Batik Tulis Morosunggingan

0 92

Batik Tulis Morosunggingan

Tidak hanya di Diwek dan Mojoagung, pengrajin batik juga ada di Desa Morosunggingan, Kecamatan Peterongan. Karya batik tulis ini memberdayakan ibu-ibu warga sekitar. Dengan jenis motif unik dan khas, yaitu bunga dandelion.

“Kalau Ringin Contong saya buat, itu batik Jombangan, hanya saja tidak sering, yang masih bertahan dan banyak dicari ya bunga dandelion ini,” kata Sugiono, salah satu perajin batik tulis. Selain bunga dandelion, motif Majapahit juga banyak diburu karena setiap gambar memiliki makna tersendiri.

Untuk membuat selembar kain batik tulis berukuran 2,5×1,15 meter, ia membutuhkan waktu hingga 3 bulan. Sebaliknya, jika motif tidak terlalu rumit, ia hanya membutuhkan waktu sekitar 10 hari saja. Lamanya waktu pengerjaan batik tulis bunga dandelion ini membuat harga jualnya cukup tinggi.

“Saya memang tidak bekerja sendiri untuk membuat batik tulis ini, tapi mengajak ibu-ibu sekitar yang ingin belajar dan menghasilkan uang,” kata Sugiono, salah satu perajin batik. Ia mulai membatik sejak 1978, yang kala itu masih menjadi warga Desa Karangmojo, Kecamatan Plandaan, dan baru pindah ke Peterongan 1999.

Saat berada di Karangmojo, ia hanya membatik ketika ada pesanan saja. Sehingga kreasinya tidak sampai memiliki ratusan stok motif. “Saat itu terkendala modal dan pemasaran yang belum banyak dikenal orang, jadi hanya buat kalau ada yang pesan,” jelasnya.

Sejak 1999 itulah, ia mulai memperbesar usaha batik dengan memberdayakan ibu-ibu sekitar. Saat ini ada 12 ibu rumah tangga yang mengerjakan proses batik di rumah masing-masing. “Tidak hanya ibu-ibu, wali murid SDN Morosunggingan banyak yang antusias belajar, siswa juga kita ajarkan membatik sejak dini,” kata Kasek SDN Morosunggingan ini.

Belasan ibu rumah tangga itu mengerjakan mulai proses pencantingan di rumah masing-masing, sesekali kumpul di sanggar untuk sharing motif dan kreasi batik. “Kita memanfaatkan rumah dinas yang tidak terpakai dijadikan sanggar, jadi tempat ibu-ibu kumpul, dan menarik wali murid untuk belajar membatik,” sambungnya.

Menurut dia, membatik harus dilestarikan. Ilmu membatik harus diajarkan kepada anak-anak sedini mungkin. Sebab, batik merupakan kain khas Indonesia yang harus dikembangkan dari generasi ke generasi. Banyak motif batik yang sudah dibuatnya hingga ribuan jenis. Dari semua jenis motif itu yang paling terkenal adalah khas bunga dandelion. Bunga ini salah satu bunga khusus Jombang.

Ditambahkan, batik tulis halus yang memakan waktu hingga 3 bulan dijual dengan harga Rp 600-700 ribu. Sedangkan batik yang selesai hanya 10 hari, dijual dengan harga Rp 300 ribu. “Semakin rumit motif yang diinginkan, maka semakin lama juga waktunya,” katanya. Dalam sebulan, ia bisa memproduksi 10 hingga 20 lembar kain dengan motif yang tidak terlalu rumit.

Batik produksinya memiliki dua warna, sintetis dan pewarnaan alam. Pewarnaan alam tentu lebih mahal karena menggunakan bahan alam di sekitar rumah, yang tidak gampang membuat iritasi pada kulit sensitif. Untuk warna alam, ia menggunakan buah dan pohon sendiri yang ditanam di halaman SDN Morosunggingan.

Tidak semua jenis tanaman bisa digunakan sebagai pewarna alam. Hanya tanaman yang mengandung tanin atau zat warna alami pada buat atau pohon. Tanaman yang mengandug tanin diantaranya tangi, bixa orelana, indigo vera, jolawe, kayu secang, kayu mahoni, dan daun ketapang.

“Dulu saya cari di hutan-hutan, tapi sekarang saya tanam sendiri dan mulai saya budidayakan di sekolah lain, hampir semua tanaman yang ada di depan rumah dinas ini bisa dipakai untuk pewarnaan alam pada batik,” ujarnya bangga.

Sayangnya, batik tulis miliknya belum terlalu dikenal warga Jombang sendiri. Batiknya justru terkenal warga di luar daerah hingga luar negeri melalui pameran-pameran. Bahkan, karya batiknya sudah pernah terjual hingga Kazakhstan, Australia, dan Norwegia. “Kalau di Jombang memang batik saya belum terkenal, tapi pangsa pasar tidak hanya di Jombang, bisa cari rejeki di tempat lain,” jelasnya.

Sementara itu, Umi, salah satu ibu rumah tangga yang juga belajar membatik mengaku senang bisa belajar batik. Selain mengisi waktu luang sehari-hari, ia juga bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dari karyanya sendiri. “Daripada di rumah gosip, saya selalu bawa pulang garapan untuk dikerjakan di rumah,” pungkas dia.

Source https://radarjombang.jawapos.com https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/07/112131/uniknya-motif-bunga-dandelion-dalam-batik-tulis-morosunggingan
Comments
Loading...