Cerita Pencetus Kerajinan Batik di Raja Ampat

0 25

Cerita Pencetus Kerajinan Batik di Raja Ampat

Ia seorang pencetus batik dari Raja Ampat. Berawal dari cita-cita orang tuanya yang ingin melestarikan kesenian di Raja Ampat. Ia mulai merintis dari nol untuk membuat batik Raja Ampat. Gelar Batik Nusantara dihelat pada 24 Juni – 28 Juni 2015. Terlihat gerai batik Raja Ampat yang posisinya bersebelahan dengan batik Papua. Terlihat dua orang perempuan yang perlahan menggoreskan tinta batik di atas kain putih. Kedua mata mereka fokus ke kain putih. Kedua tangannya mulai membuat motif.

Datang seorang pria yang diketahui bernama Chanry Andri Suripati (38) menghampiri. Ia menceritakan bagaimana awal mula dirinya membangun batik di Raja Ampat. Jika batik dari Papua dibina oleh Freeport, tidak untuk batik dari Raja Ampat. Mereka membangun kerajinan batik di Raja Ampat dari hasil kerja keras mereka sendiri. Ia mengembangkan batik Raja Ampat bersama pasangannya, Adriana Imelda Daat (36). Itu semua berawal dari cita-cita kedua orang tua Adriana yang ingin melestarikan kesenian Raja Ampat. Sayangnya cita-cita kedua orang tuanya itu belum terwujud.

Chanry dan Adriana berjuang berdiri sendiri untuk membangun kebudayaan Raja Ampat dengan membuat batik. Berdua mulai mencetuskan batik Raja Ampat pada 2011 lalu. Chanry ingin ada pengembangan ekonomi kreatif di sekitar kampung-kampung tempat tinggalnya. Setiap masyarakat di kampung-kampung khususnya wanita, bisa memanfaatkan waktu luang mereka untuk mengembangkan batik Raja Ampat. Berawal dari empat pengrajin yang berasal dari keluarga dekat istrinya. Akhirnya batik Raja Ampat mendapat dukungan dari pemerintah daerah, meski biaya tak sepenuhnya berasal dari pemerintah daerah.

Total pengrajin yang masih aktif ada enam. Mereka ada yang ibu rumah tangga, ada yang bertani, ada pula yang membuat kerajinan tangan lain. Saat ini pusat pemasaran mereka ada di rumah tempat mereka membatik di Raja Ampat. Kini mereka juga membuka ruko di kota Sorong yang mereka buka dari biaya pribadi. Meski begitu Chanry memaparkan masih alami kesulitan mengenai bahan batik, sehingga masih memasok dari Solo. Mereka sudah menciptakan kain hanya saja masih terkendala bahan. Kalau bahan belum bisa didatangkan dari Solo, biasanya mereka mengirimkan kain yang sudah di canting. Tapi kalau ada bahannya mereka buat sendiri.

Batik-batik yang mereka buat dijual dengan harga yang beragam, ada yang Rp 750 ribu, Rp 5 juta, Rp 10 juta tergantung kualitas kain dan motif dari batik itu. Batik khas dari Raja Ampat biasanya bercorak biota laut dan sumber daya alam dari laut. Ikan, rumput laut, bintang laut, kerang, dan motif kupu-kupu menjadi ciri khas batik Raja Ampat. Sedangkan motif suling tambur menggambarkan adat-istiadat setempat. Untuk pembagian hasil dengan para pengrajin batik di Raja Ampat. Mereka masih menggunakan pembagiaan kekeluargaan.

Source http://www.tribunnews.com/ http://www.tribunnews.com/nasional/2015/06/25/cerita-pencetus-kerajinan-batik-di-raja-ampat?page=2
Comments
Loading...