Estetika Batik

0 265

Estetika Batik

Batik mengacu pada teknik merintangi kain dengan lilin malam sehingga permukaan yang tertutupi malam tersebut tidak terkena pewarnaan dan membentuk motif batik. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa batik terasosiasi dengan kebudayaan Jawa karena istilah batik mengacu pada bahasa Jawa “amba” yang berarti menggambar dan tik yang berarti titik sehingga membatik berarti menggambar titik dalam jumlah yang banyak (Surjanto, 2003).

Ini diperkuat dengan adanya kata thika’ yang berarti menulis dan menggambar dalam Old Javanese English Dictionary karangan P.J. Zoet Mulder & S.O. Robson. Membatik juga biasa disebut “mbatik” oleh orang Jawa dengan bahasa Jawa Ngoko atau bahasa Jawa kasar yang merujuk pada aktifitas atau kegiatan membatik (Rens Heringa, 1996:32).

Teknik merintangi dengan lilin malam ini sebetulnya juga dikenal di kebudayaan lain seperti di India, Cina, Persia, hingga Peru, tetapi orang Jawa membedakannya dengan menciptakan canting sebagai pena untuk menggambar. Canting kemudian bisa dipahami sebagai indigenous orang Jawa.

Batik menemukan euphoria-nya di berbagai produk komoditas yang tidak menerapkan lilin malam, hanya dapat dipahami sebagai kreativitas pada tataran motifnya saja dan bukan pada esensi batik itu sendiri. Batik kemudian juga dapat dipahami sebagai kitsch atau bentuk reproduksi batik yang telah begitu masalnya di adaptasikan pada barang-barang komoditas dengan penurunan keotentisitasnya sebagai sebuah teknik.

Di zaman digitalisasi dan serba emansipasi ini tidak dapat dihindari bahwa mengekplorasi motif batik menjadi penunjang perancangan seni maupun desain, terutama desain grafis. Motif batik selalu bisa dikaitkan dengan sentimen kebangsaan, identitas budaya Indonesia, atau hanya bagian dari bentuk apropriasi.

Motif batik bisa menjadi inspirasi dalam pengalaman berestetika, disaat yang sama juga membuka peluang baru penciptaan gaya desain yang membentuk asosiasi pada ekspresi kelokalan.

Inilah yang kemudian dilakukan oleh mahasiswa DKV ISI Yogyakarta, sebagai bagian dari mata kuliah Estetika Desain pada 4-5 Januari 2014 lalu di Sanggar Batik Jenggolo mereka membatik desain tipografi yang mengacu pada ekspresi kelokalan bahasa dalam bentuk tulisan atau di istilahkan dengan tipografi vernakular.

Mengapa membatik dipilih untuk membuat tipografi? Dan mengapa pula tipografi vernakular?

Pertama

Dengan membatik mahasiswa dapat membiasakan diri untuk mengolah rasa sekaligus raga mereka dalam memahami esensi batik yang terletak pada tekniknya mencanting dengan lilin malam.

Pengalaman mereka mendesain dengan batik juga memperdalam sensitifitas mereka pada penciptaan bentuk kata atau kalimat dalam kerangka tipografi, dekorasi ornamennya, penata-letakkan, keseimbangan, penekanan atau center of attention, keberaturan, kesatuan, hingga konsistensi.

Kedua

Tipografi menjadi kerangka desainer dalam mengolah ide-ide kelokalan, dalam hal ini bahasa keseharian atau vernakular yang diwujudkan atau dituangkan dalam bentuk huruf.

Maka titik berat tipografi vernakular bukan hanya pada dekorasi motif, seperti halnya batik sebagai sebuah pakaian atau kerajinan lainnya, tetapi juga pada bentuk tulisan baik berupa kata, kalimat, bahkan umpatan. Semua memiliki ceritanya sendiri-sendiri, dan berikut ini adalah ceritanya.

 

 

Source Estetika Batik Batik
Comments
Loading...