“Batik Saji” Tinggalkan Batik Klasik Tradisional Pacitan

0 50

Tradisi membatik di masyarakat Pacitan sudah berlangsung turun-temurun sejak beberapa generasi. Sampai kini, para ibu rumah tangga di kabupaten ujung barat daya Jawa Timur yang merupakan tempat kelahiran Presiden SBY dan berbatasan dengan Jawa Tengah itu, masih banyak yang membatik dengan pola-pola klasik tradisional, seperti motif parang, bledak, sidoluhur dan semacamnya.

Di tengah kemandegan kreasi batik yang masih bertahan dengan motif lama itu, ada seorang perajin yang mampu keluar dari situasi tersebut, bernama Ny. Saji. Perajin batik yang mewarisi tradisi membatik dari leluhurnya itu, kini berupaya memasukkan unsur-unsur baru dalam teknik membatik, khususnya dalam pewarnaan.

Ny. Saji bersama suaminya Samuri, mulai 1990 membuat rintisan batik Pacitan dengan kreasi-kreasi baru yang disebut “Batik Saji”. Produk batik tulis dengan nama sesuai nama Ny. Saji itu, tidak banyak berbeda dengan batik tradisional Pacitan pada umumnya. Namun konsep pewarnaan yang lebih beragam dan cemerlang, menjadikan karya seni “Batik Saji” khas Pacitan lebih modern.

Saat ini, Ny. Saji bersama suaminya, Samuri yang mempekerjakan 62 orang perajin, tidak hanya membuat batik untuk kain ibu-ibu di wilayah Pacitan, tetapi lebih banyak untuk bahan baju batik. Pangsa pasar “Batik Saji” pun tidak sebatas Jawa Timur dan Jawa Tengah, namun merambah Ibukota Jakarta dan luar Jawa, seperti Bali dan Kalimantan. Lewat para pelanggan, batik saya juga dikirim ke Mumbay India. Namun pengiriman itu belum melalui prosedur ekspor.

Didampingi Dr. Sarah Rum Handayani dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS), Ny. Saji bersyukur karena mendapat bimbingan teknis pewarnaan dan desain dari para pakar UNS.

Ny. Saji yang sebelumnya lebih mengenal pewarna kimia yang tidak ramah lingkungan, mendapatkan pengetahuan baru tentang bahan-bahan alami dari tumbuh-tumbuhan yang memiliki efek warna pada tekstil untuk kerajinan batik.

Warna-warna untuk Batik Saji diperoleh dari pengolahan bahan alami, seperti kulit mahoni untuk warna merah kecoklatan, buah piksa, joho atau jolawe yang menghasilkan warna kuning, daun ketapang, dan daun talok yang memunculkan warna jingga. Selain itu ada pula daun tunjung, jambe, daun mangga, melinjo, kayu tegeran, bunga pisang dan lain-lain untuk warna soga coklat dan biru yang efek pewarnaannya khas.

Kendati warna-warna alami yang dihasilkan Batik Saji Pacitan sudah lebih cemerlang, menurut Dr. Sarah yang merupakan dosen Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR), tetap berbeda dengan warna batik Madura yang mencolok atau “ngejreng”. Batik Saji dengan motif baru, seperti ikan, I love you, anggur, kupu-kupu, daun lumbu serta yang bertema flora dan fauna lainnya, lebih terkesan lembut dan bernuansa sangat khas.

Ny. Saji mengungkapkan, motif-motif yang dikengembangkan tersebut sebenarnya masih dapat lebih bernuansa Pacitan jika mengadopsi motif wayang beber. Sebab, Kabupaten Pacitan dimasa lalu sangat populer dengan karya lukis wayang beber yang di dalamnya kaya dengan motif bertema wayang. Bila kelak dia bersama para perajinnya sudah menguasai teknik pola dengan motif wayang beber, setiap desain akan bisa dikembangkan menjadi lebih dari 30 desain baru yang lebih atraktif.

Kecuali masalah desain, pola, motif dan warna yang harus dipertimbangkan agar hasil akhir seni batik tulis itu menjadi satu kesatuan yang ada nilai pesonanya, dari segi teknik pembatikan Batik Saji juga perlu penyempurnaan. Dr. Sarah mengakui, karya Batik Saji masih cenderung kasar karena belum menggunakan alat secara tepat. Dia menunjuk penggunaan canting “lanang” dan bukan canting “wadon”, berakibat pola “klowongan” dan “cecekan” cenderung tebal dan kasar. Itu berbeda dengan batik klasik Solo yang terkesan rumit, halus dan tipis, karena pembatik Solo dan Jogja tidak menggunakan canting lanang. Seharusnya perajin batik Pacitan diajarkan menggunakan canting wadon agar lebih halus.

Kendati Batik Saji belum sepenuhnya sempurna, menurut Ny. Saji, dia mampu memproduksi batik berkualitas dengan harga antara Rp 150.000,- sampai Rp 350.000,- per potong. Dia bersama 62 perajin batik, dalam sebulan rata-rata menghasilkan 200 – 300 lembar kain batik

Comments
Loading...