Batik Tulis Motif Parang Rusak, Motif Mahakarya Hasil Bertapa Panembahan Senopati

0 21

Batik Tulis Motif Parang Rusak, Motif Mahakarya Hasil Bertapa Panembahan Senopati

Batik Indonesia dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga saat ini. Batik Parang merupakan batik asli dan tertua di Indonesia yang sudah ada sejak zaman Kraton Mataram Kartasura (Solo) sekitar tahun 1680 M. Pada mulanya batik dikerjakan hanya di lingkungan keraton saja dan hasil batiknya digunakan oleh para raja dan keluarga serta pengikutnya.

Keberadaan batik Yogyakarta tentu saja tidak terlepas dari sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam oleh Panembahan Senopati. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, dia sering bertapa di sepanjang pesisir Pulau Jawa, antara lain Parangkusuma menuju Dlepih Parang Gupito, menelusuri tebing Pegunungan Seribu yang tampak seperti “pereng” atau tebing berbaris.

Sebagai raja Jawa yang tentu saja menguasai seni, maka keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri pakaian Mataram.

Di salah satu tempat bertapa tersebut, ada bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena terkikis deburan ombak laut selatan, sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak. Karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka motif parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya di lingkungan Istana.

Motif batik Parang Rusak merupakan salah satu motif larangan yag dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Motif batik yang termasuk larangan antara lain : Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat lar, Udan liris, Rujak Senthe, serta motif parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak.

Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik, diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta.

Hal inilah yang kemudian menjadikan keraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya, termasuk batik. Jikalau batik di keraton Surakarta mengalami beragam inovasi, namun sebenarnya motif pakemnya tetap bersumber pada motif batik Kraton Yogyakarta.

Garis lurus diagonal pada batik Parang Rusak melambangkan rasa hormat, keteladanan, serta ketaatan pada nilai-nilai kebenaran. Batik Parang Rusak dengan motifnya yang dinamis memuat pesan kecekatan, kesigapan, dan kesinambungan antara suatu pekerjaan dengan pekerjaan lainnya yang bisa kita maknai sebagai sebuah perbaikan terus menerus tanpa henti.

Warna batik tradisional melambangkan sifat dan nafsu manusia, warna tersebut ada tiga yaitu cokelat, putih, dan hitam sebagai warna utama dalam batik tradisional Yogyakarta. Warna cokelat melambangkan pribadi yang hangat, terang alami, rendah hati, bersahabat, kebersamaan, tenang dan sentosa sesuai dengan masyarakat Jawa yang mengutamakan rasa dalam segala tindak-tanduknya.

Warna putih melambangkan pribadi yang suci, polos, lugu, jujur, bersih, spiritual, pemaaf, cinta, dan terang yang melambangkan sifat religius masyarakat Jawa. Warna hitam melambangkan pribadi yang gelap, misteri, kukuh, formal, dan memiliki keahlian.

Namun dibalik makna filosofisnya, batik parang rusak memiliki sebuah mitos yang masih dipercayai orang-orang tertentu. Konon, jika batik parang rusak digunakan dalam sebuah pernikahan akan berdampak buruk pada kehidupan pasangan yang akan menikah, bahtera rumah tangganya bisa dipenuhi percekcokan.

Mitos ini muncul dimungkinkan karena karena batik parang rusak dulu cukup dikeramatkan dan dipakai oleh kalangan tertentu dalam acara-acara tertentu saja. Karena tidak pernah dipakai dalam acara pernikahan mungkin masyarakat awam menganggap tidak pantas jika batik parang rusak digunakan dalam upacara pernikahan.

Source http://indonesianbatik.id http://indonesianbatik.id/2018/03/16/batik-tulis-motif-parang-rusak-motif-mahakarya-hasil-bertapa-panembahan-senopati/
Comments
Loading...