Fashion Show Batik Digelar di Pasar

0 11

Fashion Show Batik Digelar di Pasar

Peragaan busana atau fashion show tak selamanya digelar di tempat eksklusif, hotel, mal, maupun convention hall. Kini ada terobosan baru denga menggelar fashion show di pasar tradisional. Gelaran fashion show itu akan diselenggarakan di Pasar Beringharjo , pusat perbelajaan batik yang terkenal di Yogyakarta. Peragaan busana batik ini didukung GKBRAy A Paku Alam X, isteri dari Wakil Gubernur DI Yogyakarta sebagai bentuk komitmennya pada pelestarian warisan budaya batik. Mengingat dengan peragaan busana ini, diharapkan para pedagang dan masyarakat bersama-sama menjaga pelestarian sekaligus menjadikan Beringharjo sebagai destinasi wisata Batik. Dukungan ini juga diberikan dengan menyadari dinobatkannya Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia oleh World Craft Center pada tahun 2014 di Tiongkok.

Dukungan itu ditegaskan GKBRAy A Paku Alam X kepada Gunawan Nugroho Utomo Kepala UPT Bisnis Beringharjo (Pengelola Pusat Perbelanjaan Beringharjo) yang menjadi nara sumber dalam acara “Bincang Batik” yang diselenggarakan di Avocado Media Corner (Omah Media), Yogyakarta. Bincang Batik merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan Kampung Wisata Budaya Langenastran, Yogyakarta yang mengangkat thema “Batik & Batok Night” dengan puncak acara pada 15 Oktober 2016. Hadir sebagai pembicara GBRAy Murdo Kusumo, adik Sri Sultan Hamengku Buwono X, Eddy Purjanto Wakil Ketua Umum Kadin Yogyakarta Bidang Industri Kreatif, Jasa, Budaya dan acara dipandu oleh AM Putut Prabantoro dari Avocado Media Corner.

“Saya mendukung Beringharjo mengadakan fashion show batik di tengah-tengah pasar. Ada dua hal yang bisa dicapai dengan fashion show tersebut yakni pelestarian batik oleh para pedagang dan masyarakat pembeli serta sekaligus menjadikan Beringharjo sebagai destinasi wisata batik. Kita semua memiliki tanggung jawab atas pelestarian warisan budaya leluhur,” ujar GKBRAy A Paku Alam X. Sebagai seorang pembatik, sambung dia, juga mengingatkan warga Yogya memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia. “Predikat itu dapat dipertanyakan lebih lanjut jika kelak kemudian ternyata warga Yogya tidak ada yang mengenakan batik lagi dan tidak ada pembatiknya. Bahkan Beringharjo harus memberi edukasi kepada masyarakat pedagang dan pembeli tentang eksistensi batik,” lontarnya.

Menurut Eddy Purjanto, ada 7 kriteria Yogyakarta disebut Kota Batik Dunia dan bukan kota lain. Tujuh kriteria itu: nilai historis, orisinalitas, upaya pelestarian melalui regenerasi, nilai ekonomi, ramah lingkungan, mempunyai reputasi internasional, serta persebarannya. “Gelar sebagai Kota Batik Dunia hanya berlaku 4 tahun dan dapat dicabut jika ketujuh kriteria itu tidak terpenuhi. Karenanya penting bagi masyarakat Yogyakarta memahami gelar tersebut dalam posisi percaturan batik dunia. Dulu pernah batik diklaim Malaysia, akhirnya tidak jadi karena tidak terpenuhi kriteria tersebut, “ ujar Eddy Purjanto yang juga Ketua Humas Yogyakarta International Batik Binalle.

Dilanjutkan, ada tiga jenis Batik yang diketahui umum yakni batik tulis, batik cap dan kain bermotifkan batik. Namun yang dinamakan Batik sesungguhnya adalah batik tulis yang memiliki seni tinggi dalam membuatnya. Yang dinamakan batik bukan hanya motif tetapi juga proses pembuatan, pembuatan motif dan pewarnaan. Keprihatinan akan masa depan batik tulis diungkapkan GBRAy Murdo Kusumo.

“Generasi saat ini yang berniat membatik sangat sedikit. Dengan alasan kepraktisan pembeli lebih cenderung memilik batik nontulis. Padahal dalam tradisi membatik, membuat motif itu harus mengerti dan memahami filosofi Jawa yang terkandung di dalamnya,” ungkapnya. Terkait dengan peletarian pembatik (regenerasi), baik GKBRAy A Paku Alam X dan GBRAy Murdo Kusumo membuka diri bagi siapa saja terutama generasi muda untuk belajar batik dari Pakualam ataupun dari Kraton Kasultanan.

Source http://bisniswisata.co.id/ http://bisniswisata.co.id/fashion-show-batik-digelar-di-pasar/
Comments
Loading...