kategori inovator yaitu Nur Cahyo batik empat warna Passima.

Terakhir, kategori penghargaan khusus diberikan kepada Go Tik Swan (Panembahan Hardjonagoro) yang diwakili oleh H. Hardjo Suwarno dan Hj. Supriyah Anggriyani. Go Tik Swan adalah pembuat batik pada zaman Soekarno dan batik kenegaraan.

Source https://www.jawapos.com https://www.jawapos.com/entertainment/lifestyle/11/11/2018/go-tik-swan-pejuang-batik-zaman-soekarno-diganjar-chi-award-2018
Comments
Loading...