Belanja Batik Di Kampung Batik Kliwonan Sragen

0 119

Belanja Batik Di Kampung Batik Kliwonan Sragen

Kampung Batik Kliwonan terdiri dari tiga kampung yaitu Kliwonan, Pilang dan Butuh, Kecamatan Masaran. Karena berada di pinggiran sungai atau kali (dalam bahasa Jawa). Industri Batik di kawasan tersebut juga dikenal dengan sebutan Batik Girli (Pinggir Kali atau Tepi Sungai).

Ada dua dugaan mengapa di Sragen banyak warganya yang memiliki ketrampilan membatik. Pertama, orang-orang tua mereka dulu bekerja di pabrik-pabrik batik di kota Solo. Setelah mereka terampil mereka pun membuka usaha batik sendiri di Sragen. Kedua, sejak jaman Majapahit penguasa saat itu menularkan kemampuan membatiknya kepada warga Sragen. Peran Bengawan Solo adalah sebagai sarana untuk moda tranportasi air yang membawa batik sebagai komoditi dari Solo ke Gresik atau kota-kota yang terletak di hilir Bengawan Solo.

Jessica Alba, pemain “Fantastic Four” menggunakan Batik motif dasar (Batik Kalengan). Sebelum dilakukan pewarnaan pada bagian warna putih. Di Sentra Batik Kliwonan ada sekitar 85 Usaha Kecil Menengah yang telah menyerap 5000 tenaga pembuat batik.

Secara keseluruhan ada sekitar 15.000 pembuat batik tersebar di semua wilayah Kabupaten Sragen. Setahun mereka mampu menghasilkan batik jenis katun sebanyak 50.000 potong dan batik jenis sutera dari alat tenun dan bukan mesin (ATBM), jumlahnya sebanyak 365.000 potong.

Batik yang dihasilkan dari sentra industri tersebut kemudian disetorkan ke pengusaha batik solo dan diberi label pengepul ataupun dijual langsung ke pemilik kios di Pasar Klewer Solo. Inilah sebabnya mengapa batik kliwonan atau batik sragen kurang terkenal.

Pemerintah Kabupaten Sragen kemudian menetapkan sentra batik itu sebagai kawasan wisata terpadu, yang dinamakan Desa Wisata Batik Kliwonan. Desa Kliwonan sekaligus diditetapkan menjadi pusat pengembangan, pelatihan, dan pemasaran batik.

Kawasan Desa Wisata Batik Kliwonan terletak sekitar 12 kilometer sebelah selatan pusat kota Kabupaten Sragen. atau 15 kilometer sebelah timur laut kota Solo. Untuk mencapai lokasi desa wisata ini dapat dilakukan dengan melewati berbagai jalur, antara lain:

  • Pintu masuk di Gronong (Perbatasan Kabupaten Sragen dan Karanganyar), melalui jalan raya Solo – Sragen masuk ke utara hingga Desa Sidodadi – Kliwonan
  • Pintu masuk Masaran, dari Masaran melalui jalan kabupaten menuju Desa Pilang – Kliwonan
  • Dari objek wisata Museum Purbakala Sangiran melalui jalan kabupaten menuju kota Kecamatan Plupuh – Desa Gedongan – menyeberangi jembatan gantung menuju Desa Kliwonan.
  • Dari kecamatan Gemolong atau objek wisata Waduk Kedung Ombo melalui jalan kabupaten menuju Kecamatan Plupuh – Desa Gedongan – menyebrangi sungai Bengawan Solo melalui jembatan gantung menuju Desa Kliwonan.

Sragen awal mulanya identik dengan batik Surakarta, terutama di era 80-an. Sebab para pionir kerajinan batik di Sragen umumnya pernah bekerja sebagai buruh batik di perusahaan milik juragan batik Surakarta. Namun, batik Sragen berhasil membentuk ciri khas yang berbeda dari gaya Yogyakarta dan Surakarta.

Batik gaya Yogyakarta umumnya memiliki dasaran atau sogan putih dengan motif bernuansa hitam atau warna gelap. Corak Yogyakarta ini biasa disebut batik latar putih atau putihan. Beda lagi dengan batik gaya Surakarta, biasanya memiliki warna dasaran gelap dengan motif bernuansa putih. Biasa disebut batik latar hitam atau ireng.

Batik Yogyakarta dan Surakarta juga lebih kuat dalam mempertahankan motif gaya kraton yang telah menjadi patokan baku, misalnya parang, kawung, sidodrajat, sidoluhur, dan lain sebagainya. Bagaimana dengan batik Pekalongan. Batik dari daerah pesisir utara Jawa itu biasanya berlatar warna cerah mencolok. Motif batik yang digoreskan umumnya berukuran kecil-kecil dengan jarak yang rapat.

Lahirnya motif tersebut tidak lepas dari pengaruh karakter masyarakat Sragen yang pada dasarnya terbuka dan blak-blakan dalam mengekspresikan isi hati. Batik Sragen lebih kaya dengan ornamen flora dan fauna. Ada kalanya dikombinasi dengan motif baku.

Jadilah, motif tumbuhan atau hewan yang disusupi motif baku seperti parang, sidoluhur, dan lain sebagainya. Belakangan ini beberapa perajin mulai mencoba menelurkan motif baru yang isinya merekam aktivitas keseharian masyarakat. Guratan motif batik Sragen dewasa ini cenderung menyiratkan makna secara tegas. Jauh lebih lugas ketimbang corak Yogyakarta dan Surakarta.

Di desa wisata batik Kliwonan, wisatawan dapat dengan mudah membedakan batik Sragen dengan motif batik dari daerah lainnya. Para perajin batik di Kliwonan biasa menuangkan karyanya ke berbagai jenis kain dengan berbagai teknik produksi. Jenis kain yang digunakan antara lain sutera yang ditenun dengan mesin maupun manual, katun, dan primisma. Perajin di Sragen umumnya memproduksi batik dengan teknik tulis, cap, printing, dan kombinasinya.

Source https://gpswisataindonesia.wordpress.com/ https://gpswisataindonesia.wordpress.com/2013/08/21/wisata-belanja-kampung-batik-kliwonan-sragen/
Comments
Loading...