CHI Award 2018, Penghargaan Pahlawan Batik

0 53

CHI Award 2018, Penghargaan Pahlawan Pelestari Batik

PAHLAWAN kini tak hanya disematkan bagi seseorang yang berjuang di medan perang, namun gelar Pahlawan juga bisa disematkan bagi orang-orang yang berjuang mengabdi terhadap kelestarian wastra nusantara, salah satunya batik. Banyak yang tidak tahu bahwa di balik proses diciptakannya batik, ada pejuang canting, malam, dan pembuat kain batik. Tepat pada hari Pahlawan Nasional, Sabtu (10/11/2018), Yayasan Al-Mar menginisiasi sebuah penghargaan untuk para pejuang atau pelestari batik bertajuk The Culture Heritage Indonesia atau CHI Award 2018 yang berlangsung di La Moda, Plaza Indonesia, Jakarta.  

Ada empat kategori yang berhak mendapatkan penghargaan, yaitu kategori pelestari, penerus, inovator, dan penghargaan khusus (Legacy). Dalam menyukseskan kegiatan ini, para tokoh yang sangat cinta batik ikut terjun sebagai dewan pemerhati. Di antaranya, Neneng Iskandar dari Wastraprema, Musa Widyatmojo sebagai perancang mode Indonesia, William Kwan sebagai pengamat wastra batik, Insana Ilham Habibie sebagai kreator batik, dan Wiwit Ilham Panjaitan sebagai Inisiator dan Pendiri CHI Heritage Warisan Budaya Indonesia.

Ketua Pelaksana CHI Award 2018, Ayu Dyah Pasha menuturkan, Kepedulian CHI pada kelangsungan warisan budaya Indonesia ini antara lain dituangkan dalam bentuk pemberian penghargaan pada para pahlawan warisan budaya Indonesia yang untuk kali pertama diberikan akan difokuskan pada para pejuang di balik bertahannya industri batik.

Ayu Diah Pasha menambahkan, meski batik telah diakui menjadi warisan budaya tak benda versi Unesco sejak 2 Oktober 2009 sekaligus 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional, namun batik punya masalah yang kompleks, yakni populasi pembuat canting sangat sedikit. Hal senada juga disampaikan Perancang mode Indonesia Musa Widyatmodjo, bahwa selama ini para perajin di balik proses karya batikseringkali terlupakan. Misalnya perajin canting tulis, perajin malam, dan perajin canting cap. 

Untuk itu, CHI Awards 2018 ini bertujuan agar masyarakat Indonesia sadar bahwa dari 260 juta rakyat Indonesia, ternyata hanya sebagian kecil yang masih bertahan banting tulang untuk batik. Untuk menentukan penerima penghargaan dari setiap kategori, dibentuklah tim yang melakukan kurasi dalam proses yang cukup panjang sejak Juli 2018, hingga akhirnya memutuskan nama-nama terpilih yang berhak mendapatkan penghargaan. Dari kategori pelestari ada Aris Gunadi sebagai pengrajin malam, Agus Sriyono perajin canting cap, dan Chuzazi perajin canting tulis.

Kemudian kategori penerus, yaitu Widianti Widjaja, yakni generasi ketiga dari batik Oey Soe Tjoen yaitu duta batik peranakan. Kategori inovator yaitu Nur Cahyo dengan karya batik empat warna Passima. Terakhir, kategori penghargaan khusus diberikan kepada Go Tik Swan (Panembahan Hardjonagoro) yang diwakili oleh H. Hardjo Suwarno dan Hj. Supriyah Anggriyani. Go Tik Swan adalah orang yang mendapat tugas dari Presiden Pertama Soekarno untuk membuat batik Indonesia. Batik hasil perkawinan batik klasik keraton, gaya batik Surakarta dan Jogjakarta dengan batik gaya pesisir utara Jawa Tengah, utamanya Pekalongan.

Generasi Penerus

Salah satu penerima penghargaan, Azis yakni anak dari Chuzazi pembuat canting tulis berharap ada generasi selanjutnya yang meneruskan membuat canting tulis. Aziz menuturkan, satu canting dijual seharga Rp 5.000 dengan kapasitas produksi 200 buah sehari yang dibuat hanya 2 orang. Canting-canting tulis tersebut ia pasarkan ke sejumlah daerah di Jawa Timur, yaitu Surabaya dan Madura, serta Jawa Barat di Cirebon dan Banten. Aziz mengatakan, kesulitan pembuatan canting tulis dari segi pembuatan jarum cucuk dan pembakaran finishing akhir.

 

 

Source http://wartakota.tribunnews.com http://wartakota.tribunnews.com/2018/11/13/chi-award-2018penghargaan-pahlawan-pelestari-batik?page=3
Comments
Loading...