Dekranasda DIY : Penjualan Batik Printing dan Tulis Harus Dipisahkan

0 19

Dekranasda DIY : Penjualan Batik Printing dan Tulis Harus Dipisahkan

Semakin maraknya peredaran batik printing di pasaran, mendapat sorotan dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY. Edukasi kepada masyarakat pun dirasa perlu, agar perbedaan dengan batik tulis bisa lebih dipahami.

Ketua Dekranasda DIY, GKR Hemas, mengatakan bahwa untuk wilayah Yogyakarta, tingkat peredaran batik printing sejauh ini sudah cukup banyak.  Menurutnya, edukasi kepada masyarakat bisa dimulai dari para pedagang batik, baik kain maupun pakaian. “Jadi, Pemda DIY bisa mengimbau para pedagang, agar batik printing itu ditempatkan di konter tersendiri. Sehingga, masyarakat juga mendapat pembelajaran, bisa membedakan, mana yang batik printing, mana yang batik tulis,” katanya.

Seorang anggota DPD RI dari DIY itu melanjutkan, hal tersebut perlu dilakukan, guna menjaga pamor batik tulis. Bahkan, jika dirasa perlu, pemisahan antara batik printing dengan batik tulis itu, bisa diwujudkan menjadi sebuah aturan yang sifatnya mengikat. “Bukan dilarang ya, tapi bagaimana batik printing itu bisa dipisahkan. Makanya, kalau pengusaha selama ini masih mencampurnya, nanti tinggal siapa dari Pemda DIY, yang diberi tugas mengawasi perdagangan batik yang ada,” cetusnya.

Terlebih, selama ini, batik yang beredar tidak hanya berasal dari para pengrajin lokal saja, lantaran banyak pula yang merupakan buatan Pekalongan, Cirebon, Rembang, hingga Madura. Ia berharap, batik luar daerah bisa mendapat tempat yang baik.  “Yogyakarta ini kan menjadi pasar, termasuk bagi para pengrajin batik tulis dari daerah-daerah lain yang masuk ke sini. Karena itu, masyatakat harus mendapat pembelajaran, ini ada batik tulis, lalu yang ini batik printing,” terangnya.

Walau begitu, GKR Hemas meyakini, presentase peredaran batik tulis di Yogyakarta, masih lebih tinggi jika dibandingkan batik printing. Pasalnya, dengan kesan elegan dan ekslusif yang dimilikinya, batik tulis tetap menjadi incaran utama masyarakat. “Ya, di Yogyakarta masih lebih besar batik tulis, karena banyak orang yang mencarinya,” ucap permaisuri Keraton Ngayogyakarta tersebut.

Akan tetapi, ia mengakui, kalau harga batik tulis di Yogyakarta memang tergolong tinggi, lantaran sistem yang sudah berubah. Hal tersebut, berbanding terbalik dengan fenomena yang dijumpainya kala berkunjung ke Madura beberapa waktu lalu. “Saya lihat di Madura, batik tulis itu cukup murah. Saya ke sana kemarin, batik tulis itu ada yang seharga Rp 40 ribu per lembar, 2,5 meter. Mosok sih, Yogyakarta tidak bisa begitu,” tambahnya.

Menurut GKR Hemas, batik tulis bisa dijual murah di Madura, karena sistem tradisional dalam hal produksi dan perdagangan, masih diterapkan. Tambahnya, sistem serupa sejatinya pernah diterapkan di Yogyakarta, namun perlahan semakin terkikis. “Jadi, mereka masih pakai sistem pembuatan batik dengan dia menjual batiknya. Nah, sistem itu akan coba kita angkat di Yogyakarta, karena sistem tradisional yang masih dipakai di Madura itu sangat luar biasa,” pungkasnya

Source http://jogja.tribunnews.com/ http://jogja.tribunnews.com/2018/09/02/dekranasda-diy-penjualan-batik-printing-dan-tulis-harus-dipisahkan?page=2
Comments
Loading...