Cerita Di Balik Selembar Kain Batik

0 44

Cerita Di Balik Selembar Kain Batik

Membuat batik memerlukan pengelolaan emosi, berupa gabungan kesabaran, cita rasa dan intuisi dalam keheningan hati. Bagi pembatik, untuk dapat berkarya tentu dibutuhkan seperangkat pengetahuan tentang seluk beluk batik, mulai dari pengetahuan tentang ragam rias berikut maknanya, pakemnya, hingga pengetahuan teknis soal proses pembuatannya. keseluruhan pengetahuan ini bersumber pada sistem pengetahuan budaya lokal yang diperoleh melalui proses interaksi sosial lingkungannya dan diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Inilah mengapa batik kerap disebut sebagai sebuah warisan budaya, karena terjadi proses transfer warisan pengetahuan yang selalu diturunkan kepada pembatik generasi selanjutnya. Kain batik adalah kain yang memiliki tampilan berupa gambaran yang muncul sebagai akibat dari proses batikan. Gambar-gambar tersebut dihasilkan melalui proses yang terdiri atas pembubuhan malam dengan menggunakan canting tulis atau canting cap (proses nglengreng) yang selanjutnya dilakukan pemberian warna melalui proses pencelupan dalam cairan zat pewarna (proses ngobat).

Corak pada kain batik yang penggambarannya dilakukan dengan canting tulis, disebut batik tulis. Sedangkan motif yang penggambarannya dilakukan dengan menggunakan canting cap, disebut batik cap.  Untuk menjalankan tiap tahapan dalam proses membatik diperlukan keterampilan tangan yang cekatan, yang umumnya dipelajari secara turun-temurun. Dengan demikian kegiatan membatik dapat kita kategorikan bersama sebagai perilaku tradisi budaya.  Ragam corak dan warna batik dipengaruhi oleh berbagai faktor dari dalam budaya Indonesia serta asing. Batik di lingkup keraton memliki ragam corak dan warna yang terbatas, khusus untuk beberapa corak tertentu bahkan hanya dapat digunakan oleh kalangan status sosial terbatas. Namun dengan berjalannya waktu, batik dari ranah pesisir mulai menyerap berbagai pengaruh dari luar, karena pada dasarnya masyarakat pesisir memang lebih terbuka.

Mereka mendapatkan pengaruh dari para pedagang asing yang melakukan perdagangan, penjajah yang datang sehingga menjadi sebuah hasil akulturasi. Sebagai contoh, warna cerah seperti merah terang dipengaruhi oleh pendatang dari Cina. Masyarakat Tionghoa juga turut mempopulerkan corak burung merak dan naga sedangkan bangsa Eropa yang menjajah nusantara memberikan warna dominasi biru cerah hingga biru tinta.

Selembar kain batik juga menyimpan cerita di balik motifnya. Seperti contoh motif batik kumpeni yang berasal dari Cirebon, menggambarkan situasi kehidupan masyarakat Cirebon di bawah jajahan Belanda pada saat itu. Cerita lainnya berasal dari tanah pasundan, tepatnya kota Garut yang juga terkenal dengan batik motif MerakNgibing-nya. Motif ini terinspirasi dari pesona burung merak yang kerap memamerkan kecantikannya. Cerita batik lainnya yang selalu membuatku kagum adalah bagi pembatik, kegiatan membatik kerap diiringi dengan kegiatan nembangbabacaan atau sholawatan. Sembari membatik, biasanya para pembatik kerap melantunkan ayat-ayat suci ataupun puji-pujian dengan harapan agar si pemakai kain batik selalu diberikan keselamatan dan kesehatan. Melihat banyaknya cerita di balik selembar kain batik kian menyadarkanku bahwa kegiatan membatik adalah sebuah “nafas” bagi para pembatik yang tidak hanya digunakan untuk meneruskan tradisi leluhur, namun juga sebagai penopang untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Source http://permanarikie.blogspot.co.id/ http://permanarikie.blogspot.co.id/2013/01/indonesia-kreatif-indonesia-berbatik.html
Comments
Loading...