Cerita Canting di Atas Batik Pesisir

0 39

Cerita canting di atas batik pesisir

Jika batik keraton hadir dengan tampilan yang tegas dan elegan, sarat filosofi seperti para penghuninya, maka batik pesisir adalah kebalikannya. Lahir di luar tembok keraton membuat tampilan batik pesisir lebih liar dan berani, baik dari sisi warna pun motif.

Gambar beragam jenis tanaman, bunga, burung, ikan, hingga naga dilukis dengan begitu manis di atas kain. Warnanya dibuat tak mengenal batas. Merah terang, hijau, biru, cokelat, semua lengkap ada pada setiap helai batik pesisir yang dibuat tangan-tangan terampil.

Istilah batik pesisir tersebut sebenarnya muncul karena mayoritas para pengrajin batik ialah mereka yang mendiami daerah pesisir pantai, khususnya pantai bagian utara di Jawa Tengah. Karena letaknya yang dekat dengan pantai sebagai jalan masuk bangsa lain, coraknya pun banyak terinjeksi budaya luar.

Budaya Tiongkok atau yang biasa disebut budaya peranakan paling kental terlihat dalam setiap coraknya. Burung hong (phoenix), liong (naga), kupu-kupu, kilin, dan banji (swastika atau simbol kehidupan abadi) yang banyak terdapat di permukaan guci klasik bangsa Tiongkok pun turut jadi inspirasi.

Ada juga corak ala India atau Eropa yang biasanya berupa aneka flora yang selama ini tak dikenal di tanah air. Budaya bangsa Arab turut menyumbang corak unik berupa kaligrafi yang kerap ditorehkan pada kain-kain batik pesisir.

Canting-canting berisi malam yang bergerak mengikuti selera hati serta apa yang dilihat mata ini melahirkan karya yang luar biasa.

Tak heran jika apa yang dibuat mereka yang tak berhak pun mampu mengenakan batik keraton ini mendapat perhatian khalayak. Bukan hanya masyarakat pesisir, namun juga para saudagar bangsa lain yang pada zamannya kerap wira-wiri di sepanjang pesisir Jawa.

Ya, dari sepenggal ceritanya saja batik pesisir punya keunikan yang membangkitkan rasa penasaran. Cirebon, Indramayu, Kudus, Lasem, Pekalongan, Tuban dan beberapa daerah lain jadi daerah yang sering kali disebut sebagai pusatnya pengrajin batik pesisir tercantik.

Berangkat dari rasa penasaran itu, perjalanan menyusuri daerah pesisir pun dimulai demi mengulik batik pesisir dari akarnya.

Perjalanan diawali dari kota perbatasan Jawa Barat dan Jawa Timur, Cirebon.

Matahari di kota udang ini rasanya lebih besar dan panas ketimbang Jakarta. Panasnya bisa mencapai lebih dari 30 derajat Celcius.

Namun teriknya yang menggigit, serta udara yang begitu lembap tak menghentikan langkah kami mencari kisah dan berburu gambar cantik dari batik Cirebon.

Perjalanan kami terhenti di depan komplek Batik Trusmi yang tersohor sebagai pusat belanja batik. Di sana kami disambut bangunan besar butik Batik Trusmi. Kami pun terus berjalan menelusuri gang-gang sempit di belakangnya.

Di balik tembok kompleks kesohor itu banyak pengrajin batik rumahan yang kerap membatik santai di teras rumah mereka. Sampailah kami di depan rumah dengan plang besi bercat merah dengan tulisan “Masniri”.

Rumah itu kira-kira bertipe 45 dengan model sederhana tanpa pagar, di terasnya tampak dua perempuan berusia sekitar 60 tahunan. Keduanya begitu tekun, dalam sabar menggores canting di atas selembar kain yang masih tampak polos.

Ternyata keduanya ialah para pekerja Nenek Masniri, sang pemilik jenama Masniri. Perempuan yang biasa disapa Nenek oleh para karyawannya ini masih terlihat cukup gesit untuk seusianya. Dengan ramah ia mengajak kami masuk, duduk lesehan sambil menikmati air dan pisang emas yang telah disediakan, tanpa bertanya maksud dan tujuan kami datang ke sana.

Tanpa ditanya juga, ia menjelaskan dengan raut muka sumringah satu persatu corak kain yang dijajarkan memenuhi dinding tokonya. Rasa cintanya terhadap batik, ia ungkapkan menjadi alasannya mendirikan toko tersebut.

Di sana terpampang motif mega mendung yang sudah sangat dikenal sebagai motif kebanggaan Cirebon. Ada pula berbagai coretan canting membentuk berbagai jenis flora dan fauna dalam ukuran besar dan jelas, tanpa terlalu banyak detail rumit. “Batik Cirebon warnanya cantik-cantik, motifnya besar-besar. Mulai dari merah sampai indigo bisa dibikin.” jelas Nenek.

Warna dan corak ini sebenarnya dipengaruhi juga oleh budaya luar serta masuknya agama Islam yang dibawa oleh Sunan Gunung Jati pada abad ke-16. Saat itu, pelabuhan Muara Jati yang jadi tempat persinggahan pedagang Tiongkok, Arab, Persia, dan India jadi gerbang menyeruaknya berbagai budaya tersebut.

Apalagi setelah Sunan Gunung Jati menikah dengan Putri Ong Tien yang kerap membawa pernak pernik pribadinya yang khas Tiongkok, menambah kentalnya budaya Tiongkok pada setiap sudut kain batik Cirebon.

Sayangnya tak berapa lama, para ulama Islam melarang penggunaan gambar figur pada kain batik sehingga terciptalah gambar-gambar non figuratif sebagai alternatif. Namun, hal tersebut tampaknya tak berlangsung lama.

Buktinya kini beragam motif tetap menjadi daya tarik kain tersebut. Tak hanya flora dan fauna, bahkan ada sebentang kain yang dipajang di sana bergambar para tentara lengkap dengan tank serta kuda dan bendera, yang menggambarkan situasi pada masa peperangan kala itu.

Sekilas batik Cirebon dan Lasem terlihat memiliki banyak kemiripan. Salah satunya ialah penggunaan motif tanaman dan bunga-bungaan di sana sini.

Asimilasi budaya yang kental, seperti halnya pada batik Cirebon, juga terlihat pada batik Lasem.

Dahulu, kaum imigran bangsa Tiongkok dipercaya menginjakkan kakinya pertama kali di tanah Jawa melalui kota kecil yang berjarak 12 kilometer dari Rembang ini. Lasem yang berada di Jawa Tengah pun disebut-sebut sebagai “Tiongkok Kecil”.

Kontak bangsa Tionghoa dan Jawa pada batiknya membuat batik Lasem terasa begitu klasik. Kemajuan zaman tampak tak membuatnya terusik. Satu hal yang membedakan ialah warna merah pada batik Lasem yang serupa darah ayam.

Fadli, salah seorang pekerja di Pusaka Beruang, sempat mengatakan kepada kami sambil mengajak berkeliling di antara para pembatik yang sedang asyik menoreh canting di atas kain sore itu. “Namanya ‘abang getih pitik’,” jelasnya sewaktu kami menanyakan warna apa yang khas dari batik Lasem.

Abang dalam bahasa setempat berarti merah, sedangkan getih pitik ialah darah ayam. Ya, warnanya memang menyerupai darah ayam yang segar dan kental berwarna merah terang tetapi pekat. Konon, tak ada daerah lain yang dapat menyamai merah darah ayam milik Lasem tersebut.

Pusaka Beruang sendiri adalah jenama batik yang dirintis Santoso, pengusaha batik yang cukup ternama di Lasem.

Lain Cirebon, lain Lasem, pun Kudus. Kota ini memiliki cerita yang berbeda. Saat saya memasuki sebuah galeri batik di Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Majapahit, Kudus, terlihat beberapa muda-mudi berusia belasan hingga awal dua puluhan sedang sibuk dengan batiknya masing-masing.

Ada yang menggambari kain dengan pensil, ada pula yang terlihat luwes melukiskan malam di atas mori. Berbeda dengan beberapa kota sebelumnya yang seolah mengamini bahwa batik memang akrab dengan perempuan paruh baya.

Sembari mengamati pembatik muda itu, teringatlah saya pada cerita orang tua. Dahulu kota yang berjarak sekitar dua jam perjalanan dari Lasem ini merupakan kota yang sangat terkenal dengan batiknya yang cantik. Di Kudus, batik bahkan dijadikan mata pencaharian oleh nyaris seluruh penduduknya.

Batik Kudus memiliki ciri khas berupa pola yang rumit, halus beserta isen-isennya . Biasanya, latar gambar pada kain berupa bintik-bintik kecil serupa biji mentimun dan cengkih. Lalu ada burung merak, anggrek katleya hingga kaligrafi yang dilukis di atasnya.

Fadloli, selaku salah satu budayawan batik Kudus sempat membagi cerita soal batik pada kami. Kala itu kami menyambanginya di Galeri Amba Budaya Batik Kudus. “Kaligrafi merupakan salah satu motif pertama yang dikreasikan sebagai corak batik waktu itu,” tuturnya.

Motif ini masuk bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah Kudus pada abad ke-14 yang dibawa oleh Sunan Kudus (Syech Dja’far Shodiq) dan Sunan Muria (Raden Umar Said). Motif ini pun kini menjadi motif yang kuno dan sudah jarang dibuat.

Salah satu motif yang juga sangat bersejarah di Kudus adalah motif kapal kandas. Menurut sejarah, ada kaitannya dengan sejarah kapal dampo awang milik Sam Poo Kong yang kandas di Gunung Muria saat terjadi perdebatan antara Sunan Muria dengan Sam Poo Kong.

Industri batik di Kudus kian marak, malah batik dijadikan sumber pencaharian masyarakat Kudus kala itu. Namun, sekitar tahun 1960-an, masuklah pabrik kretek yang membuat banyak orang berpaling.

Pasalnya, di pabrik para pekerja bisa mendapatkan uang per hari atau per minggu. Sangat cepat, berbeda dengan mengerjakan batik yang baru menghasilkan uang ketika kain terjual.

Industri batik pun perlahan tapi pasti mulai kehilangan tangan-tangan terampilnya. Batik sempat hanya jadi sebentang kain cantik yang membuat lesu dapur-dapur masyarakat Kudus.

Berpuluh tahun setelah itu, tepatnya pada awal 2000-an, Galeri Amba Budaya Batik Kudus didirikan. Mereka merangkul masyarakat Kudus untuk kembali berkarya di atas kain. Kali ini kaum muda–dengan semangat memperjuangkan warisan bangsa–yang diajak ikut serta.

Sekitar 50 orang dibimbing melalui pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh para pembatik senior. Mereka diajarkan untuk mencintai batik seperti para leluhur yang menganggap batik sebagai warisan budaya penting.

Mereka juga diajarkan bahwa batik bisa kembali dijadikan mata pencaharian. Apalagi kini batik sedang diburu banyak orang, dipamerkan di atas panggung mode di berbagai belahan dunia.

Meskipun masih terbilang baru, tetapi usaha ini cukup terlihat hasilnya. Untuk mengenang lesunya batik Kudus karena pabrik kretek pun, terciptalah batik dengan motif kretek.

Kain tersebut memperlihatkan bagaimana para pekerja membuat kretek, mulai dari memilah tembakau hingga menggulungnya menjadi kretek sempurna. Pada bagian latarnya, ditebar ribuan cengkih yang membuat kreasi batik kretek terlihat persis seperti batik Kudus pada mulanya, halus, sarat detail dan menyimpan sejarah.

Source https://beritagar.id/ https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/cerita-canting-di-atas-batik-pesisir
Comments
Loading...