Batik Sragen Punya Khas Motif Flora dan Fauna

0 383

Batik Sragen Punya Khas Motif Flora dan Fauna

Pada acara pameran Wasiat Agung Negeri Nusantara (Warisan) kembali digelar. Tak hanya bertujuan untuk menjaga seni dan budaya bangsa, namun perhelatan yang sudah diselenggaraankan untuk kali kedua ini sebagai bentuk apresiasi kepada para pembatik, pemerhati, dan pengusaha batik Indonesia. Turut serta meramaikan Pameran Warisan yang dihelat di Jakarta Convention Center selama 23-26 November 2017, Meydi Iswanto, sengaja bertandang ke ajang tahunan itu untuk memperkenalkan lebih dekat produk kerajinan batik asal daerahnya, Sragen.

Batik Sragen, tentu tak terlepas dari Keraton Surakarta Solo sebagai pelopor pembuatan batik. Pasalnya, kendati sudah berusia satu abad, batik asal Sragen boleh dikata nyaris tak pernah terdengar gaungnya karena selalu kalah pamor dari Batik Solo atau Yogyakarta. Kekuatan Batik Sragen terdapat pada kekayaan ornamen flora dan fauna. Tak jarang dikombinasi dengan motif baku seperti Parang, Sidoluhur, dan lain sebagainya. Adapun teknik yang kerap digunakan adalah teknik ukel sebagai andalan. Teknik ukel merupakan bagian proses membatik dengan mencantingkan malam berbentuk setengah lingkaran. Bak cacing setengah melingkar dengan dasar memberikan tembokan. Hal itu dilakukan secara berulang-ulang guna melahirkan warna yang jelas dan merata. Dapat dikatakan, dibanding teknik granit dan buh, teknik ukel termasuk kedalam kategori tersulit sehingga lumrah jika batik yang dihasilkannya nanti bakal dibanderol dengan harga jutaan rupiah.

Adapun durasi pengerjaan, dalam menghasilkan selembar kain batik berukuran kurang lebih 2,5 kali 3 meter, dirinya membutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya. Selama mengibarkan bendera dagang “Batik Medira Sragen”, Meydi mempekerjakan sekitar 40 orang karyawan. Dimana dalam perniagaan produk batiknya, ia hanya melakukan transaksi jual beli tatap muka yang biasa dilakukan melalui pameran-pameran atau bisa juga langsung datang di ke rumah produksinya di daerah Kliwonan, Masaran, Sragen.

Bukan tanpa alasan kenapa dirinya enggan melakukan penjualan dalam jaringan (daring), atau melalui sosial media yang saat ini gencar dilakukan oleh banyak pelaku usaha. Ia khawatir penjualan sistem daring membuat motif-motif batik gubahannya bakal dibajak pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Ada alasan itu pulalah yang menjadi alasan kenapa dirinya tak terlalu berminat untuk mematenkan seluruh motif batik buatannya. Sebab, sekalipun sudah mendaftarkan hak cipta, kemungkinan karyanya bakal dijiplak orang lain tetap akan terbuka lebar. Ia mencontohkan bagaimana produsen batik kenamaan seperti Iwan Tirta, yang meski sudah memiliki hak paten pada produk-produknya tetap bisa dibajak dan tak bisa memperkarakan para pembajaknya ke jalur hukum lantaran motif batiknya sudah mengalami sedikit perubahan.

Meydi mengharapkan hal tersebut bisa menjadi perhatian bagi pemerintah, bagaimana untuk bisa mencarikan solusi yang efektif sehingga polemik terkait “pembajakan halus” tersebut bisa dipangkas atau diminimalisir keberadaannya. Pada kesempatan itu dirinya juga berharap, pemerintah bisa lebih mendukung industri batik dengan lebih gencar menggelar pameran-pameran dengan biaya yang dapat dijangkau oleh para perajin dan pengusaha batik lokal.

Source http://ekonomi.akurat.co/ http://ekonomi.akurat.co/id-90431-read-batik-sragen-punya-khas-motif-flora-dan-fauna
Comments
Loading...