Do & Don’t Gunakan Batik Fashion

0 92

Do & Don’t Gunakan Batik Fashion

Batik merupakan warisan yang ingin hidup bersama kita di saat ini. Terlahir dari tangan-tangan terampil pembatiknya, kekinian mengubah manfaat batik. Dari semula kain menjadi batik fashion. Berdasarkan sejarahnya, kain batik telah digunakan untuk kebutuhan manusia Indonesia dari lahir hingga kematian. Untuk keseharian, kain batik awalnya digunakan sebagai sinjang atau jarik. Maka motif kain batik selalu dibuat meyeluruh dalam satu-kesatuan ide dan tema. Seiring perkembangan zaman, kain batik tidak lagi menjadi bahan jadi tetapi juga bahan baku untuk fashion.

Seorang desainer fashion asal Kota Surakarta, Djongko Rahardjo, sempat menjelaskan bahwa pemotongan kain batik untuk busana akan menghilangkan makna motif yang terkandung di dalamnya. Maka memperlakukan kain batik ke dalam busana semestinya berhati-hati dan tidak ceroboh.

Batik Pohon yang berada di wilayah Kemang Jakarta Selatan pun punya cara memperlakukan kain batik untuk fashion sejak awal pembuatannya. Kain batik untuk fashion digambar berdasarkan pola busana yang dikehendaki sehingga tidak mengurangi dari esensi makna motif itu sendiri. Namun beda motif berfilosofi yang datang dari budaya Jawa (Solo dan Jogja), di wilayah pesisiran Jawa, motif pada kain batik umumnya dibuat naturalis dan nyaris tanpa simbol-simbol bermakna.

Misalkan saja pada batik Jawa Solo dan Jogja, untuk menggambar burung, digunakan bagian dari fisik burung tersebut misalkan hanya bagian kepala, ekor, atau sayap. Penggunaan per bagian itu sudah melambangkan makna tertentu. Di kain batik pesisiran, gambar burung bisa disajikan utuh tanpa analogi-analogi. Namun ada unsur agama yang berpengaruh dalam pembuatan gambar mahluk hidup hingga akhirnya gambar dibuat dalam bentuk stilasi.

Contoh stilasi yang terjadi pada motif batik dilakukan oleh Komarudin Kudiya, pemilik Batik Komar di Cigadung, Bandung, Jawa Barat. Terjadinya di motif Pegajahan yang asli asal Cirebon. Gambar hewan gajah disamarkan dalam bentuk stilasi, berpadu dengan motif wadasan (batu karang) khas Cirebon.

Soal motif batik yang simbolik mungkin bisa dijelaskan via motif truntum atau tumaruntum. Motif ini dibuat oleh Kanjeng Ratu Kencana, istri dari Sunan Pakubuwana III. Ketika suasana hatinya sedang gundah akan diduakan oleh suaminya karena belum memberikan anak, dirinya terinspirasi bintang-bintang yang menemani kesepiannya. Bunga tanjung yang punya bentuk dan wangi khas pun dipadukan dengan gemerlap bintang dan akhirnya melahirkan motif truntum. Kain batik buatannya diserahkan pada suaminya dan rasa cintanya bertambah hingga akhirnya mengurungkan niat menikah lagi dan memilih hidup bersama istrinya apapun adanya.

Motif batik yang lahir dari Solo dan Jogja terkait dengan makna yang terkandung di dalamnya. Seperti motif parang barong yang hanya boleh dikenakan raja. Minat batik pada era tersebut melahirkan motif keraton kombinasi yang dapat dinikmati oleh masyarakat luar keraton. Peran saudagar yang memproduksi batik keraton untuk konsumsi umum disebut juga dengan batik sudagaran.

Source https://www.batiklopedia.com/ https://www.batiklopedia.com/do-dont-gunakan-batik-fashion/
Comments
Loading...