Geliat Batik Bogor di Tengah Kekurangan Perajin

0 101

Geliat Batik Bogor di Tengah Kekurangan Perajin

Pendiri Batik Bogor Tradisiku, Syamhudi Siswaya sengaja mengadakan pelatihan tersebut secara rutin sebanyak tiga kali setahun. Yakni setiap Hari Batik Nasional, Hari Jadi Kota Bogor dan hari jadi tempatnya. Siapa pun diperbolehkan ikut pelatihan yang digelar selama tiga hari berturut-turut hingga Rabu 4 Oktober 2017 nanti. “Pelatihan gratis ini dibuat untuk menumbuhkan minat masyarakat menjadi perajin batik. Siapa tahu satu atau dua orang di sana tertarik sehingga tradisi batik di Bogor bisa terus dikembangkan. Kalau bukan generasi muda kita, siapa lagi?” kata Syamhudi.

Sejak mendirikan Batik Bogor Tradisiku hampir satu dekade lalu, industri batik lokal menurut Syamhudi terus tumbuh. Hampir 100 jenis motif batik baru tercipta di tangan para perajin lokal, menunjukkan eksistensi dan produktivitas mereka cukup kompetitif. Satu per satu, produsen batik bermunculan seiring permintaan yang terus naik angkanya dari waktu ke waktu. Produk buatan 5-6 perajin besar di Kota Bogor belum cukup memenuhi seluruh permintaan pasar. Ia mengakui daerahnya masih kekurangan jumlah perajin selain terkendala bahan baku yang masih didatangkan dari luar provinsi. Faktor-faktor tersebut membuat harga jual batik khas Bogor masih tinggi.

Minat masyarakat menjadi perajin batik masih rendah. Karena itu, seluruh perajin di tempatnya harus dilatih dari nol hingga mahir. Sebagian besar perajin itu juga tidak muda lagi. Jumlah perajin yang minim membuat upah mereka juga cukup mahal bagi produsen batik. Syamhudi membandingkan, upah perajin batik di Jogjakarta, Solo atau daerah sentra batik lain masih bisa dihargai Rp. 25 ribu per hari. Sedangkan di daerah mencapai beberapa kali lipatnya. Biaya produksi membengkak oleh ongkos kirim bahan baku, promosi hingga pajak.

Source http://www.pikiran-rakyat.com/ http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/10/02/geliat-batik-bogor-di-tengah-kekurangan-perajin-410690
Comments
Loading...