Dwi Marfiana Ciptakan Batik Khas Demak

0 173

Dwi Marfiana Ciptakan Batik Khas Demak

Berbagai motif batik banyak diminati oleh masyarakat, namun dari sekian banyak batik belum tentu membawa ciri khas kedaerahan. Berbeda dengan pebisnis batik, Dwi Marfiana yang merupakan salah satu warga Desa Karangmlati, Kecamatan Bonang, yang terus mencoba mencari batik khas kedaerahan, khususnya Demak. Kota Demak merupakan wilayah pesisir, pertanian dengan nilai Islam yang tinggi akan menjadi satu kesatuan corak batik. Namun Demak juga masih beraroma Majapahitan, yang selalu membuat ibu satu anak ini terus bereksperimen menciptakan motif batik yang khas.

Ternyata upayanya membuat batik tulis banyak diminati, sehingga pembuatan batik  dapat memberikan lapangan pekerjaan baru di desanya. “Awalnya saya ingin melestarikan budaya batik, yang selanjutnya justru menjadi sumber mata pencaharian,” ungkap Dwi. Batik Demak lahir enam abad silam, namun seakan menghilang seiring perpindahan Kasultanan Demak Bintoro ke Pajang. Batik Demak mulai dirintis di wilayah pesisiran dan hasilnya luar biasa. Usaha Dwi ternyata tidak sia-sia, batik tulis Demak yang diusungnya dari motif nenek moyang dengan dipadukan ciri potensi daerah Demak perlahan mulai dikenal oleh beberapa pelanggan dari Demak sendiri, luar kota dan bahkan sampai ke mancanegara. Pada tahun 2006, dirinya merintis usaha batik, mencoba merangkul anak-anak putus sekolah untuk menerima keterampilan membatik. Dalam perkembangannya 15 anak berhasil pandai membatik, sehingga dibuatkan wadah sebagai perajin batik di Desa Karangmlati.

Kebanyakan peminat batik tulis karena pewarnanya menggunakan bahan alami seperti dedaunan, daripada pewarnaan dengan bahan sintetis. Bahkan beberapa turis menyukai pewarnaan batik ini hingga pelanggan dari golongan menengah keatas banyak yang memesan. Sekarang omzet batiknya mencapai Rp. 80 juta per tahun, bila ramai dalam sehari bisa mendapatkan Rp. 10 juta.

Dan pelanggan batik tulisnya hingga ke mancanegara, seperti Malaysia, Singapura dan Filipina dengan harga jual Rp. 100 ribu sampai Rp. 1,5 juta per potong dengan ukuran 2 meter. Batik tulis miliknya menonjolkan motif pesisiran dan corak Masjid Agung Demak, Jambu, Belimbing, Bledek dan sisik ikan atau binatang laut. Dari motif ini, membawanya ke Singapura, karena Kedubes RI di Singapura memamerkan batik tulisnya dalam Pekan Enchanting Indonesia 2011 yang bertujuan mempromosikan budaya Indonesia. Keberhasilan di Singapura membuatnya pernah ditawari untuk mengajar membatik di singapura, namun ditolaknya.

Source http://www.wargademak.com/ http://www.wargademak.com/2012/10/dwi-marfiana-ciptakan-batik-khas-demak.html
Comments
Loading...