Go Tik Swan, Mengenal Sang Legenda Batik dari Solo

0 66

Go Tik Swan, Mengenal Sang Legenda Batik dari Solo

Sebagai karya cipta yang oleh UNESCO ditetapkan sebagai intangible heritage Indonesia, saat ini mungkin ada jutaan pembatik dan pengusaha batik di tanah air. Namun, tidak banyak seniman batik yang memiliki ‘identitas’, sebuah ciri khas yang bisa membuat desainnya bisa dikenali tanpa harus melihat labelnya. Dari yang sedikit itu, ada nama Go Tik Swan Hardjonagoro, seorang legenda batik asal Solo yang menciptakan batik Indonesia, yang merupakan perpaduan motif dan teknik pewarnaan gaya klasik dengan gaya pesisir.
 
PENARI GAMBIR ANOM
Sawunggaling, rengga puspita, kembang bangah, kuntul nglayang adalah beberapa motif ciptaan Go Tik Swan (GTS) yang memperkaya khazanah batik Indonesia. Bahkan, motif sawunggaling yang berupa pertarungan sepasang ayam jantan dianggap sebagai masterpiece sang legenda yang juga menjadi must have item para pencinta batik. Batik GTS hingga kini dikenal sebagai batik premium, yang membuat tak banyak orang bisa memilikinya. Karena itulah, tak terhindarkan bahwa label ini sering membuat gentar para calon peminatnya, serasa bahwa hanya para kolektor dan orang beradalah yang sanggup memilikinya.

Titik balik GTS sebagai pembatik dimulai dari  perjumpaannya dengan Presiden Soekarno pada acara dies natalis Universitas Indonesia ke-5 tahun 1955. GTS yang merupakan mahasiswa UI terpilih menarikan tarian Jawa, Gambir Anom, di Istana Negara. Terkesan oleh kehalusan gerak tubuh GTS, Presiden Soekarno menyempatkan diri menyalaminya. Rupanya, tak hanya tarian itu yang memesona Presiden, tetapi juga karena penarinya adalah pemuda beretnis Tionghoa. Sesuatu yang langka saat itu, seorang Tionghoa bisa menari Jawa klasik. Saat itulah, Soekarno mendapatkan inspirasi baru tentang idealisme persatuan. Ia lalu meminta GTS mewujudkannya dalam satu desain batik.

Permintaan ini menjelma sebagai perintah bagi Go Tik Swan muda. Padahal, tak pernah terpikir dalam diri GTS untuk menjadi pembatik. Lahir di Solo, 11 Mei 1931, ia berasal dari keluarga pengusaha dan pejabat daerah. Ibunya, Tjan Ging Nio, putri pengusaha batik, yang menjadikan GTS muda beranggapan bahwa batik lebih sebagai urusan bisnis. Ayahnya, Go Dhiam Ik, adalah pengusaha beragam bidang yang juga menjadi orang kepercayaan Belanda dengan jabatan Luitenant der Chinezen van Boyolali, yang memiliki hak monopoli perdagangan garam.
           
Demi memenuhi permintaan Presiden Soekarno, GTS memulai perjalanan nglakoni demi menemukan ‘batik Indonesia’.  Ia melakukan ziarah, meditasi, dan tinggal berpindah-pindah pada sentra batik di berbagai kota di Jawa. Ia memilih bermalam di masjid atau rumah penduduk. Perjalanan spiritual selama lebih dari setahun yang panjang dan melelahkan lahir batin itu justru membuat inspirasinya buntu. Saat itulah seorang teman mengajaknya untuk beristirahat di Bali.

Di Campuhan, Ubud, inilah GTS merasa menerima ‘wahyu’ yang membuat pikirannya terang benderang dan menemukan tafsir sebuah desain batik. Dia segera kembali ke Solo dan mulai memproduksi motif batik tersebut di rumah kakeknya. Terciptalah wastra yang diberi nama ‘Parang Bima Kurda’, sebuah persembahan untuk Soekarno. Kurda bermakna tindakan berani, sedangkan Bima adalah karakter wayang, idola Sang Proklamator.

Kemudian terciptalah motif-motif batik lainnya. Usaha batik kakeknya yang sempat terhenti, kembali berproduksi. Motif-motif batik itu di antaranya adalah motif sawunggaling, yang terinpsirasi saat ia melihat tradisi sabung ayam di Bali. Sabung ayam merupakan ritual awal masa tanam yang dipercaya bahwa tetesan darah ayam yang bertarung akan memberikan kesuburan pada bumi. Ia juga menciptakan motif parang mega kusuma, untuk Megawati Soekarno Putri saat menjadi wakil presiden. Batik ini kini berada di museum batik Danar Hadi, Solo.

GTS memadukan corak klasik keraton (Solo dan Yogya) yang introver dengan gaya pesisir (Pekalongan, Tuban, Lasem) yang ekstrover. Perpaduan itu juga diterapkan dalam teknik pewarnaan. Warna sogan yang monokrom berpadu multiwarna khas pesisir yang cerah. Motif dari daerah lain seperti Cirebon, Madura, dan tenun Bali melengkapi metamorfosis motif batiknya.

Perpaduan ini merupakan cara GTS menafsirkan batik Indonesia sebagai lambang persatuan. Ia menghapus batas-batas kedaerahan, namun tetap mempertahankan nilai falsafah pada tiap corak dan teknik lokal yang menjadi akar masing-masing batik tersebut.

Source http://www.femina.co.id/profile/ http://www.femina.co.id/profile/go-tik-swan-mengenal-sang-legenda-batik-dari-solo
Comments
Loading...