Batik Tulis Kemanukan Mulai Bangkit

0 152

Batik Tulis Kemanukan Mulai Bangkit

Batik tulis yang berasal dari Desa Kemanukan, Kecamatan Bagelen, Purworejo, mulai bangkit lagi. Sebelas perajin membentuk kelompok batik dan memproduksi sendiri sejak dari awal pembuatan berupa pembatikan dengan malam hingga pembabaran (pewarnaan). Para pembatik berharap hasil produksi mereka dapat dipasarkan melalui Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi.

Menurut salah satu pembatik Sulasmi warga Desa Kemanukan, keterampilan membatik diperolehnya secara turun temurun dari nenek buyutnya. Kegiatan membatik bagi sebagian pembatik warga Kemanukan hanya merupakan pekerjaan sambilan. Pekerjaan utama mereka selain ibu rumah tangga adalah bercocok tanam di sawah. “Jadi di sela-sela kesibukan bercocok tanam dan memasak, kami membatik. Memang membatik belum menjadi pekerjaan pokok kami, masih berupa sambilan di selasela waktu luang,” tutur Sulasmi.  Banyak perempuan yang mahir membatik di desanya. Namun sayanganya membatik hanya bersifat selingan karena kesulitan dalam memasarkan hasil batikan.

Kabar disahkan batik sebagai warisan budaya milik Indonesia oleh Unesco beberapa waktu lalu memang tidak begitu terdengar di desa itu. Namun semangat pembatik warga Kemanukan layak diacungi jempol. Demi mengasah keterampilannya, para pembatik di desa itu meluangkan waktu secara berkala untuk berkarya sambil menunggu pengepul yang tidak tentu kedatangannya. Kegiatan membatik secara massal hanya dilakukan saat ada pesanan khusus dari pengusaha.

Biasanya mereka tinggal membuat dengan corak dan warna sesuai keinginan pemesan. Honor yang diberikan tidak pasti, sebab setiap satu batikan selesai digarap dalam waktu dua minggu. Dalam satu bulan bisa jadi tiga lembar kain saja sudah bagus. Untuk honor membatik umumnya Rp. 100 ribu per kain. Sulasmi mengaku mulai membatik sejak 1981. Corak batik khas Desa Kemanukan diantaranya jenis Kawung, Garut, Kopi Pecah, dan Sido Luhur.

Warga pembatik mulai bersemangat setelah Pemkab memberikan pelatihan membatik dengan mendatangkan pelatih dan praktisi batik dari Jogja. Selain itu, Pemkab juga memberikan bantuan peralatan untuk proses pembabaran. Kepala Bidang Perindustrian dan Perdagangan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Purworejo Kenik Mujianingsih menginformasikan sedikitnya ada 156 pembatik tradisional yang tersebar di lima kecamatan di Purworejo. Di Kecamatan Grabag terdapat di Desa Sumberagung, Duduwetan, Dudukulon, Rejosari, dan Baturejo.

Source https://purworejoberirama.wordpress.com/ https://purworejoberirama.wordpress.com/2010/03/23/batik-tulis-kemanukan-mulai-bangkit/
Comments
Loading...