Batik Tulis Seri Mahabarata Di Jakarta

0 14

Batik Tulis Seri Mahabarata Di Jakarta

Di balik lukisan rumit pewayangan, pembuatnya adalah seorang ibu berpenampilan sederhana, Chandra Diana, pemilik usaha Batik Pohon di Jakarta. Ia merupakan salah satu pegiat usaha batik tulis dengan pewarnaan alami.

Chandra mengungkapkan, Ia mencurahkan waktu hingga tiga bulan untuk menyelesaikan karya tersebut. ”Prosesnya menyelesaikan satu lukisan ini butuh waktu sekitar 3 bulan baru selesai. Isi ceritanya ini mau saya jadikan seri Mahabarata. Ini baru seri 1 dari total 12 seri yang akan saya buat,” ungkap Chandra.

Proses pembuatannya terbilang rumit. Chandra menjelaskan, Ia harus cermat memperhitungkan bagian yang akan dikerjakan terrlebih dulu karena banyaknya gradasi warna dalam lukisannya.

“Ini harus dibuka tutup berkali—kali tiap bagian supaya dapat gradasi warna yang pas. Itu kan warnanya banyak sekali. Imajinasi harus bermain. Saya harus menyesuaikan gradasi dengan hasil jadi yang diinginkan, ini ngga bisa sekali buat. Tentukan gambar bagian apa dulu. Warna yang termuda harus didahulukan,” ujarnya.

Chandra kemudian menjelaskan cerita dan obyek dalam karyanya. “Ini saya sebut Pandawa Tahta. Perseteruan antara Pandawa dan Kurawa. Awal mulanya Pandawa yang dikasih tahta. Ada objek sungai dan istana. Ini maksudnya membedakan jalan antara keduanya dan akhirnya Kurawa tersingkir dari Istana,” terangnya.

Ia mengaku, pembuatan karyanya ini dilatar belakangi kecintaannya akan pewarnaan alami dalam menghasilkan kain batik. Chandra ingin membuat sebuah karya berbeda menggunakan pewarna batik.

Lukisan tersebut pernah Ia tawarkan seharga Rp 15 juta pada pameran sebelumnya. Hingga saat ini belum ada kolektor yang beruntung ‘memboyong’ karyanya tersebut. “Lukisannya di pamerah kali ini belum saya tawarkan. Pameran terakhir banderolnya sampai Rp 15 juta. Saya belum ketemu kolektor dan kurator atau kritikusnya langsung jadi sebetulnya belum bisa menaksir nilainya,” tuturnya.

Di samping lukisan pandawa, tidak kalah menarik perhatian yaitu batik bermotif ‘Ceplok Srengenge’ atau matahari bersinar. “Ini corak tahun 1830an. Suami saya dapat buku koleksi batik tahun 1800-an. Terus lihat motif ini namanya ceplok srengenge. Ini saya tawarkan Rp 3,5-4 juta,” kata Chandra.

Hal yang membuatnya jatuh hati menggunakan pewarna alami yaitu semakin lama umur kain, warna yang ditimbulkan justru semakin terlihat. “Kalau batik warna alam semakin lama semakin muncul karena faktor oksidasi udara. Kalau perlakuannya bener, maka warnanya akan makin muncul. Lain dengan kain biasa itu semakin kita cuci maka semakin pudar warnanya,” tambahnya.

Chandra mengaku tidak sulit mendapatkan bahan baku pewarna alami yang Ia buat sendiri. “Sumber bahan pewarna alami buat lukisan ini saya pakai kulit kayu mahoni, kayu tini, jalawe, tegeran, macam-macam lainnya. Contohnya saya dapat dari sisa gergajian dari banyak daerah. Ada dari Jepara dan Magelang. Kontak temen aja yang lagi ada bahan apa, saya minta dikirim ke Jakarta. Saya buat pewarna, kain batik sampai pakaian jadi,” ujar Chandra.

Peminat dari manca negara pun tidak sedikit. “Sudah ada pembeli dari Inggris, Amerika, tapi lebih banyak orang Eropa. Pembeli dari Jepang paling banyak. Saya heran sama keunikan selera orang Jepang. Ada kain 4 taun ngga laku. Ngga ngerti kenapa dibeli sama orang Jepang dan ngotot hanya mau yang itu,” kata Chandra.

Ia mematok harga Rp 350.000 untuk selembar kain batik berukuran 1,5 x 2 meter. Semua batik diproduksi dengan bahan zat pewarna alami. Rupanya pewarna alami pun tidak semua produsen betul-betul alami.

“Dari awal usaha tahun 2009 saya pakai pewarna alami. Mulai banyak yang seolah iri. Yang saya maksud iri, dia tidak mau pakai pewarna alami karena effortnya dinilai terlalu mahal. Ingin perputaran pemasukan cepat. Jadi ada yang campur celup kimia dulu baru dicelup ke alami. Jualnya ini warna alami dan harganya dituruninkan,” terangnya.

Source https://finance.detik.com/ https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3034464/ini-penampakan-lukisan-kain-batik-rp-15-juta
Comments
Loading...