Cerita Batik Rifaiyah Batang yang Bikin Gubernur Jateng Merinding

0 7

Cerita Batik Rifaiyah Batang yang Bikin Gubernur Jateng Merinding

Namanya Batik Rifaiyah. Asalnya dari Batang, Jawa Tengah (Jateng). Seperti batik lainnya, makna filosofis terkandung pada batik yang dikagumi Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

“Saya penggemar dan kolektor batik dari seluruh Indonesia. Akan tetapi, ada yang menarik pada batik Rifaiyah, yaitu yang nyolet sambil mengumandangkan shalawatan sehingga ada nuansa spiritualitasnya,” katanya setelah menutup kegiatan Batang Expo 2018 di Batang.

Batik Rifaiyah pada dasarnya bermotif batik tiga negeri yang memiliki detail padat. Tak mengherankan bila harga batik tersebut cukup mahal. Pemburu batik itu tak hanya berasal dari dalam, tetapi juga luar negeri.

Ketua Kelompok Tunas Harapan Batik Rifaiyah Miftakhutin, beberapa waktu lalu mengatakan, batik Rifaiyah merupakan warisan dari nenek moyang keturunan Syekh KH. Ahmad Rifai dari Desa Kali Pucang Wetan, Kecamatan Batang.

Menurut sejarah, proses pembuatan batik ini sebagai media untuk syiar agama Islam pada zaman dahulu. Ada ritual yang biasa dijalankan sebelum membatik, yakni dengan salat Duha terlebih dahulu.

“Membatiknya sering kali diiringi kidung syair berbahasa Jawa dan Arab yang berisi nasihat kepada manusia dan lingkungan alam semesta,” ucap Miftakhutin di Galeri dan Workshop Batik Rifaiyah Desa Kalipucang Wetan Batang.

Ia menambahkan, batik Rifaiyah sudah mengalami akulturasi batik dari daerah lain. Di antaranya, batik Lasem yang dominan warna merah, batik Solo dominan warna cokelat, dan batik Rifaiyah sendiri yang dominan warna biru indigo.

“Dari pencampuran tadi, memunculkan jenis batik baru yang diberi nama batik tiga negeri khas Rifaiyah dan sudah dikembangkan turun-temurun,” kata perempuan yang merupakan pembatik setempat generasi kelima.

Ia menjelaskan, ciri khas batik Rifaiyah tiga negeri, yakni larangan penggambaran motif hewan secara utuh pada lembaran kain. Alasannya, mereka meyakini menggambar makhluk hidup itu berdosa.

Adapun proses pembuatannya membutuhkan waktu minimal tiga minggu, ada yang dua bulan, bahkan enam bulan untuk sehelai kain. Atas kerja keras pembatik, kain batik Rifaiyah termurah adalah Rp 350 ribu. Itu pun untuk batik kasar.

“Untuk batik sedang mencapai Rp 4 juta, batik halus dijual Rp 6,5 juta, dengan pemasaran seluruh Indonesia, Singapura, Malaysia, India, dan Korea, Jepang, Yunani, Amerika, Swedia,” tuturnya.

Menurut dia, batik Rifaiyah murni merupakan batik tulis. Warga tidak mau mengubahnya menggunakan mesin karena demi mempertahankan tradisi, sehingga hanya melayani pesananan terbatas.

“Kami membatik bukan menjadi bagian hidup, karena kalau secara ekonomi tidak memungkinkannya. Semangatnya hanya mempertahankan tradisi dan warisan leluhur,” tutur dia.

Source https://www.liputan6.com https://www.liputan6.com/lifestyle/read/3657364/cerita-batik-rifaiyah-batang-yang-bikin-gubernur-jateng-merinding?source=search
Comments
Loading...