Eksintensi Batik Bondowoso di Ajang Pesona Batik Nusantara di Jakarta

0 21

Eksintensi Batik Bondowoso di Ajang Pesona Batik Nusantara di Jakarta

Karena batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia, akhirnya pengakuan UNESCO dan ditetapkan Hari Batik Nasional pada tanggal 2 Oktober 2009 lalu, menjadi tonggak penting untuk eksistensi batik di dunia internasional. Dan semakin menempatkan  batik takhanya budaya Indonesia, tapi jati jiri dan indetitas bangsa.

Kabupaten Bondowoso salah satunya merupakan bagian yang mempunyai warisan  budaya khas batik yang motifnya tidak kalah dengan daerah lainnya. Sehingga perkembangan bati di Kabupaten Bondowoso cukup mengembirakan dengan banyaknya kreasi batik modern kontemporer yang elegan, modis dan trendy.

Bahan batik Bondowoso selain digunakan sebagai bahan dasar pembuatan busana resmi namun semakin adaptif dengan perkembangan tren fashion yang ada. Bahkan, batik bisa dikreasikan menjadi busana muslim yang tidak kalah menawan tanpa memberi kesan kaku dan formal.

Kini masyarakat Bondowoso patut bersyukur dengan adanya 2 anak bersaudara dari SDN Dabasa 03 Olivia Laurent Oktania 12 tahun dan Maurent Yohana 8 tahun SDN Dabasa 4 yang turut serta melestarikan budaya batik menuju grand Final Pesona Batik Nusantara oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kooperatif RI di Jakarta. Sebab, Batik merupakan warisan budaya nasional atau warisan budaya bangsa.

Ahmad Dhafir S.Ap Ketua DPRD Bondowoso menjelaskan, semakin diperkenalkan pada anak-anak bangsa yang masih diusia dini, maka warisan budaya masa lampau sudah semestinyalah peninggalan budaya tersebut semakin dihargai. Barulah disadari betapa kaya dan melimpah ruahnya warisan budaya nenek moyang kita yang ternyata selama ini terabaikan, terlantar dan tidak diperdulikan. Penyebabnya bisa karena ketidaktahuan, kurangnya kesadaran dan pemahaman akan pentingnya warisan budaya.

Kita dapat mengatakan bahwa melestarikan berarti memelihara atau menyimpan baik-baik sesuatu agar tidak lenyap begitu saja. Namun pelestarian apapun sesungguhnya tidak sesederhana itu. Pelestarian bertujuan untuk menjadikan sesuatu tetap ada seperti aslinya, tidak rusak, tidak musnah. Pelestarian khasana budaya bangsa memang dapat dilakukan dengan berbagai cara yang harus saling bersinergi antara masyarakat dan pemerintah, katanya.

Lanjut Ahmad Dhafir, sekedar diketahui tentang pengertian batik yang merupakan suatu cara untuk memberi hiasan pada kain dengan cara menutupi bagian-bagian tertentu dengan menggunakan perintang. Zat perintang yang sering digunakan ialah lilin atau malan. Kain yang sudah digambar dengan mengunakan malan kemudian diberi warna dengan cara merebus kain. Akhirnya dihasilkan sehelai kain yang disebut batik berupa beragam motif yang mempunyai sifat-sifat khusus.

Secara etimologi kata batik berasal dari bahasa Jawa, yaitu, tik yang berarti titik atau matik (kata kerja, membuat titik) dan amba yang kemudian berkembang menjadi istilah batik (Indonesia Indah, Batik, 1997, 14) di samping itu mempunyai pengertian yang berhubungan dengan membuat titik atau meneteskan malan pada kain mori.

Bedasarkan etimologis tersebut sebenarnya batik identik dikaitkan dengan suatu teknik (proses) dari mulai penggambaran motif hingga pelorodan. Salah satu yang menjadi ciri chas dari batik adalah cara pengambaran motif pada kain, ialah melalui proses pemalaman yaitu mengoreskan cairan lilin yang ditempatkan pada wadah yang bernama canting dan cap.

Sejatinya, pada jaman dahulu para perempuan menjadikan keterampilan mereka dalam berbatik sebagai mata pencarian. Sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan ekslusif perempuan. Hingga ditemukannya, Batik Cap, yang memungkinkan masuknya kaum laki-laki ke bidang batik. Kemudian terjadi fenomena batik pesisir yang memiliki garis maskulin hingga bisa terlihat pada corak, Mega Mendung. Bagi masyarakat didaerah pesisir ini, pekerjaan membatik merupakan sebuah kelaziman bagi kaum lelaki.

Bebicara tradisi membatik, pada mulanya batik merupakan tradisi yang turun temurun dari masyarakat Jawa. Boleh jadi, terkadang untuk suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status ciri khas daerahnya, seseorang dan keindahan alamnya. 

Seperti di Bondowoso kebanyakan motif diambil dari daun tembakau dan singkong yang merupakan bahan pembuatan tape. Bahkan sampai saat ini, batik di Bondowoso dapat di jumpai secara langsung di tempat produksinya di Kecamatan Tapen Desa Batik Cindogo, Maesan, Tamanan, Cermee dan daerah Kota Bondowoso. 

Source http://www.surabayanewsweek.com/ http://www.surabayanewsweek.com/2017/02/eksintensi-batik-bondowoso-di-ajang.html
Comments
Loading...