Denyut Kegigihan di Lendah, Desa Pengrajin Batik di Yogya

0 97

Denyut Kegigihan di Lendah, Desa Pengrajin Batik di Yogya

Ada banyak usaha kerajinan batik di desa-desa di Kabupaten Bantul dan Kulonprogo. Produksinya disetor ke Kota Yogyakarta sebagai pusat pemasaran industri/usaha tersebut.  Di Kabupaten Bantul terdapat dua sentra kerajinan batik. Wilayah Imogiri lebih dikenal sebagai batik tulis tradisional. Sedangkan di wilayah Dusun Pijenan, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak dikenal usaha batik cap dan batik kombinasi antara batik cap dan tulis. 

Di Kabupaten Kulonprogo, daerah yang menjadi sentra kerajinan batik ada di Dusun Sembungan Desa Gulurejo dan Desa Ngentakrejo Lecamatan Lendah. Letak dusun yang menjadi sentra batik di Lendah itu berada tidak jauh dari Sungai Progo atau sekitar 30 km arah barat daya Kota Yogyakarta. Awal mula desa tersebut menjadi sentra kerajinan batik, ketika para pembatik yang sebagian besar kaum wanita itu memilih kembali ke desa untuk bekerja di rumah. Mereka tetap menjadi pembatik di sela-sela kegiatan mengurus rumah tangga.

Dulu hingga tahun 1990-an pengrajin batik di Yogyakarta berpusat di kawasan Njeron Beteng Kraton Yogyakarta, Prawirotaman, Karangkajen, Mergangsan, Patangpuluhan, Tirtodipuran/Mantrijeron. Ribuan buruh batik baik wanita dan pria dari berbagai pelosok desa bekerja di kawasan tersebut. Saat industri batik mulai surut, mereka banyak yang kembali ke rumah atau desa. Dengan bekal keahlian saat bekerja pada para juragan batik tersebut, mereka berani membuat batik sendiri. Batik-batik tersebut kemudian disetorkan atau dijual kepada pengusaha batik di kota.

Menurut Sugirin, para wanita bekerja membatik atau nyanthing. Sedangkan yang pria menjadi bekerja sebagai tukang mewarnai kain batik. Pada tahun 2009 kata Sugirin, saat Bupati Kulonoprogo Hasto Wardoyo menggalakkan program Bela-Beli Kulonprogo, yakni untuk menggunakan produk buatan sendiri. 

Untuk mengangkat para pembatik tersebut, bupati membuat terobosan dengan menciptakan batik motif Geblek Renteng. Geblek adalah makanan khas Kulonprogo yang terbuat dari ketela yang dibuat bulat-bulat dan rentengan saat digoreng. Batik cap dengan motif geblek renteng ini, lanjut Sugirin, kemudian dipakai oleh semua siswa sekolah mulai SD, SMP dan para PNS se-Kulonprogo.

Menurutnya, batik Sembungan ada tiga macam, batik tulis, cap dan kombinasi antara tulis dan cap. Ratusan bekerja wanita bekerja di rumah-rumah pengrajin batik. Batik-batik tersebut selain dijual di Yogyakarta juga dikirimkan ke luar Jawa terutama Sumatera dan Kalimantan.Harga satu lembar kain batik juga terjangkau dan bervariasi mulai dari Rp 75 ribu hingga Rp 500 ribu. Hal itu tergantung kerumitan motif atau coraknya. Dia menambahkan para pengrajin batik di Sembungan juga terus berkreasi mencipta desain atau motif-motif baru sesuai selera pasar. 

Source https://news.detik.com https://news.detik.com/berita/d-3033833/denyut-kegigihan-di-lendah-desa-pengrajin-batik-di-yogya
Comments
Loading...