Ex Buruh Migran Kembangkan Batik Bumi Tanoshi

0 184

Ex Buruh Migran Kembangkan Batik Bumi Tanoshi

Geliat terhadap perkembangan batik khas Wonosobo mulai terlihat di banyak tempat. Terbaru, upaya mengembangkan khasanah batik di Kota Sejuk tersebut diseriusi oleh Waluyo dan Sa’diyah, pasangan suami-istri yang berasal dari Kampung Penawangan, Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Wonosobo. Pasutri mantan buruh migran tersebut menggerakkan paguyuban beranggotakan rekan-rekan seprofesi nya untuk bersama-sama mengembangkan batik bermotif potensi alam Wonosobo. Belum 3 bulan terbentuk, kini paguyuban yang dinamai Bumi Tanoshi tersebut telah mampu menunjukkan diri, bahwa mereka mampu bersaing dengan para perajin batik yang sudah jauh lebih senior. “Hasil karya kami diapresiasi sebagai salah satu penerima trophy sebagai Juara harapan kedua dalam lomba fashion show batik khas Wonosobo, belum lama ini,” tutur Waluyo.

Waluyo beserta istrinya Sa’diyah mengaku mantap untuk menekuni profesi sebagai perajin batik khas Wonosobo karena menilai potensi pasarnya masih sangat terbuka dan prospek ke depannya cukup bisa diandalkan. Seiring semakin dikenalnya Wonosobo sebagai destinasi unggulan di Jawa Tengah, meyakini akan berdampak positif terhadap minat pada hasil kerjinan khas seperti batik ini.  Mengenai ajakannya kepada sesama mantan buruh migran, bahwa hal itu merupakan bagian dari solidaritas kepada rekan-rekan seprofesi yang juga memiliki keinginan untuk maju dan berkembang. Nama Bumi Tanoshi sendiri, menurutnya merupakan akronim dari Buruh Migran Indonesia Tanoshi, yang apabila diartikan kurang lebihnya adalah buruh migran Indonesia yang bahagia dan menyenangkan. Tanoshi, dijelaskan Waluyo merupakan bahasa Jepang yang artinya bahagia atau menyenangkan.

Hingga akhir Agustus ini, Waluyo mengaku Bumi Tanoshi sudah beranggotakan sebanyak 88 orang ex TKI dari beberapa wilayah se-Wonosobo. Ia dan istri secara tegas mengatakan ingin serius menekuni batik khas Wonosobo, dan bahkan kini mulai mendalami beragam motif seperti candi, purwaceng, satwa, dan carica untuk dituangkan di atas kain. Ia mengaku untuk upaya pengembangan kerajinan batiknya, masih memerlukan peralatan pendukung seperti kompor, tabung gas dan belanga besar untuk pencelupan kain yang selesai dibatik. Menanggapi adanya upaya kreatif pasutri eks buruh migran tersebut, Camat Wonosobo Zulf Ahsan Alim mengaku sangat mendukung. Ia yang juga telah berkunjung langsung ke kediaman Waluyo bahkan telah memesan tak kurang 25 lembar batik bermotif khas Wonosobo untuk dikenakan para pegawai Kecamatan. Demi lebih berkembangnya batik hasil karya Bumi Tanoshi, Zulfa juga mengaku akan terus mensupport, termasuk mengupayakan bantuan dari Pemerintah untuk pengadaan peralatan yang dibutuhkan.

Source https://www.wonosobokab.go.id/website/ https://www.wonosobokab.go.id/website/index.php/berita/seputar-wonosobo/item/5206-pasangan-ex-buruh-migran-kembangkan-batik-bumi-tanoshi/5206-pasangan-ex-buruh-migran-kembangkan-batik-bumi-tanoshi
Comments
Loading...