Belajar Membatik Di Rumah Batik Jawa Timur

0 31

Belajar Membatik Di Rumah Batik Jawa Timur

Batik resmi diakui UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization) sebagai warisan budaya dunia yang dihasilkan bangsa Indonesia. Kain bermotif indah ini masuk daftar representatif sebagai The Intangible Cultural Heritage of Humanity. Pengukuhannya berlangsung di Abu Dhabi pada 2 Oktober 2009, menjadikan tanggal itu mulai kita peringati sebagai Hari Batik Nasional sampai sekarang.

Sebelum batik mendunia, ada Rumah Batik Jawa Timur yang dengan bangga berusaha melestarikan dan mengembangkan batik. Mereka giat mengenalkan batik ke berbagai pameran nasional maupun internasional. Mereka juga terus memproduksi kain-kain berkualitas dengan motif yang baru. Bahkan, Rumah Batik Jawa Timur membuka pelatihan membatik untuk siapa pun yang pingin bisa membatik.

Rumah Batik Jawa Timur diresmikan 14 Mei 2008 oleh Gubernur Jawa Timur Imam Utomo. Lokasinya di Jl Margorejo 143, Depan Asrama Transmigrasi, Wonocolo, Surabaya Telp 0877 7471 2376, 031 849 9346. Di sini kita bisa melihat ribuan lembar koleksi kain batik dari berbagai daerah di Jawa Timur. Mulai Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Tuban, Pasuruan, Malang, Batu, Jombang, Kediri, Pacitan, Tulungagung, Jember sampai Banyuwangi. Ada pula sandal, selendang, aksesoris, serta canting untuk membatik. Di sebuah lemari khusus, tersimpan sekitar 50 lembar koleksi batik kuno yang usianya mencapai ratusan tahun.

Rumah Batik Jawa Timur membuka kursus batik buat individu maupun kelompok. Peminatnya anak sekolah sampai orang dewasa, dari dalam kota maupun mancanegara. “Kapasitas studio batik kami 50-70 orang. Peserta tinggal datang, semua alat dan bahan sudah lengkap tersedia,” jelas Pimpinan Rumah Batik Jawa Timur Syarif Usman. Untuk kursus perorangan, biaya mulai Rp 500.000 sebanyak 6-7 kali pertemuan. Kain batik yang dipakai panjangnya dua meter. Biaya kursus batik berkelompok Rp 75.000 per orang. Masing-masing akan mendapat kain berukuran 50 x 50 cm. “Sekali pertemuan, langsung jadi, boleh dibawa pulang,” terang Syarif.

Pembukaan Rumah Batik Jawa Timur berawal atas kecintaan Faiqah Ismail, ibunda Syarif, pada batik. Faiqah adalah pengrajin batik tradisional asal Pamekasan, Madura. Selama bertahun-tahun, ia membuka toko penyedia khusus busana batik di kampungnya. Suatu ketika, Faiqah memberanikan diri mengikuti sebuah pameran di Surabaya. Reaksi pengunjung sangat bagus. Pemperintah Provinsi Jawa Timur bahkan menggandengnya untuk mengikuti pameran nasional di Jakarta.

Dalam acara tersebut, Faiqah bertemu Siti Hardijanti Rukmana alias Mbak Tutut, putri pertama Presiden Soeharto. Mbak Tutut sangat terkesan dengan batik yang dibuat Faiqah. “Beberapa staf kementerian luar negeri juga nggak percaya, ada batik seindah itu dari Pamekasan,” kenang Ida, putri Faiqah. Selanjutnya, Faiqah diajak mengenalkan batik ke ajang internasional melalui berbagai pameran di sejumlah negara. Di Indonesia, nama Faiqah pun makin tersohor. Apalagi, dulu belum banyak designer spesialis batik seperti sekarang.

Pada perayaan Hari Keluarga Nasional yang dipusatkan di Sidoarjo tahun 1994, Presiden Soeharto hadir menyaksikan acara tersebut. Ia dan seluruh rombongan, termasuk keluarga dan para pejabat, mengenakan seragam batik rancangan Faiqah. Menurut Ida, Mbak Tutut lah yang merekomendasikan ibunya untuk menyiapkan seragam tersebut. Batik khas Pamekasan makin terkenal setelah Faiqah mengikuti Inacraft, pameran kerajinan tahunan terbesar Indonesia sejak 1999, di Jakarta. “Pertama ikut, bawa 16 dus kain batik rancangan ibu yang semua laris tak bersisa,” kata Ida bangga.

Source http://www.superkidsindonesia.com/ http://www.superkidsindonesia.com/superenrichment-3897-belajar-membatik-di-rumah-batik-jawa-timur.html#
Comments
Loading...