Filosofi batik pernikahan Kahiyang

0 76

Filosofi batik pernikahan Kahiyang

Rangkaian ritual menyambut pernikahan putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution mulai digelar sejak Senin. Sejumlah batik sudah disiapkan untuk perhelatan ini, berikut makna dan filosofi di baliknya.

Dilansir Wolipop, keluarga Jokowi menunjuk Ki Ronggojati Sugiyatno, Pemilik Toko Busana Jawi Suratman untuk mempersiapkan batik yang akan dikenakan mempelai dan keluarga pada rangkaian acara pernikahan.

Ada 120 helai kain batik pilihan keluarga Jokowi yang akan digunakan sebagai jarik (bawahan). Selain itu, Pak No–sapaan akrab Ki Ronggojati Sugiyatno–juga mempersiapkan 70 beskap hitam.

Beskap adalah pakaian resmi laki-laki dalam tradisi Solo yang biasa dikenakan pada acara penting dan resmi. Potongannya terinspirasi oleh jas zaman kolonial.

Beskap sebenarnya berasal dari kata Beschaafd dari Bahasa Belanda yang memiliki makna berbudaya. Namun dalam lidah Jawa, pengucapannya lebih mudah menjadi beskap.

Biasanya beskap memiliki dua kancing di bagian dada kanan dan kiri. Terbuat dari kain yang sedikit kaku, dengan penyangga pundak layaknya jas modern.

“Dari keluarga sudah menyiapkan bahannya. Ada empat motif, Jati Kusumo, Wahyu Gumulung, Wahyu Tumurun dan Parang. Semua warna sogan,” tambah Pak No.

Setelah kemarin kenduri dan lamaran dihelat di kediaman Presiden Jokowi di Jalan Kutai Utara, Banjarsari, Solo. Selasa acara dilanjutkan dengan pemasangan bleketepe dan siraman, masih di kediaman Jokowi.

Menurut Pak No, untuk ritual ini beskap hitam akan dipasangkan dengan batik motif wahyu gumulung. “Maknanya, mengumpulkan segala berkah dari Tuhan. Terlihat dari isenan atau wahyu yang seperti berkumpul,” jelas Pak No.

Malam hari, pihak mempelai laki-laki akan datang ke kediaman Jokowi untuk ritual midodareni. Kali ini, batik yang akan digunakan adalah motif jati kusumo.

Dijelaskan Pak No, motif jati bermakna abadi dan kusuma adalah nama. “Jadi maknanya nama yang abadi. Midodareni itu kan sifatnya menyongsong, dan hari yang penting juga untuk menjadikan keabadian yang madya,” paparnya.

Rabu (08/11) pagi akad nikah, akan digelar di Gedung Graha Saba Buwana, Jalan Letjen Suprapto, Banjarsari, Solo. Keluarga Jokowi akan mengenakan beskap yang dipasangkan dengan jarik motif bokor kencana.

Bokor adalah tempat air bunga sebagai kelengkapan upacara sedangkan kencono atau kencana berarti emas.

Motif ini memiliki wakna wadah kemuliaan manusia. Pasalnya, pernikahan merupakan tahapan kedua dari tiga peristiwa penting dalam hidup manusia: lahir, menikah, dan meninggal.

Motif bokor kencana juga melambangkan harapan, keagungan, serta kewibawaan sehingga disegani di dalam lingkungan masyarakat. Ini merupakan salah satu motif batik klasik yang mempunyai sejarah.

Batik lawasan ini pertama kali muncul di keraton Surakarta pada masa pemerintahan PB IX. Menariknya, semua golongan pangkat dalam masyarakat, baik tua maupun muda boleh memakai batik ini.

Resepsi pernikahan digelar siang dan malam di lokasi yang sama. Kali ini, batik motif parang seling yang jadi pilihan. Keluarga Jokowi, menurut Pak No tak ambil pusing soal mitos sial yang membuat kebanyakan orang Jawa pantang mengenakan batik motif parang pada perhelatan pernikahan.

“Boleh pakai motif parang asal ada selingnya. Tujuannya untuk memaknai hubungan vertikal antara manusia dengan penciptanya,” lanjut Pak No.

Mengutip Good News From Indonesia, bisa jadi makna kuat motif parang jadi alasan keluarga memilihnya. Batik parang merupakan salah satu motif batik tertua di Indonesia.

Parang berasal dari kata Pereng yang berarti lereng. Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal.

Susunan motif S jalin-menjalin tidak terputus melambangkan kesinambungan. Bentuk dasar huruf S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat yang tidak pernah padam.

Maka pesan yang terkandung di dalamnya adalah keinginan kuat untuk tidak pernah menyerah. Ibarat ombak laut yang tak henti berdebut.

Jalinan yang tak terputus juga merupakan gambaran konsistensi dalam upaya untuk memperbaiki diri, memperjuangkan kesejahteraan, maupun dalam menjaga hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhannya.

Sementara garis diagonal lurus pada motif parang memberi gambaran bahwa manusia harus memiliki cita-cita yang luhur, kokoh dalam pendirian, serta setia pada nilai kebenaran. Dinamika dalam pola parang ini juga disebut ketangkasan, kewaspadaan, dan kontituinitas antara satu dengan yang lainnya.

Source https://beritagar.id https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/filosofi-batik-pernikahan-kahiyang
Comments
Loading...