Batik Tulis Jetis yang Menghidupi

0 208

Batik Tulis Jetis yang Menghidupi

Geliat industri batik di seluruh wilayah Indonesia yang diwarnai tumbuhnya Seni Batik Kontemporer dengan ciri khas motif dan metode kekinian tidak lantas mematikan usaha batik tradisional. Batik tulis khas Jetis di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, justru eksis karena merawat tradisi leluhur. Usaha rakyat berusia 341 tahun itu berkembang menjadi ekonomi kreatif. Di sebuah rumah yang bergaya arsitek Hindia Belanda bertempat di Dusun Lemah Putro, Desa Jetis, Sidoarjo, dua perempuan paruh baya duduk menghadap lembaran kain berpola yang dibentangkan pada potongan kayu, akhir April lalu. Tangan kanan memegang kain, sedangkan tangan kiri memegang canting penuh cairan malam panas. Di dekatnya terdapat sebuah mangkuk tembikar berisi cairan malam panas dibakar di atas tungku berisi bara arang. Saniyem merupakan salah satu pembatik rumahan di sentra industri Kampung Batik Tulis Jetis. Perempuan yang membatik sejak masih remaja itu mengaku sehari mampu menyelesaikan satu hingga tiga lembar kain. Namun, terkadang dia membutuhkan tiga hari untuk menyelesaikan satu lembar kain untuk motif tertentu.

Perajin Batik seperti Ibu Saniyem biasa mengambil kain yang sudah berpola atau bermotif milik pengusaha batik. Kain berpola itu diproses menjadi kain batik di rumah di sela kesibukannya mengurus rumah. Setelah jadi, kain dikirim kembali ke juragan untuk diproses, seperti pencelupan dan pewarnaan, hingga siap dipasarkan. Terdapat salah satu pengusaha batik, bernama Ischak mengatakan, Batik Tulis khas Jetis memiliki beragam motif, baik tradisional maupun hasil pengembangan kreativitas perajin. “Motif lama, seperti beras wutah, tebon (bunga tebu), sekardangan, sekar jagat, burung merak, dan kembang ceplok, masih diminati konsumen. Selain motif, batik khas Jetis dikenal berwarna mencolok, seperti merah, kuning, dan hijau,” ujar pemilik usaha batik merek HI ini.

Segmen Batik Tulis khas Jetis saat ini tidak terbatas hanya di Sidoarjo dan Surabaya, tetapi hingga Madura, Solo, Semarang, dan Jakarta. Menurut cerita rakyat, warna terang pada motif batik tulis asal Jetis dipengaruhi konsumen mayoritas yang berasal dari Madura. Selembar kain batik tulis khas Jetis dihargai mulai Rp 140.000 hingga jutaan rupiah. Pemasaran masih didominasi pasar lokal kendati beberapa perajin mampu menembus pasar ekspor seperti Singapura dan Malaysia.

Perajin batik pada umumnya lebih senang menggarap pasar lokal karena tuntutan pasar ekspor tidak sedikit, misalnya harus menggunakan pewarna alam bukan kimia. Padahal pewarna alam butuh proses panjang dan lama serta pencelupan kain berulang-ulang sehingga menguras waktu serta energi. Juragan batik seperti Ischak mampu menghasilkan paling sedikit 100 lembar kain batik per bulan. Pengusaha batik lainnya bahkan mampu memproduksi 600 lembar kain batik sebulan. Selain kain, batik tulis khas Jetis juga bisa aplikasikan dalam bentuk kain panjang atau jarit, sarung, seprai, taplak meja, dan tas.

Kampung Batik Tulis Jetis merupakan satu-satunya sentra industri rakyat batik khas Jetis yang bertahan. Dua sentra lainnya, Batik Kedungcangkring dan Sekardangan, kini tinggal kenangan. Kalaupun tersisa, tinggal pembatik perorangan yang berusaha membangkitkan kembali warisan leluhurnya. Batik Jetis sudah ada sejak 1675 atau 341 tahun silam. Awalnya, usaha batik ini hanya ditekuni satu orang yang menurut cerita dari mulut ke mulut berasal dari Kerajaan Kediri. Belakangan, jumlah warga yang menekuni usaha batik tulis semakin berkembang, bahkan menjadi usaha turun-temurun.

Lokasi Kampung Batik Tulis Jetis sangat strategis memudahkan untuk para pengunjung menjangkaunya. Permukiman para pembatik ini berada di kawasan kampung tua dengan dominasi bangunan berarsitek Hindia Belanda. Tak hanya itu, Kampoeng Batik Tulis Jetis juga berada dekat dengan Masjid Jami’ sehingga cocok dikembangkan menjadi destinasi wisata terintegrasi antara budaya, heritage, dan syariah.

Ketua Paguyuban Batik Tulis Sidoarjo Nurul Huda mengatakan, dari 35-40 perajin batik tulis, sebanyak 20 perajin berada di Kampoeng Jetis. Setiap perajin memiliki 4 – 15 karyawan yang menangani produksi dan mitra pembatik rumahan 10-20 orang. Untuk pemasaran, mereka biasanya memiliki tenaga lain lagi yang berjumlah 5-10 orang. Batik khas Jetis bisa dijumpai di gerai atau outlet di dalam gang. Pembeli juga bisa bertransaksi langsung di rumah perajin yang sekaligus menjadi ruang produksi. Rumah – rumah itu bisa dijumpai di dalam gang.

Source Batik Tulis Jetis yang Menghidupi Batik
Comments
Loading...