Celup-celup Jadilah Batik Ikat

0 49

Celup-celup Jadilah Batik Ikat

PKK Dusun Petungroto, Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang kurang memiliki aktivitas dengan hasil bernilai jual tinggi. Aktivitas utamanya arisan. Lutfi, selaku Ibu Kasun Petungroto membutuhkan kegiatan yang dapat membuat anggota PKK bersemangat dan meningkatkan produktivitas ibu-ibu. Mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang kemudian merancang kegiatan yang dapat mendatangkan nilai ekonomi untuk anggota PKK. Mereka mendatangkan Syaiyuri, pemilik Batik Gandring Singosari.  Sejak pagi anggota PKK belajar bersama membuat batik jumput.

Pelatihan dilaksanakan di Posko KKN Dusun Petungroto. Ibu-ibu terlihat antusias dalam mengikuti pelatihan. Syaiyuri memberikan tips pembuatan batik jumput yang memiliki nilai jual tinggi. “Pasar luar negeri saat ini cenderung melirik karya yang terbuat dari bahan alami daripada karya yang terbuat dari bahan sintetis. Batik yang menggunakan pewarna bahan alami contohnya dengan daun tumbuhan kopi, harganya pasti jauh lebih tinggi,” tuturnya.

Penduduk Dusun Petungroto memiliki perkebunan kopi cukup banyak. Bahan itu yang bisa dimanfaatkan. Bahan yang digunakan dalam pelatihan pembuatan batik jumput berupa kain, tali rafia, kelereng, pewarna alami, pewarna sintetis, nitrit, HCL, dan air. Warna-warnanya pun beraneka sehingga menambah semangat ibu-ibu. Tidak hanya itu, mereka juga berlomba membuat kreasi pola corak batik yang indah dengan bermacam cara seperti yang dicontohkan pemateri. Syaiyuri memberi contoh dengan menggunakan kelereng yang dibungkus dan diikat dengan tali rafia atau karet.

Kain dilipat ke dalam kemudian ditonjolkan lalu diikat menggunakan tali rafia, dan sebagainya. Sebelum menentukan corak, kain diberi tulisan yang diinginkan menggunakan alat canting dan malam terlebih dulu. Setelah membuat pola, ibu-ibu mencelup hasil batik ke pewarna yang telah disiapkan. Sembari menunggu warna meresap, kegiatan diselingi dengan pemberian materi tentang cara packaging dan teknik pemasaran yang baik melalui media sosial.

Dengan cara itu, diharapkan dapat menambah minat beli konsumen saat dipasarkan. Selain melakukan penyuluhan pemasaran, ibu-ibu juga diberikan contoh brand produk. Setelah penyuluhan berakhir, ibu-ibu kembali pada pelatihan batik jumputnya, yakni proses pelepasan ikatan pola. Mereka sangat senang dan puas dengan hasil karyanya. “Wah bagus sekali ya polanya,” kata beberapa peserta pelatihan. Batik kemudian dijemur di tempat teduh. Setelah kering kemudian dibungkus lalu dibagikan kepada para ibu.

Source http://surabaya.tribunnews.com/ http://surabaya.tribunnews.com/2018/06/18/celup-celup-jadilah-batik-ikat
Comments
Loading...