Devi Sholecha Perdana Putri, Generasi Ketiga Pengusaha Batik Jetis Sidoarjo

0 60

Devi Sholecha Perdana Putri, Generasi Ketiga Pengusaha Batik Jetis Sidoarjo

Ada yang bilang menjalankan usaha warisan itu sangat gampang. Tinggal jalankan saja seperti yang dilakukan orangtua, usaha bakalan tetap maju. Namun, Devi Sholecha Perdana Putri tak sepakat dengan hal itu. Sebagai generasi ketiga penerus Batik Jetis Sidoarjo (BJS), menjalankan usaha warisan ayahnya, Nurul Huda (53), tak semudah membalikan telapak tangan. Tantangan sama beratnya seperti merintis usaha sendiri.

Pabrik BJS merek Al Huda di Perum Sidokare Asri AW No 18 sedang ramai aktivitas. Para pekerja sedang mencolet (memberi warna), menembok (menutup motif dengan lilin), menjemur, melunturkan lilin, hingga mengepak kain batik jadi. Di tengah kesibukan itu, Devi hadir dan menyapa ketika Surya bertandang, Sabtu (20/1/2018). Devi saat ini diberi amanah besar oleh sang ayah untuk mengelola Pabrik Batik Jetis Al Huda yang merupakan salah satu ikon BJS. “Kami lagi siap-siap mengirim pesanan batik,” kata Devi membuka pembicaraan.

Ayah Devi, Nurul Huda, telah menjalankan usahanya selama hampir 50 tahun. Diberi tugas untuk meneruskannya menjadi tanggung jawab besar bagi perempuan 24 tahun ini. Selain untuk menjaga trah sebagai keluarga batik, Devi juga diharuskan melestarikan dan mengembangkan usaha ini di tengah zaman digital agar tak mati. “Menjalankan usaha, baik itu rintisan atau warisan keluarga, tetap penuh dinamika. Semuanya sama-sama banyak tantangannya,” tutur Devi.

Kakek Devi, Munir Amari, menjadi keluarga pertama yang memulai usaha batik. Kemudian diteruskan ayahnya, Nurul Huda, yang semakin memopulerkan BJS. Sudah setahun ini Devi menjadi CEO Batik Al Huda. Mulai dari desain, pembuatan, hingga penjualan dan pembukuan, dilakukannya sendiri. Ayahnya hanya mengawasi, meski sesekali memberi nasihat dan masukan.

Kesulitan meneruskan usaha keluarga adalah nama besar orangtua. Para pelanggan belum terbiasa bahkan cenderung apatis menghadapi bos baru, meski itu adalah anak pemilik. “Para pelanggan sudah lama akrab dengan ayah. Jika tak bisa menjaga hubungan, mereka bisa lari,” sambungnya. Komunikasi secara personal dilakukannya untuk menjaga klien lama dan menggaet pelanggan baru. Cara ini ia pelajari dari sikap ayahnya melayani konsumen.

Pengaruh ayahnya memang melekat pada dirinya. Sarjana Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya ini juga mempelajari cara berkomunikasi dengan para pekerja. Hal kuat pada diri ayahnya memang komunikasi. Terhadap pelanggan, konsumen adalah raja, sedang kepada pekerja mereka dianggap mitra. “Seninya ayah juga memberi pengaruh ke saya,” ujarnya.

Kendati demikian, Devi tak serta-merta menjiplak semua apa yang sudah dijalankan ayahnya. Meski termasuk ikon batik Kota Delta, ayahnya masih tak tertata dalam hal pembukuan. Pun dalam hal pemasaran, ayahnya masih mengandalkan cara konvensional yaitu dari mulut ke mulut. Bagi Devi, hal ini menjadi ganjalan jika diteruskan. Apalagi zaman telah berubah dan konsumen ayahnya hanya sebatas kalangan tua. Sulung dari tiga bersaudara ini ingin agar BJS juga populer di kalangan anak muda. Untuk mewujudkannya, Devi merombak drastis segi desain serta promosi.

Sisi desain, Devi tak membuat ukiran-ukiran besar. Desain cecekan atau beras tumpah khas Batik Jetis ia ambil sedikit kemudian dibingkai dalam bentuk kotak-kotak, bulatan atau bola. Devi menerangkan anak-anak muda tidak terlalu suka dengan desain klasik yang menampilkan ukiran penuh. Sebisa mungkin desainnya tak menyerupai batik. “Penjualan pun saya coba promosi di sosmed. Hasilnya, 1:4 pembeli pasti dari anak muda,” ungkapnya.

Hilangkan Malu dengan Berorganisasi
Memegang kendali usaha batik terkenal di Sidoarjo bukan perkara mudah. Apalagi, Devi mengaku sebagai sosok yang pemalu. Sifat pemalu ini dirasa bakal menghalanginya. Untuk mengatasi hal tersebut, Devi ikut berbagai berorganisasi. Saat ini, Devi aktif sebagai Kompartemen Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Perbankan, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sidoarjo. “Pengusaha itu tidak boleh maluan. Harus berani,” katanya. Devi pun juga aktif mengajar batik kepada warga, turis, hingga pelajar. Semakin banyak bersosialisasi, lambat laun sifat pemalunya pudar.

Obsesi Bikin Butik
Batik Jetis Al Huda hanya ada Sidokare Asri saja. Namun, Devi ingin mengembangkan merek Al Huda menjadi merek butik. Untuk melangkah ke sana, Devi telah memulai membuat baju-baju jadi, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Ia pun menerima pesanan model baju apapun jika pelanggannya meminta.

Ini merupakan hal baru. Sebab, usaha ayahnya hanya membuat kain batik saja. “Ini pengembangan usaha. Dari hanya batik, kami pun sekarang membuat baju juga. Ke depan, saya ingin ada butik agar lebih maju lagi,” papar Devi. Untuk desain, Devi tak kesulitan. Ia merupakan lulusan SMKN 1 Buduran jurusan Tata Busana. Mendesain baju, merupakan hal mudah baginya. Inspirasinya datang dari mana saja. Namun, ia merasa lebih tenang ketika mencari inspirasi sambil jalan-jalan. Biasanya ke pantai atau ke gunung di sekitar Jatim. “Dari situ mampir ke pusat oleh-oleh sembari cari inspirasi desain baju dan batik. Idenya dapat, pikiran pun juga refresh,” ungkapnya.

Source http://surabaya.tribunnews.com/ http://surabaya.tribunnews.com/2018/01/20/devi-sholecha-perdana-putri-generasi-ketiga-pengusaha-batik-jetis-sidoarjo
Comments
Loading...