Geliat Usaha Batik Jumput Khas Bojonegoro

0 158

Geliat Usaha Batik Jumput Khas Bojonegoro

Produksi kain batik khas Bojonegoro, yakni batik jumput, terus berkembang. Bahkan, pasar produk itu kini telah sampai di Singapura. Dua perempuan duduk di ruang belakang rumah keluarga Isa Ashari di Desa Prayungan, Kecamatan Sumberrejo. Tangan perempuan itu dengan terampil mengambil karet yang digunakan mengikat kain merah. Satu per satu, dengan tekun, keduanya melepas ikatan setelah kain dicelup dengan pewarna. Setelah itu, kain tersebut dijemur untuk dikeringkan.

Sekilas, kain batik yang diproduksi keluarga Isa Ashari itu memang tampak biasa. Pada kain hanya ada motif-motif bulat, kembang, atau bintang. Tapi, ternyata di situlah letak keindahan kain batik tersebut. Disebut Batik Jumput lantaran cara membuatnya. Yakni, kain putih polos belakangnya diberi biji-bijian kecil, lalu dijumput dengan ujung jari dan biji tersebut ditali karet. Setiap satu kain, bisa sampai ratusan biji yang diikat karet gelang tersebut. Tahap selanjutnya, kain diwarna sesuai dengan selera. Hasilnya, bekas karet pengikat biji tadi tidak terkena pewarna kain, sehingga menjadi motif batik.

Menurut Isa, pihaknya mulai membuat batik jumput setelah mengikuti pembinaan kelompencapir yang mengajarkan cara membuat batik jumput, yakni pada tahun 1990. Sejak saat itu, dia mencoba membuat batik yang lain dari tradisi batik yang ada. Batik jumput sebenarnya juga diproduksi di daerah lain seperti di Jogjakarta dan Solo. Namun, di Jogjakarta dan Solo batik jumput belum berkembang baik karena kalah dengan batik tulis.

Isa menambahkan, awalnya dia mengerjakan semua proses membatik sendiri. Namun, sejak 2002 dia mulai mempekerjakan karyawan, terutama dari kalangan ibu-ibu rumah tangga. Kini, dia memiliki sekitar 36 karyawan. Para karyawannya tersebut ada yang mengerjakan batik jumput di rumah masing-masing dan hanya pewarnaan yang dilakukan di rumah Isa. Lantaran ketatnya persaingan di pasar kain harus memutar otak agar batik jumput tetap eksis. Saat ini, dia mencoba membuat corak khas sendiri yang berbeda dengan kain batik lainnya. Kekhasan itu di antaranya terletak pada ketajaman warna yang dipilih, seperti merah menyala, hijau matang, biru, dan ungu. Batik jumput dijual dengan tidak mematok harga tinggi antara Rp. 15 ribu sampai Rp. 100 ribu per lembar. Namun, untuk pakaian jadi bisa mencapai Rp. 200 ribu per buah.

Saat ini distribusi kain Batik jumput telah menjangkau pasar di beberapa daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah bahkan sampai Singapura. Selain itu, sejak tahun lalu hingga kini sudah 3 kali mengikuti pasar lelang di Surabaya untuk memasarkan produk tersebut. Hasilnya, omzet penjualan kain batiknya pun meningkat. Kini, omzet setiap bulannya mencapai Rp. 50 juta.

Source http://vaibatik.blogspot.co.id/ http://vaibatik.blogspot.co.id/2008/05/geliat-usaha-batik-jumput-khas.html
Comments
Loading...