Batik Yogyakarta : Parang Barong, Hanyokrokusumo

0 90

Lengkung pada batik yogyakarta motif parang sering diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam, dalam hal ini yang dimaksudkan adalah raja. Komposisi kemiringan pada motif parang juga melambangkan kewibawaan, kekuasaan, kebesaran, serta gerak cepat sehingga pemakainya diharapkan dapat bergerak cepat. Menurut penuturan Mari S Condronegoro, pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, motif parang menjadi pedoman utama untuk menentukan derajat kebangsawanan seseorang dan menjadi pedoman yang termaktub dalam Pranatan Dalem asmanipun Panganggo Keprabon Wonten Kraton Nagari Ngayogjakarta Hadingningrat tahun 1927.

Selain motif Parang Rusak Barong, motif Batik Larangan pada zaman itu adalah, motif Semen, Udan Liris, Sawat dan Cemungkiran

Jelasnya. Parang Barong, diciptakan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo sebagai representasi dari pengalaman sebuah perjalanan spiritual sebagai Raja dengan segala tugas kewajibannya, juga kesadaran diri sebagai seorang manusia yang memang tempatnya salah di hadapan Sang Maha Pencipta. Kata barong itu sendiri berarti sesuatu yang besar, dalam hal ini di representasikan kepada bentuk atau ukuran kain maupun motif batik parang barong yang besar-besar.

Parang Barong merupakan bapak dari semua jenis atau pola parang dimana motif barong dahulu hanya boleh dikenakan oleh seorang raja. Pola barong ini mempunyai makna agar seorang raja untuk selalu berhati-hati dalam memutuskan segala sesuatu dan mampu mengendalikan diri.

Source batik-tulis.com batik-tulis.com/blog/batik-yogyakarta
Comments
Loading...