Belajar Batik Di Kampung Budaya Poliwijen

0 28

Belajar Batik Di Kampung Budaya Poliwijen

Salah satu destinasi wisata kampung tematik di Kota Malang adalah Kampung Budaya Polowijen (KBP). Kampung yang berlokasi di Kelurahan Polowijen, Kecataman Blimbing ini tak pernah sepi dari kegiatan.

Selain memproduksi kriya topeng Malang, KBP juga memproduksi kriya batik. Batik yang dihasilkan adalah batik tulis yang digambar dengan menggunakan canting.

Pengelola Kriya Batik KBP Titik Nur Fajriyah mengatakan, batik KBP memiliki berbagai macam corak, terutama corak topeng Malang yang memang menjadi ciri khas (maskot) KBP. “Selain corak topeng Malang, ada berbagai macam corak lain, yaitu corak tugu, teratai dan corak bunga,” kata Titik di Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang

Titik mengatakan, biasanya selain memproduksi, KBP juga memberikan workshop bagi pengunjung yang ingin belajar membatik. Kegiatan rutin membatik ini pun banyak mendapatkan perhatian dari pelbagai stakeholders. Mereka datang ke KBP untuk studi banding tentang batik, atau ingin berlatih membatik.

“Kami terbuka bagi siapapun yang ingin belajar membatik di KBP,” ujar Titik yang juga Ketua PKK RW 6 Kelurahan Polowijen ini.

Salah satu mahasiswa Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Debby tertarik dengan membatik. Pekan lalu, Debby berkunjung ke KBP untuk belajar seluk beluk membatik.

Mahasiswi mungil kelahiran Tarakan ini mengaku baru pertama kalinya belajar membatik. Ia pun mengetahui di KBP terdapat workshop membatik dari media sosial. Tak hanya membatik, pehobi traveling ini ikut nandhur pari (menanam padi) bersama teman-temanya di Polowijen.

Bagi Debby, Indonesia sangat kaya akan motif batik. Tiap-tiap daerah memiliki kekhasan masing-masing yang merupakan kekayaan nusantara.

Usai belajar membatik, ia mengaku sangat terkesan. Pasalnya, ia langsung praktek tahap demi tahap membatik yang dipandu oleh pelatih kriya batik KBP.

“Kegiatan di KBP sangat berkesan sekali. Soalnya, ini pengalaman pertama saya belajar membatik, belajar pegang centing, terus ikut kegiatan tandhur pari. Sekali lagi sangat menyenangkan,” kata Debby.

Penyuka bakso Arema ini pun berpesan pada kaum muda khususnya mahasiswa yang mengemban sebagai agen perubahan turut mengembangkan dan melestarikan seni budaya lokal. Atau istilahnya nguri-nguri budoyo.

“Ya, kalau ini sih menurut saya mengajak teman-teman mahasiswa yang lain untuk lebih peduli lagi pada seni budaya. Salah satunya bisa dilakukan juga dengan memposting kegiatan-kegiatan menarik tentang seni budaya di sosial media yang bisa menarik minat teman-teman yang lain,” ungkap penyuka karya-karya Ismail Marzuki.

Source https://indopos.co.id https://indopos.co.id/read/2019/01/17/162195/cintai-nusantara-mahasiswi-mungil-ini-belajar-batik-di-kampung-budaya-poliwijen
Comments
Loading...