Batik yang Digunakan Saat Midodareni dan Panggih

0 53

Batik yang Digunakan Saat Midodareni dan Panggih

Batik Motif Parang Kusuma menurut beberapa sumber diciptakan pada zaman Raja Mataram Ingkang Sinuhun Kanjeng Panembahan Senopati. Kusuma dalam bahasa Jawa berarti bunga, perlambang keturunan raja. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggunakan motif ini pada malam midodareni wajib dikenakan oleh calon mempelai pria saat berkunjung ke kediaman keluarga calon pengantin wanita. Kunjungan ini dalam bahasa Jawa disebut nyantri. Kain batik motif Parang Kusuma umumnya dipadukan dengan beskap landhung bermotif bunga-bungaan. Untuk orangtua calon mempelai wanita saat dikunjungi, menggunakan kain batik bermotif Cakar, menyimbolkan harapan kedua calon mempelai diberikan kemampuan hidup mandiri dalam rumah tangganya. Varian dari Motif Cakar yang biasa dikenakan adalah Cakar Gurdha dan Cakar Wijayakusuma.

Dalam tradisi Keraton Yogyakarta, Motif Truntum dikenakan oleh calon mempelai wanita. Simbolnya adalah kasih sayang yang abadi. Kain batik motif ini dikenakan calon mempelai wanita dari mulai midodareni, sebelum akad nikah, hingga akad nikah. Sedangkan calon mempelai pria pada saat nyantri mengenakan kain batik motif Sida Asih yang menyimbolkan harapan kedua mempelai dapat saling mengasihi selama menjalankan kehidupan rumah tangganya. Pada saat Panggih atau bertemunya kedua mempelai dalam pernikahan, motif batik yang dikenakan adalah Kampuh.

Artinya adalah harapan kedua mempelai mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin. Ornamen hiasnya adalah tumbuh-tumbuhan perlambang kesuburan, Sawat atau Gurdha yang bermakna kedudukan, digambarkan dalam bentuk papan atau tempat tinggal, disimbolkan dalam motif atap. Secara keseluruhan motif ini menyimbolkan doa kedua mempelai mendapatkan kehidupan yang sejahtera. Motif ini pada saat Panggih dihiasi dengan prada emas. Jika tak mengenakannya, dapat diganti dengan motif Sida Mukti, menyimbolkan harapan hidup sejahtera dan berkecukupan dalam sandang, pangan, dan papan.

Kain Batik Motif Wahyu Tumurun yang bermakna turunnya wahyu Illahi berupa keutamaan dan kebijaksanaan dikenakan calon mempelai putri pada malam midodareni di Keraton Pura Mangkunegaran Surakarta Hadiningrat. Orangtua calon mempelai putri mengenakan motif Bolu Rambat, dan orangtua calon mempelai pria mengankan motif grompol yang artinya berkumpul untuk menciptakan kerukunan. Di upacara Panggih Keraton Kasunanan Ngayogyakarta Hadiningrat, motif Wahyu Tumurun memiliki makna wahyu keprabon yang turun di Kasultanan Demak, diwujudkan dalam empat unsur terdistilasi sebagai ornamen hias, yakni: songkok (mahkota); patra (daun ubi jalar); kusuma (bunga); dan kukila (burung).

Pada saat akad nikah hingga panggih Keraton Pura Mangkunegaran Surakarta, kedua pengantin mengenakan kampuh atau dodot bermotif alas-alasan, perlambang perlindungan bagi seluruh keluarga. Selain kampuh atau dodot, bisa pula mengenakan motif-motif dengan makna harapan baik seperti Sida Mukti, Sida Asih, Sida Luhur, dan lain sebagainya. Sida Mukti melambangkan harapan hidup sejahtera, sedangkan Sida Luhur melambangkan harapan diberikan keluhuran lahir dan batin.

Source https://www.batiklopedia.com/ https://www.batiklopedia.com/glamouritas-batik-indonesia-bermula-dari-keraton/
Comments
Loading...