Batik Tulis Girisari

0 191

Batik Tulis Girisari

Imogiri memang kaya akan kerajinan batik tulis salah satunya adalah Batik Tulis Girisari Girirejo. Batik yang dikelola oleh Slamet mempunyai berbagai jenis kain batik tulis, yaitu berbagai jenis kain Batik Soga Yogyakarta. Slamet, merupakan salah satu perajin atau pengusaha di kawasan Imogiri yang beralamat di Dusun Pajimatan RT/RW D5/6 Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.

Batik Tulis Girisari ini terletak di sebelah barat makam raja-raja Imogiri. Karena letaknya yang berdekatan dengan makam raja-raja, maka jika ada tamu yang berziarah ke makam tersebut dapat langsung mengunjungi batik tulis ini. Batik tulis ini merupakan salah satu tempat persinggahan tamu-tamu penting dari lokal maupun luar negeri. Mereka ingin mengetahui secara langsung proses membatik mulai dari awal hingga selesai. Tidak sedikit dari mereka yang ingin belajar dan membuat batik sebagai cindera mata.

Slamet pun dengan kesabaran dan ketlatenannya, mengajari proses pembuatan batik tulis tersebut. Usaha ini sebenarnya meneruskan usaha dari Kerto yang merupakan orang tua yang juga sebagai perajin batik. Pada masa Kerto kerajinan batik tulis mengalami pasang surut. Hal ini disebabkan batik hanya dipakai pada acara-acara tertentu saja sehingga kain yang diproduksi juga terbatas.

Semula orang tua Slamet yang bernama Kerto memproduksi kain batik di rumah huniannya sehingga pemasarannya pun juga kurang maksimal. Kain batik yang diproduksi hanya berupa kain panjang dengan motif-motif tradisional. Motif-motif tradisional yang diproduksi antara lain, Sidomukti, Semenromo, Cakar Ayam, Wahyu Tumurun, Truntum Gurdo dan Parang.

Pada perkembangannya, anak dari Kerto yaitu Slamet mendirikan kios batik bersama rekan-rekannya sekitar tahun 1985. Kios ini selain berfungsi untuk tempat pemasarannya juga sebagai tempat produksi. Bapak dua anak ini ketika masih kecil sudah menyukai dunia perbatikan. Kemampuan membatik didapat Slamet diperoleh dari orang tuanya. Selain itu, Slamet juga banyak mengikuti kursus-kursus batik. Sehingga tidak diragukan lagi akan pengetahuan dan penguasaan tentang seluk beluk membatik.

Pada tahun 1985 Slamet beserta teman-temannya masih mengembangkan produk jenis kain panjang dengan motifmotif tradisional. Dalam menjalankan usahanya tersebut Slamet dibantu sebanyak 13 Karyawan untuk memproduksi berbagai jenis kain batik tradisional. Usahanya mulai ada perkembangan, selain untuk kain panjang juga memproduksi taplak meja. Pada tahun 1996 Slamet mulai menjalankan usahanya sendiri. Berbagai motif tradisional dihasilkan Slamet dan dituangkan dalam kain mori hingga menjadi kain batik. Hingga saat ini Ia bersama 30 orang pembatik lainnya Slamet mengembangkan Batik Tulis Girisari.

Menurut Slamet, satu keunggulan batik tulis dibanding batik printing dan cetak adalah keawetannya, karena warna tidak cepat pudar seperti jenis lainnya. Dalam setiap upacara dan perayaan adat, orang akan lebih mantap dengan memakai kain dengan batik tulis. Batik tulis yang diproduksi Slamet, untuk motif tradisional antara lain sidomukti, sidoasih, wahyu tumurun, truntum gurda, dan masih banyak lagi. Kurang lebih 75 motif tradisional dikuasai dan telah diproduksi Batik Tulis Girisari.

Slamet seringkali menerima pesanan seperangkat kain untuk acara pernikahan. Satu set kain untuk pernikahan berisi 13 kain yaitu satu lembar batik sidoasih untuk acara tunangan, sepasang kain cakar ayam untuk acara siraman, sepasang kain wahyu tumurun untuk acara midodareni, sepasang kain sidomukti untuk upacara pernikahan, empat lembar kain truntum untuk orang tua mempelai dan kain semenromo untuk kakek dari mempelai putri. Konsumen yang sering memesan satu set kain tersebut antara lain berasal dari Jogja, Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya dan Bandung.

Dilihat dari jenis kain, Batik Tulis Girisari memproduksi kain batik dengan bahan sutra, prima, dan primisima. Selain batik tradisional juga ada produk-produk pakaian dengan motif yang banyak dimodifikasi dan dengan warna sintetis yang lebih beragam. Pada tahun 1996-2003 Batik Tulis Girisari pernah memasarkan kemeja-kemeja batik jadi, namun menurut Slamet, kemeja pasarannya lebih susah karena kalah dengan batik printing. Akhirnya Slamet kembali berfokus pada kain batik tulisnya.

Waktu itu, yang banyak disayangkan adalah kain batik yang penggunannya semakin berkurang. Ini disebabkan antara lain masyarakat menganggap mengenakan batik terkesan ribet, dan kesan etniknya terlalu kuat sehingga hanya cocok dipakai pada acara tertentu saja. Untuk menjaga keawetan kain batik, diperlukan perawatan yang khusus untuk kain batik. Dalam perawatannya, cukup dicuci biasa dan diangin-anginkan tanpa sinar matahari yang keras.

Pada tahun 2004 sampai sekarang Batik Tulis Girisari semakin berkembang. Setelah gempa bumi yang melanda daerah Bantul pada tahun 2006 batik tulis ini sempat berhenti dalam menjalankan produksinya, karena peralatan batik rusak. Dalam keadaan tersebut, ada berbagai pihak yang ikut membangkitkan kembali usaha Batik Tulis Girisari ini, selain mendapatkan bantuan peralatan membatik, perajin juga mendapatkan program pendampingan.

Khususnya Batik Tulis Girisari ini, Slamet mendapat bantuan material untuk membangun show room batik. Dari tahun ke tahun batik tulis ini mengalami peningkatan baik dari segi hasil produksi maupun pemasarannya. Hasil produksi batik tulis ini semakin bervariasi mulai dari bahan sandang, aksesoris sampai perlengkapan rumah tangga.

Dalam hal pemasarannya, selain mempunyai Show room, Slamet sering mengikuti berbagi acara pameran. Pada bulan Juli tahun 2011 Slamet mengikuti pameran nasional INA Craft di Jakarta. Hal ini sangat membantu pemasaran Slamet agar usaha batik tulisnya lebih banyak dikenal masyarakat. Pemasarannya didalam negeri antara lain di Yogyakarta, Jakarta dan Bali sedangkan pemasaran diluar negeri seperti Jepang Italia dan Perancis.

Source http://eprints.uny.ac.id/27622/1/Nita%20Wulandari%2C%2007207241009.pdf
Comments
Loading...