infobatik.id

Cerita Para Penggagas Batik Khas Kota Hujan

0 10

Cerita Para Penggagas Batik Khas Kota Hujan

Kota Bogor memiliki corak khas pada olahan kain yang dilukis secara tradisional ini. Seiring perlambatan ekonomi, pengrajin batik harus memutar otak agar industri bertahan, budaya tetap lestari. Para pengusaha batik khas Bogor dari tahun ke tahun jumlahnya terus bertambah. Tiga di antaranya yang cukup populer adalah Sri Ratna Handayani Budhie dengan corak khas Batik Bogor Handayani Geulis, Siswaya dengan corak khas Batik Bogor Tradisiku, dan duet pasutri Suwondo dan Mitha Suwondo dengan Batik Anggun. “Kita selalu mencoba berpikir positif. Batik ini menjual ide kreatif. Apa yang bisa dikurangi (produksi), kita kurangi,” tutur Ratna Handayani Budhie.

Meski begitu, alumni Sastra Perancis Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mengaku tak terlalu merisaukannya. Ia percaya, batik memiliki tempat khusus di masyarakat Indonesia. Semisal saja acara-acara formal sederhana hingga seremoni Kenegaraan. Batik tak akan terganti. Ratna sedikit mengulas sejarah dirinya mengawali bisnis menggali potensi budaya. Dia menyebut, geliat batik di Kota Bogor mulai ramai di era 2000-an. Itu pun masih dengan corak khas daerah lain seperti Jawa Tengah dan luar Jawa. Hingga Desember 2011, Ratna memutuskan untuk terjun ke dunia batik dengan membuat corak khas Kota Hujan. Itu menjadi tantangan tersendiri baginya. Selama ini, sepengetahuannya, tak ada corak batik khusus dalam tradisi Kota Bogor.

Ketertarikan pada batik sudah tertanam sejak masih remaja. Kerabatnya juga seorang pembatik di Solo, Jawa Tengah. Terlebih sejak UNESCO menetapkan batik sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, 2 Oktober 2009. Kala itu hasratnya menggeluti batik makin menggebu. Hingga kini, wanita yang memiliki galeri batik di Komplek Bogor Baru Taman, Jalan Cimandiri itu sudah menciptakan 35 motif batik sejak 2011. Beberapa di antaranya yakni motif Cepot, Bogor Pisan, Patepung Lawung, Laksana Sapaneja, Tunggul Kawung, Kalingga Murda, Kijang Papasangan, Papatong Duduaan, Istana, dan Daun Tales. “Motif-motif batik ini memiliki makna tersendiri. Saya ambil dari kearifan lokal dan potensi budaya Bogor. Motif Tilu Sauyunan (tiga serangkai), memuat bunga bangkai khas bogor (amorphophalus titanium), lalu Daun Talas dan Kujang. Kalau motif Batik Kujang saya ambil dari Tugu Kujang. Ide awalnya dari saya, lalu dilanjutkan tim desain,” imbuhnya.

Batik bukan sekadar gambar, tetapi memiliki makna dan filosofi. Karenanya ia berharap para generasi muda sudi mewarisi dan melestarikan budaya bangsa yang sudah diakui dunia internasional ini. Semangat yang sama ditunjukkan penggagas Batik Bogor Tradisiku, Siswaya. Ia berharap para pembatik mau lebih meningkatkan kualitas bahan, warna, serta desain. Itu agar batik bisa mudah diterima di kalangan muda yang haus inovasi. Dengan cara itu lah akan bisa menjaga kelestarian batik ini dari serbuan pakaian luar. Yang dari Tiongkok itu bukan batik, tapi tekstil bermotif, dan itu sudah ada di Jakarta, Bogor dan kota-kota lain.

Kekhawatiran Siswaya bukan tanpa alasan. Tekstil bermotif batik buatan Tiongkok makin membanjiri pasar-pasar tradisional. Tanpa pengawasan dan kepedulian pemerintah, batik asli daerah yang ditulis tangan menggunakan canting bisa kalah bersaing. Siswaya mengawali usaha batik pada 2008 lalu. Kala itu, ia mengajak beberapa pelukis batik ke Kota Hujan. Bersama mereka, Siswaya menggagas batik-batik khas Kota Bogor yang mengadopsi kearifan lokal. Sejak 2008  lalu itu, sudah 90 motif batik yang dia ciptakan. Motif tersebut merupakan kreasinya sendiri dan juga masukan dari kerabat di Kota Hujan. Terutama dari para seniman dan budayawan. Di antaranya motif hujan gerimis, dan senjata Kujang. Ada juga motif Sempur Timbul, yang terinspirasi dari banyaknya bunga Sempur di tepian Lapangan Sempur, Bogor Tengah. Ada lagi motif Gunung Salak, Istana Bogor dan Batu Tulis.

Source http://jabar.pojoksatu.id/ http://jabar.pojoksatu.id/bogor/2015/10/02/cerita-para-penggagas-batik-khas-kota-hujan/
Comments
Loading...