Dari Sekolah Perawat ‘Terdampar’ Jadi Desainer Batik Lamongan

0 46

Dari Sekolah Perawat ‘Terdampar’ Jadi Desainer Batik Lamongan

Lulus dari sekolah kesehatan dan sempat bekerja di luar negeri, siapa sangka jika wanita ini kini berprofesi sebagai desainer batik. Ia adalah orang yang berada di balik kesuksesan motif Bandeng Lele pada batik khas Lamongan. Namanya Esti Kholik. Esti mengaku sama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya bekerja sebagai desainer batik selepas lulus dari Sekolah Perawat Kesehatan (SPK).

Sebelum terjun dalam dunia batik khas Lamongan, Esti sempat bekerja di luar negeri. Namun tak lama di luar negeri, Esti memutuskan kembali ke tanah air. Saat itu ia sempat terpikir untuk melanjutkan profesi perawatnya. Ia pun banting setir menjadi penjahit pakaian setelah belajar kepada sang ibu yang memang berprofesi sebagai penjahit. Tak disangka dari situ Esti kebablasan.  Setelah 15 tahun menjadi penjahit, Esti mulai mencoba merancang motif batiknya. Esti mengaku ini karena saat menjahit, ia kerapkali diminta untuk menjahit kain yang kadang tidak sesuai antara pola jahitan dengan motif batiknya. 

“Dari pemikiran ini, saya kemudian mencoba mendesain batik khas Lamongan yang sekarang dikenal batik Bandeng Lele,” terangnya. Warga Jalan Kusuma Bangsa Gang Beringin Lamongan itu mengaku, desain batik miliknya memiliki beberapa kekhasan. Di antaranya bentuk atau motif khas Lamongan berupa gambar ikan Bandeng dan ikan Lele dan bukan gambar abstrak tentang Bandeng Lele. Selain itu, terdapat motif seperti gambar 3D dalam setiap karyanya sehingga terlihat nyata. “Saya memilih desain Bandeng Lele karena saya memang ingin agar motif Bandeng Lele bisa naik kelas,” ungkap Esti.

Ciri lain yang melekat pada desain batik Esti adalah tidak adanya motif yang sama untuk dua batik atau lebih. Esti yang mendesain batik dengan dibantu oleh suaminya, Nur Kholik ini mengaku selalu mendesain batik secara terbatas, yaitu desain batik sarimbit atau berpasangan. Lalu berapa harga batik khas Lamongan karya Esti? Esti menyebut harga batiknya tergantung motif dan bahan, dengan harga paling mahal mencapai Rp 1,5 juta. “Itupun juga biasanya dari warna dan motifnya juga kadang masih beda, kecuali pesanan tertentu yang harus dibuat banyak,” ujar Esti yang kini juga sudah punya 6 orang karyawan ini. 

Esti pun patut berbangga karena karyanya menjadi langganan pejabat Kabupaten Lamongan, bahkan pernah dikenakan oleh Gubernur Jatim, Soekarwo saat puncak peringatan Hari Koperasi beberapa waktu yang lalu. Ia juga pernah dipercaya untuk menjahit pakaian Gubernur Jatim terpilih, Khofifah Indar Parawansa. Kepala Dinas Koperasi dan UM Lamongan, Anang Taufik membenarkan kalau batik karya Esti sudah dipakai okeh sejumlah pejabat. Para pelanggan Esti biasanya adalah para pejabat yang dulu atau sekarang masih berada di Lamongan yang akhirnya memasarkan produk Esti dari mulut ke mulut. “Untuk desain batik milik Ibu Esti ini juga kami pamerkan dan pasarkan di Lamongan-Mart bersama beberapa desain batik dan produk UKM Lamongan lainnya,” terang Anang. 

Source https://news.detik.com/ https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4163458/dari-sekolah-perawat-terdampar-jadi-desainer-batik-lamongan
Comments
Loading...