Catatan di Balik Kecantikan Batik Pekalongan

0 40

Catatan di Balik Kecantikan Batik Pekalongan

Keindahan alam di Kota Pekalongan sudah menjadi daya tarik tersendiri bahkan sebelum pesonanya menjamur lewat media sosia. Bukan hanya itu, batik salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia juga menjadi bagian sehari-hari dari kehidupan masyarakatnya. Berbagai warna dan corak Batik Pekalongan, atau Batik Pesisir, masih saja membuat berdecak kagum ketika berkunjung ke Pekalongan. Pekalongan ternyata telah berkembang pesat, bahkan kini dinobatkan sebagai Kota Batik Dunia.

Batik pada dasarnya merupakan teknik perintang warna menggunakan malam dengan alat bernama canting. Teknik perintang warna memang sudah lama dikenal oleh bangsa-bangsa prasejarah di seluruh dunia, namun kata “batik” hanya ditemukan dan hanya berawal dari Indonesia, tepatnya dari bahasa Jawa. Uniknya, berbagai jenis kain batikterutama batik klasik Jogja atau Solo yang ada di Indonesia memiliki motif, ornamen, corak dan pola khusus yang diciptakan berdasarkan fungsi, maksud dan tujuan tertentu.

Batik Pesisiran adalah jenis batik yang berkembang sepanjang kawasan Pantai Utara Pulau Jawa. Fenomena kemunculan batik pesisir sesungguhnya merupakan pemberontakan atas bentuk batik klasik yang telah lama ada. Motif batik pesisiran dianggap nyleneh, tidak mirip batik yang telah akrab dalam kehidupan orang Jawa, terutama dalam tampilan warna dan motifnya. Jika kebanyakan batik Jawa lama di Solo dan Jogja berwarna kehitaman atau kecokelatan, namun batik pesisiran justru paling kaya warna: merah, kuning, hijau, biru terang warna-warna mencolok ini membuat batik pesisiran nampak begitu berbeda dari pendahulunya.

Batik Pesisiran juga tidak mengenal pengkhususan penggunaan sebagaimana batik keraton Jogja maupun Solo. Tak ada aturan jelas mengenai motif apa yang harus dipakai siapa atau pada acara apa. Batik Pesisiran merupakan persilangan budaya berbagai bangsa yang pernah berinteraksi dengan penduduk di sepanjang pantai Utara Pulau Jawa. Keluwesannya mampu menembus batas-batas kasta maupun strata sosial. Dengan demikian, batik pesisiran cenderung lebih luwes, tidak kaku, dan bernuansa lebih ceria. Batik Pekalongan termasuk dalam Batik Pesisir yang paling kaya warna. Ia juga memiliki ciri khas batik pesisiran yang memiliki ragam naturalis. Ornamen-ornamennya juga banyak yang bukan berbentuk stilisasi. Jika dibandingkan batik pesisir lainnya, Batik Pekalongan memiliki corak yang dipengaruhi para pendatang keturunan Arab, Tionghoa, dan Belanda. Motif-motifnya bebas. Meskipun terkadang dijumpai ornamen Batik Solo dan Jogja, namun biasanya ornamen ini sudah dimodifikasi dengan variasi warna yang atraktif. Sehingga tak jarang jika dalam sehelai kain batik, bisa dijumpai 8 warna yang berani dan tersusun secara dinamis. Untuk melihat proses pembuatan batik di Kota Pekalongan, Anda bisa mampir ke daerah Kedungwuni (lokasi legendaris), Tirto, Sampangan, Kauman, Krapayak (terkenal dengan motif yang menjadi ikon Pekalongan, Jlamprang), Buaran, Wiradesa, Pekajangan, dan Wonopringgo. Namun, jika ingin membeli beraneka ragam batik, Anda bisa mampir ke International Batik Center dan Pasar Grosir Sentono. Di sini, bisa menjumpai aneka batik cap maupun tulis. Harganya mulai dari Rp. 50.000,- sampai jutaan rupiah.

Batik sudah dikenal di kancah internasional untuk keberagaman motif serta tingkat kesulitan dalam pembuatannya. Semakin bagus dan sulit motif batik, serta semakin tidak adanya pengulangan pola, membuat harga batik semakin tinggi. Para pengrajin batik membutuhkan waktu dan tenaga ekstra yang tidak sedikit untuk menghasilkan batik, terutama batik tulis yang digores dengan tangan.

Source https://wewerehere.id/ https://wewerehere.id/post/catatan-di-balik-kecantikan-batik-pekalongan
Comments
Loading...