Cerita Aryo Setiawan, Pengusaha Batik yang Mempekerjakan Difabel

0 38

Cerita Aryo Setiawan, Pengusaha Batik yang Mempekerjakan Difabel

Aryo Setiawan punya kiat untuk mengangkat taraf hidup penyandang disabilitas. Mereka diberi pelatihan keterampilan, lalu diajak untuk terlibat dalam rumah produksi batik. Saat keluar, mereka bisa membuka lapangan kerja mandiri.

Cara Aryo Setiawan memberikan arahan kepada karyawannya pekan lalu tampak tidak biasa. Dia tidak bertutur layaknya majikan-majikan pada umumnya. Dia menggunakan bahasa isyarat.

Jari-jarinya bergerak, menunjukkan arahan yang dimaksud. Kedua matanya memperhatikan tatapan pegawainya. Roman muka pegawai dia perhatikan baik-baik.

Rupanya, arahannya belum jelas. Dia mengambil handphone dari saku celana, lantas mengetikkan beberapa kalimat. Dengan sabar, dia memberikannya kepada karyawan itu. Setelah membaca, karyawannya membalas petunjuk sang bos dengan anggukan.

Dengan cara itulah sehari-hari Aryo berkomunikasi dengan para pegawai di rumah produksi miliknya. Batik Wistara namanya. Saban hari Aryo memang harus begitu. Maklum, seluruh karyawan Aryo penyandang disabilitas. Khususnya tunawicara.

Di rumah produksi yang berlokasi di kawasan Tambak Medokan Ayu, Surabaya itu, Aryo mempekerjakan sepuluh pegawai. Mereka bertugas membuat baju batik. Mulai membikin pola, memotong, menjahit, lalu mengemasnya hingga siap jual.

Di rumah produksi itu, mereka tidak sekadar bekerja. Mereka juga tinggal di rumah tersebut. Sejak mendirikan bisnis batik pada 2010, Aryo sengaja membuka peluang kerja untuk para penyandang disabilitas.

Aryo tergerak untuk merekrut mereka karena berangkat dari pemikiran mulia. Menurut dia, siapa pun berhak mendapatkan kehidupan yang layak. Tak terkecuali para difabel. Apalagi, hanya fisik yang menjadi kekurangan mereka. Namun, secara kemampuan, mereka dapat menghasilkan karya yang luar biasa.

Sebelum mengajak mereka bekerja di rumah produksi itu, Aryo lebih dahulu memberikan pelatihan. Untung, ilmu menjahit dan membikin pola baju batik dapat diserap para penyandang disabilitas itu dengan cepat. Buktinya, mereka bisa melakukan pekerjaan masing-masing dengan maksimal. Setiap hari setiap penyandang disabilitas itu dapat menghasilkan lima potong pakaian batik.

Karya mereka juga diminati banyak pelanggan. ”Kalau ke mana-mana, saya selalu promosikan karya mereka. Ini lho karya para penyandang disabilitas. Kerjaannya halus dan bagus,” kata pria kelahiran Surabaya tersebut. Beberapa pelanggan batiknya pada mulanya tidak percaya. Namun, untuk meyakinkan, Aryo terkadang mengajak pelanggan dekatnya menyaksikan kehebatan para pegawainya. Begitu bertandang ke rumah Aryo, para pelanggan itu terpana. Mereka kagum dengan hasil kerja pegawai Aryo.

Buah kerja keras para penyandang cacat tersebut kini mulai dirasakan. Produksi Batik Wistara terus meningkat. Peminatnya juga datang dari mana-mana. Menyebar di beberapa kota di Indonesia.

Meski begitu, ada pula orang sekitar yang mencela Aryo. Menurut mereka, mengapa Aryo harus susah-susah merekrut difabel. Padahal, banyak orang normal yang memiliki kemampuan yang lebih baik. Aryo punya jawaban tersendiri. ”Sudah, tidak apa-apa. Mereka melihat dari luar saja. Tidak tahu seperti apa yang sebenarnya,” jelas alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut.

Dengan mempekerjakan karyawan difabel, Aryo memang harus memperlakukan mereka secara khusus. Ekstrasabar, pasti. Belum lagi, dia harus memahami bahasa mereka. Meski begitu, hal tersebut tetap harus dilakukan. ”Saya berlatih sedikit-sedikit dari mereka, bahasanya seperti apa,” ungkap pria yang juga berprofesi sebagai dosen di beberapa kampus swasta di Surabaya tersebut.

Selama enam tahun bersama mereka, Aryo dapat mengenal karakter tiap-tiap karyawannya. Menurut dia, penyandang disabilitas memiliki perasaan sensitif. Mereka mudah tersinggung dengan hal-hal kecil. Misalnya, saat Aryo memberikan arahan dengan gestur yang sedikit kasar, mereka langsung ketakutan lantaran menganggap Aryo marah. ”Padahal ya tidak,” ujarnya. Karena itu, Aryo pun harus dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan mereka.

Aryo menceritakan, sebagian besar karyawannya berasal dari luar Kota Surabaya. Dia bekerja sama dengan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur untuk merekrut mereka. ”Ada yang dari Blitar, Nganjuk, Pasuruan, macam-macam asalnya,” kata Aryo. Karena itulah, Aryo memberikan kebebasan kepada karyawannya untuk tinggal bersama di rumahnya.

Dia menambahkan, para difabel memiliki jaringan yang kuat. Mereka memiliki grup di media sosial. Tempat mereka sharing antar penyandang disabilitas dari berbagai daerah. Karena itulah, Aryo dapat mengetahui informasi tentang penyandang disabilitas yang sedang membutuhkan pekerjaan. ”Mereka biasanya saling bantu. Kalau ada yang butuh pekerjaan, mereka cerita ke saya,” ungkapnya.

Dulu, dari informasi tersebut, Aryo mengetahui bahwa ada seorang penyandang disabilitas asal Nganjuk. Orang tersebut memasuki usia produktif. Namun, banyak tempat kerja yang menolaknya lantaran kekurangan fisik yang dimilikinya. Begitu mengetahui cerita tersebut, Aryo menjemputnya sendiri ke Nganjuk. ”Berasal dari keluarga tidak mampu. Rumahnya di pelosok gunung. Kasihan juga,” kata Aryo. Saat ini orang tersebut dapat bekerja di rumahnya dengan baik.

Bagi dia, berat rasanya apabila ada yang izin untuk kembali ke kampung halaman. Apalagi menikah. Sebab, bagaimanapun, bila karyawannya bertemu jodoh, Aryo harus merelakannya. Dia juga harus memahami bahwa tidak ada karyawan yang abadi bekerja di perusahaannya.

Setidaknya, saat keluar dari Batik Wistara, para penyandang disabilitas itu dapat mengembangkan kemampuan dan membuka lapangan pekerjaan secara mandiri. Anggap saja Batik Wistara sebagai sekolah untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya.

Source https://www.jawapos.com https://www.jawapos.com/features/10/12/2016/-cerita-aryo-setiawan-pengusaha-batik-yang-mempekerjakan-difabel-
Comments
Loading...