Cara Linda Sudarsono Mendongkrak Pamor Batik

0 178

Cara Linda Sudarsono Mendongkrak Pamor Batik

Tidak ada istilah terlambat untuk memulai sesuatu yang baru. Termasuk dalam mengembangkan usaha. Itulah yang dilakukan Linda Sudarsono yang memulai bisnis sebagai pengusaha Batik Lasem 6 tahun lalu. Uniknya, Linda mengaku sebenarnya  tidak memiliki latar belakang pendidikan atau pekerjaan di bidang  fashion. Ia juga mengaku sebelumnya tidak terlalu mengenal seni batik. Dalam kesehariannya, Linda sendiri lebih suka memakai kaus dan celana jins.  “Sebenarnya, semua mengalir saja. Awalnya, saya tidak terlalu menyukai batik, dan tidak berniat untuk jadi desainer,” katanya.

Maklum, ketika itu batik baru mulai booming. Iparnya mengajaknya berbisnis batik. Namun praktiknya, saudaranya itu tidak punya waktu untuk menjalankan bisnis batik tersebut. Dengan modal awal sekitar Rp 30 juta, Linda mulai mengembangkan usaha pembuatan batik. Didukung tiga orang penjahit, Linda pun mulai merancang dan membuat batik tulis dengan merek Batique by Linda. Harga jualnya mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 5 jutaan per potong. Setelah mengikuti berbagai pameran, baik di dalam maupun luar negeri, popularitas Batique by Linda semakin meluas. Order pun makin deras. Produk batik Linda dipajang di gerai keren seperti di Grand Indonesia (Alun Alun Indonesia), Kemang Village,  Central Park, dan di gerai-gerai yang ada di Bali.

Belakangan  Batik Cirebon dan Batik Yogya pun digarapnya. Untuk pasokan bahan bakunya, Linda sudah menjalin kerja sama dengan para perajin batik, yaitu dengan lima perajin di Lasem, tiga orang di Cirebon, dan dua orang di Yogya. Banyak orang yang menjual batik. Karenanya, salah satu strategi yang dilakukannya agar Batique by Linda dilirik pasar adalah dengan membuat batik yang lebih spesifik. Linda pun menegaskan diri untuk tidak menjual batik print. Lebih dari 80% batik yang diproduksi Linda merupakan batik tulis, sedangkan sisanya batik cap. Selain itu, juga aktif berpromosi, seperti di media sosial Instagram. Ia tergolong rajin mengikuti berbagai pameran, baik di dalam maupun luar negeri. Rupanya sambutan pasar terhadap produk batik buatan Linda cukup bagus. Ia mengaku ketika fashion show di Jepang pada Oktober 2015 sempat terharu karena apresiasinya sangat bagus.

Sampai saat ini jumlah produksi Batique by Linda mencapai lebih dari 200 potong setiap bulan. Menurut Linda, pihaknya tidak terlalu banyak menyimpan stok. Justru salah satu kekuatan Batique by Linda adalah kemampuannya memproduksi secara customize. Dengan begitu, produk batik yang dijual Linda tidak pasaran. Juga, pendekatan dan desainnya dilakukan secara personal.

Tak hanya customize, busana batik Batique by Linda juga diproduksi dengan berbagai model, seperti crop top, celana pendek, blus, baju muslim, busana cocktail party, dan sebagainya. Ke depan, Linda berharap bisa memiliki  gerai batik sendiri. Salah seorang pelanggan setia Batique by Linda,  Vonny Lawantara, mengaku puas menggunakan batik karya sahabatnya itu. Menurut Vonny, kebanyakan motif busana batik membosankan. Ini berbeda dari batik yang didesain Linda, yang dinilainya mampu memadukan dua motif batik yang berbeda. Selain itu, modelnya pun unik, tidak membosankan, dan yang tak kalah penting, harganya reasonable dengan kualitasnya.

Source https://swa.co.id/ https://swa.co.id/swa/profile/profile-entrepreneur/cara-linda-sudarsono-mendongkrak-pamor-batik
Comments
Loading...