Batik Rakyat Masuk Keraton

0 212

Batik Rakyat Masuk Keraton

Fenomena tentang Batik Rakyat masuk Keraton ini terjadi sejak abad ke-18. Kedudukan para pembatik di lingkungan Keraton sebagai abdi dalem kriya sangat ditentukan oleh keahlian mereka dalam karya seninya. Pekerjaan membatik merupakan pekerjaan yang sangat mulia untuk menjunjung tinggi derajat, pangkat putra-putri Keraton. Bahkan dalam waktu-waktu tertentu raja memandang penting dalam memilih dan menumukan katagori remeja putrid yang anggun menurut Keraton. Masuknya pengrajin batik rakyat menjadi pengrajin batik Keraton membuat mereka meningkat kedudukannya, dari kawulo (rakyat jelata) kemudian diangkat derajatnya menjadi seorang abdi dalem di lingkungan Keraton sebagai “Abdi Dalem Kriya” (Kelompok tugas pengerajin) dengan pangkat “Hamong Kriya”. Gelar kebangsawanan yang diberikan kepada para pembatik rakyat itu dianugrahkan Raja kepada rakyat yang dianggapnya telah berjasa terhadap raja. Mereka mendapatkan perumahan, perlengkapan rumah tangga, dan gaji. Bahkan mereka diizinkan mengajak kerabatnya masuk ke lingkungan Keraton untuk membantu dalam mengerjakan kriya (salah satunya di bidang membatik).

Ada sebuah perusahaan batik “Babaran gemes Wicitran” yang dirintis oleh Ny. Resowicitro. Perusahaan UKM (istilah saat ini) hanya memiliki 5-10 orang tenaga kerja yang semuanya terdiri dari kerabat sendiri.keberhasilannya dalam membuat produkk batik-batik pesana Keraton. Keberhasilannya ini membuat Ny. Reksowicitro mendapat gelar kebangsawanan Raden Ayu dan ia memindahkan perusahaannya kedalam lingkungan Keraton. Hal ini merupakan awal perolwhan derajat kebangsawanan abdi dalem kriya batiknya dengan orang-orang Keraton semakin memperkuat legitimasi kehadirannya dalam kelompok bangsawan.

Ketika perusahaan kesil ini hanya melayani pesanan Keraton, maka mereka harus membuat rancangan batik secara teliti dan terperinci untuk menunjukan tingkatan pemakai batik di lingkungan Keraton. Otomatis meraka menciutkan usaha untuksuatu focus melayani pesanan Keraton saja, sebagi konsekuensi menjadi abdi dalem kriya yang memperoleh berbagai fasilitas sebagai bangsawan. Sementara mereka meninggalkan bisnis mereka salam memproduksi batik babaran gener yang semula merupakan salah satui kekuatan bisnis “Babarab Gemes Wicitran”.

Sekitar tahun 1920 “Babarab genes Wicitran” hancur tanpa ada warisan professional maupun sikap entrepreneurship yang ditinggalkan kepada keluarga maupun anak cucu. Satu-satunya yang ditinggalkan hanyalah kenangan indah berupa gelar kebangsawanan yang diperoleh melalui semangat kerja pengabdian. Menurut ibu Harjo Wicitro, adik R.Ay. Reksowicitro, sesudah kematian kakaknya, ia sempat mewarisi usaha iru selama tujuh tahun. Selama itu ia hanya berusaha mempertahankan usaha kakaknya untuk untuk mmelayani pesanan batik para bangsawan. Selebihnnya pelayanan kepada masyarakat terbatas pada usaha mbabar (melalukan penawaran). Akibat peurbahan ini, konsumen batik tulis halus jatuh ke tangan pengusaha laweyan dan tiga pengusaha keturunan Tionghoa, antara lain batik cap “Sawo”, cap “Sidomaju” dan batik cap “Pancar”.

Terdapat 236 perusahaan batik pribumi, 88 keturunan Arab, 60 keturunan Tionghoa, dan 3 pembatik keturuna Eropa. Data tersebut memberikan gambaran betapa saat itu batik rakyat mengalami kemajuan karena mereka berorientasi pada perekonomian masyarakat sebagaimana motif bisnis batik yang dilakukan keluarga Wicitran sebelum masuk Keraton. Dapat disimpulkan, bahwa kecenderungan keagungan bisnis batik klasik sebagaimana yang berkembang di Keraton tidak dapat memberikan jaminan pada tingkat kemajuan bisnis batik bagi pelakunya (pembatiknya).

Kemuliaan sebagai seorang abdi dalem dan gelar kebangsawanan yang menjadi konsekuensi pilihan bagi seorang adsi nkriya pada zaman kita rupanya tidak ciukup untuk melanjutkan kehidupan. Apa yang dialami oleh batik “Gemes Wicitraan” sebenarnya hanya merupakan salah satu diantara contoh bagaimana batik Keraton mencoba tetap eksis di antara perkembangan kehidupan dalam Keraton serta kehidupan di luar Keraton. Batik eratin dalam keberadaannya merupakan salah satu bentuk bentuk pertahanan budaya Keraton serta sebagai pengakuan legitimasi kelompok birokrat Keraton.

Menurut KRT Harjonagoro yang berasal dari keluarga pengusaha batik luar Keraton, batik yang dikelola oleh para abdi dalem di Keraton memberikan peluang yang baik nagi batik-batik luar istana. Batik-batik rakyat itu secara otomatis membentuk segmen-segmen sesuai daya beli masyarakat. Batik Bekonang dikenal konsumen sebagai batik kualitas kasar, sedangkan keluaran Matesih dan Laweyan untuk tingkat menengah, sedangkan keluaran Kedung Gudel di daerah Sukopharjo untuk batik dari Temnayat dikenal sebagai Batik Kelengan, yaitu batik yang dicelup satu kali untuk satu warna saja.

Source http://pabrikbatik.com/ http://pabrikbatik.com/2017/02/16/batik-rakyat-masuk-keraton/
Comments
Loading...