Batik Solo : Langit Jingga Bumi Batik Desa Girilayu

0 23

Langit jingga bumi batik Desa Girilayu. Seusia dengan renta kulit yang lusuh penuh rapuh. Beliau masih membatik sore itu. Sejak gestok sudah membatik, sejak rayuan pulau kelapa bermain angklung di hati kecil beliau dengan hikmat. Menerobos bilik ruang segala rindu, mengalir dalam goresan canting, bernyanyi riang dalam hening. Di saat senja masih menawarkan sejuta mimpi dan harapan agar Indonesia ini selalu dalam cita dan cinta damai. Berjalan sejajar dengan rambut memutih yang selalu menolak tua.

Genggam jemari yang renta, gemetar melukis liris dengan lirik seribu lagu. Bertahan dengan segala kesederhanaan, bersyukur dengan segala yang dicukupkan. Goresan batiknya bergetar karena tidak mampu menahan usia. Beliau masih membalas senyum kami dengan senyum yang paling cantik sore itu, seperti melati yang mekar penuh kasih sayang. Tutur kata yang lemah lembut membawa diam dalam jutaan lembar ketenangan. Sorot mata yang tajam meskipun kaca mata menggantung di antara hidung beliau.

Sungguh, jauh dari anggak dan angkuh manusia. Pandangan yang bersahaja mencoba merayu kami untuk mendekat. Tetapi kami masih tersesat dalam pekat asap gelap. Batik itu bercerita bahwa beliau sudah renta, lengkungan motif terpaksa berderak berderai mengikuti detak nadi yang terus berjuang untuk mengisi sisa hari. Hanya titik-titik kecil menghibur beliau bersama monolog romantis. Begitu riang.

Source indonesianbatik.id indonesianbatik.id/2018/05/15/melati-di-tapal-batas-langit-jingga-bumi-batik-desa-girilayu
Comments
Loading...