Batik yang Digunakan Saat Upacara Siraman

0 57

Batik yang Digunakan Saat Upacara Siraman

Batik Motif Satriya Wibawa yang masuk dalam kelompok Motif Batik Ceplokan, ciri utamanya berbentuk segi empat dan titik pusat pada tengahnya. Motif ini dikenakan pada upacara siraman adat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dan yang mengenakannya adalah ayah dari calon mempelai putri. Makna dari motifnya adalah harapan akan datangnya kewibawaan yang terus terjaga oleh keluarga baru yang akan dibentuk oleh kedua calon mempelai, lahir dan batin yang terpusat serta terendap pada kebijaksanaan menjaga amanah tersebut.

Pada Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, di upacara siraman pengantin, kain batik yang dikenakan adalah Motif Semen Rama. Masuk dalam kelompok motif semen, nama Rama pada motif disadur dari tokoh pewayangan Prabu Ramawijaya di kisah Ramayana. Motif ini dikenakan oleh calon pengantin yang menjalankan upacara siraman dengan harapan senantiasa diberkahi kesempurnaan dan kebaikan lahir dan batin dalam menjalankan biduk rumah tangganya kelak.

Semen Rama memiliki kisah tersendiri yakni ajaran utama dalam bentuk wiracarita Ramayana. Kisahnya adalah wejangan Sri Rama kepada Gunawan Wibisana ketika akan dinobatkan sebagai raja Alengka menggantikan Prabu Rahwana. Ajaran ini dikenal dalam budaya Jawa sebagai Hastha Brata yakni delapan ajaran keutamaan untuk para pemimpin. Delapan ajaran itu diambil dari sifat-sifat delapan dewa yakni: Endrabrata untuk pemberi kemakmuran dan perlindungan dunia. Disimbolkan dalam bentuk ragam hias pohon hayat; Yamabrata untuk sosok penghukum yang adil terhadap mereka yang bersalah.

Disimbolkan dalam ragam hias awan dan meru (gunung); Suryabrata untuk pribadi yang penuh keluhuran, dilambangkan dalam ragam hias burung; Sasibrata untuk sifat rembulan yang memberikan rasa gembira dan pemberi ganjaran bagi orang-orang berjasa, disimbolkan dalam ragam hias binatang; Bayubrata untuk watak luhur, disimbolkan berbentuk ragam hias burung; Danabrata atau Kuwera untuk watak sentosa dan pemberi kesejahteraan pada masyarakat. Disimbolkan dalam bentuk ragam hias binatang; Pasabrata untuk sifat lapang hati namun berbahaya bagi yang mengabaikan. Disimbolkan dalam ragam hias kapal air; dan Agnibrata untuk kekuatan menumpas musuh. Disimbolkan dalam bentuk ragam hias lidah api.

Pura Mangkunegaran Surakarta Hadiningrat dalam upacara siraman, kedua orangtua calon mempelai mengenakan kain batik motif Cakar. Maknanya adalah harapan agar calon mempelai mampu hidup mandiri. Untuk mempelai putri mengenakan kain batik motif Pasatan Bangbangan, yakni kain penutup tubuh saat mandi. Warnanya soga kemerahan dan bukan cokelat. Warna merah menyimbolkan harapan agar calon mempelai senantiasa diberkahi keberanian dan kekuatan untuk memulai hidup baru.

Mempelai putri sangat diagungkan dalam upacara ini. Selain Pasatan Bangbangan, bisa pula mengenakan Motif Wahyu Tumurun dengan semekan atau penutup dada bermotif Bangun Tulak, yang berarti harapan turunnya wahyu keutamaan, kebijaksanaan, dan perlindungan. Motif ini pula dpat dikenakan oleh calon mempelai prianya selain motif lainnya seperti Parang Klithik yang menyimbolkan status kebangsawanan, atau motif Boketan Pakis sebagai simbol pernikahannya merupakan hadiah indah bagi orangtua dan putranya.

Source https://www.batiklopedia.com/ https://www.batiklopedia.com/glamouritas-batik-indonesia-bermula-dari-keraton/
Comments
Loading...