Begini Cara Warga Using Banyuwangi Menyimpan Batik

0 118

Begini Cara Warga Using Banyuwangi Menyimpan Batik

Masyarakat asli Banyuwangi atau suku Using ternyata punya cara khusus untuk menjaga batik warisan leluhurnya. Mereka menyimpan kain batik itu dengan dimasukkan ke dalam toples-toples kaca.

Setelah itu, toples-toples ini dipajang di dalam lemari kaca. Disimpan sekaligus dipamerkan. Menariknya, metode penyimpanan ini sudah dikenal dan dilakukan selama puluhan tahun dan turun-temurun.

“Ini merupakan tradisi warga Using Banyuwangi. Kami melestarikan dengan cara kami,” ujar Haidi Bing Slamet, warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Hampir seluruh warga Desa Kemiren menyimpan batik dengan cara seperti ini. Mereka percaya dengan cara itu, batik kuno peninggalan leluhur mereka tidak akan rusak atau terbebas dari ngengat dan binatang perusak kain. Selain itu, toples yang kedap udara dianggap bisa mengawetkan batik tersebut.

“Kalau ditaruh di lemari tidak akan awet. Khawatir jika dimakan ngengat. Selain itu kerusakan yang disebabkan dari suhu, udara dan lain-lain. Dengan kedapnya udara pada toples diharapkan memberikan dampak positif terhadap keawetan batik tersebut,” terang pria yang akrab dipanggil Edi ini.

Pada umumnya batik yang disimpan toples seperti ini adalah batik bernilai tinggi, terutama batik warisan dari sesepuhnya. Batik tersebut disimpan dan ditunjukkan dengan tujuan memberikan satu penghargaan kepada leluhur sebagai wujud simbol kehadirannya.

“Masyarakat Using ini mempercayai bahwa ketika mereka menampilkan batiknya, leluhurnya datang,” tambahnya. Di Kemiren, setiap keluarga juga wajib memiliki batik. Sebab dalam masyarakat Using, batik bukan sekadar kain biasa melainkan juga menjadi simbol penting, seperti menjadi persyaratan untuk lamaran yang dilakukan mempelai laki-laki kepada calon istrinya.

“Batik pemberian mempelai laki-laki nantinya akan dipakai mempelai perempuan saat mereka bersanding di pelaminan. Jadi batik itu memiliki peranan penting dalam sebuah keluarga,” timpal Aekanu Hariyono, pemerhati Batik Banyuwangi secara terpisah.

Terkait batik Banyuwangi sendiri, hingga saat ini, sedikitnya ada 22 motif batik Banyuwangi yang tersimpan di Museum Budaya Banyuwangi di antaranya Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Paras Gempal, Kopi Pecah, Sekar Jagad, Alas Kobong, Gedekan, Ukel, Moto Pitik, Sembruk Cacing, Blarak Semplah, Gringsing, Semanggian, Garuda, Cendrawasih, Latar Putih, Sisik Papak, Maspun, Galaran, Dilem Semplah, serta Joloan dan Kawung. Ini belum termasuk motif-motif batik lain yang belum diberi nama.

Motif batik yang khas dan tidak ada di tempat lain selain Banyuwangi adalah motif Gajah Oling. “Gajah Oling ini khas Banyuwangi dan sudah dipatenkan milik Banyuwangi,” tandas Aekanu.

Motif Gajah Oling berkaitan dengan karakter masyarakat Banyuwangi yang bersifat religius. Hal ini terlihat dari namanya, di mana Gajah menjadi simbol sifat Tuhan yang Maha Besar, sedangkan Uling adalah eling yang dalam bahasa Indonesia berarti ingat.

“Gajah Oling itu perputarannya seperti Perputaran Hidup dalam Cokro Manggilingan. Perputarannya, perputaran yang berlawanan dengan jarum jam. Nah ornamen yang kuat dari Gajah Oling, biasanya di sini ada kembang kelapa, bunganya kelapa. Karena konsepnya, kelapa itu tidak satu pun bagian dari kelapa yang tidak memiliki manfaat untuk makhluk hidup. Apapun. Jadi konsepnya manusia ya seperti itu,” pungkas Aekanu.

Source https://news.detik.com https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4239129/unik-begini-cara-warga-using-banyuwangi-menyimpan-batik
Comments
Loading...