Batik Purbalingga Dimulai Dari Era Najendra

0 31

Sore yang terbalut hujan. Seketika nama udan liris mampir di pikiran. Eh, lalu bagaimana dengan truntum, kawung, lumbon, sekar jagad atau bahkan cebong kumpul ? Semarga kan ?  Pertanyaan itu kian menggelitik setelah pertemuan pertama saya dengan seseorang ini terjadi pada Desember 2013. Satu kalimat yang saya ingat darinya adalah “Batik Purbalingga itu sudah punya khas sejak awal”. Antara takjub, bingung dan tidak mudheng, rangkaian penasaran itu saya endapkan hingga menuju 2 tahun.

Namun batik Purbalingga, hanya sekelumit yang saya ketahui. Padahal saya ada di kota ini sejak lahir dan tinggal dikelilingi beberapa pembatik sepuh. Memori saya pada bagian ini sepertinya tidak terlalu baik, sampai-sampai sulit membacanya. Tapi kalau boleh, ijinkan saya menyebut nama mereka satu per satu. Eyang Din, Mbah Sastro, dan Mbaeh Nana adalah nama-nama pembatik sepuh yang saya kenal saat kecil. Mereka kerap terlihat mencanting di salah satu sudut rumahnya. Sendiri. Tanpa dibantu orang yang lebih muda. Bahkan kini juga tak diteruskan ahli warisnya.

Berkenalan dengan batik Purbalingga kembali saya lakoni beberapa hari lalu. Ketika Yoga Prabowo, salah seorang perajin batik Purbalingga meluangkan waktunya untuk berbincang. Saya mengaku telah terlena dengan ragam batik fashion yang pernah menggila beberapa tahun silam. Namun akhirnya ditinggalkan setelah half circle skirt saya ternyata kembar dengan jarit Mbah penjual sayur mayur yang berpapasan di jalan. Kami sama-sama pakai truntum. Dan beberapa orang terlihat mengulum senyum atas kejadian itu. Tanpa kompromi saat itu saya tinggalkan batik.Terlambat saya sadari, karena tak berapa lama setelah kejadian itu, batik menjadi salah satu warisan budaya tak benda yang diakui Unesco. (Foto canting diambil dari sini)

Dan sudahlah, perasaan tengsin yang pernah saya alami dulu, biar saja menjadi catatan bahwa saya pun pernah seperti anak muda pada umumnya. Gengsi pada (segala yang bersentuhan dengan) Batik. Tapi semoga itu tidak lagi saya lakukan, apalagi saat pelan-pelan memahami bahwa batik adalah warisan tradisi dan budaya adiluhung. “Proses dan filosofinya itu yang mesti kita pahami dengan baik. Ada kesabaran, keuletan, kematangan dan tentunya doa pada setiap helai kain batik. Sehingga tak heran jika beberapa upacara tradisi menyertakan batik tulis tertentu sebagai salah satu syarat”, terang pemilik usaha Batik Tirtamas ini.

ERA NAJENDRA

Nah kembali ke batik lokal, keberadaan batik Purbalingga konon sudah ada sejak masa Perang Diponegoro. “Ada anak buah Diponegoro yang membuat sentra batik di Sokaraja. Namanya Najendra”, kata Yoga. Sentra itu sekaligus menjadi yamg pertama di Banyumas Raya. Dan untuk proses produksinya, Najendra mengumpulkan banyak warga untuk membatik. Dan kebetulan tidak sedikit dari mereka  berasal dari Bobotsari, Galuh, Karanganyar, dan sebagainya. “Kecuali Limbasari lho ya”, tambahnya. Iya, secara ragam motif dan warna, batik Purbalingga termasuk corak Banyumasan. Walau tidak bisa dipungkiri ada ornamen-ornamen yang mungkin saja berbeda. “Dibanding dengan batik Jogja, Solo, Pesisiran, batik Banyumasan paling gelap. Hitam, biru tua, cokelat tua, hijau tua. Sedangkan di wetan kan gelapnya masih ditimpa kuning atau gading. Kalau kata teman-teman budayawan ya karena kita blakasuta. Hitam ya hitam, biru ya biru, ndak dicampur warna lainnya”, lanjutnya. (Ilustrasi batik Purbalingga-an koleksi pribadi)

Sementara untuk motif, flora dan fauna kecil semisal burung dan kupu-kupu lah yang mendominasi. Eh, jadi inget ya sama lumbon. Itu lho, motif yang sempat tren bersamaan dengan hitsnya senthe wulung. “Banyak tempat di Banyumas Raya Mba yang punya lumbon. Meski sepintas coraknya beda, nama bisa saja sama. Seperti motif klasik saja. Kan semua daerah punya. Jogja punya Sidomukti Solo punya, kita juga punya. Dan kalau dijejerin beda”, terangnya. Waaah, saya makin takjub dengan kekayaan ragam batik di negeri kita. Pastinya banyak banget dong. Terus jadinya apa nih motif khas Purbalingga ? “Salah satunya Cebong Kumpul”, ujarnya sembari mesam-mesem melihat mata saya yang membulat. Terang sajalah. Namanya kok jadi menggemaskan buat saya. “Ini salah satu motif klasik. Sudah jarang, tapi masih bisa dipesan. Banyak dibuat di Palumbungan dan sekitarnya. Kenapa Cebong Kumpul ? Karena pembuatnya konon dulunya terinspirasi dari kondisi saat membatik. Berkelompok dan di dekat sungai. Dan ada gambar cebong-cebongnya gitu”, katanya menggambarkan. Aaah kecebong.

SENTRA

Selain Palumbungan, desa Galuh, Jatisaba, Kemangkon sampai sepanjang aliran Sungai Gringsing pernah menjadi sentra batik Purbalingga di masa lalu. “Sepertinya yang paling pertama ada di daerah Sudagaran, Mba”, tuturnya. Mungkinkah yang dimaksud adalah Prada ? Entahlah. Lagipula kini toko Prada juga sudah tidak beroperasi ya. Selain itu, Yoga juga menyebut Gang Mayong menjadi salah satu sentra batik (Hmmm, saya pikir ini yang oleh orang-orang tua disebut tempatnya Kwee Sing mungkin ya ?), Kalikajar Kulon (sepanjang klawing), Kandang Gampang, Gandasuli, Bobotsari, Jatisaba, Sidakangen, Jompo sampai Banjarsari.

(Ket foto : Konon, jaman dahulu orang membuang petilan kain / label pada batik tulisnya. Dengan alasan takut dicap sombong karena mengenakan batik tulis) Yang pasti sih rumah keluarga saya tidaklah jauh dari Sudagaran. Banyak pembatik sepuh di seputar rumah saat itu. Dan ini adalah salah satu batik Eyang Din yang tersisa. Koleksi ini dibeli Bapak pada 96. Konon saat itu, Eyang Din mencantingnya sendiri di rumahnya, namun mengirimnya ke Sokaraja untuk diwarna. Semula saya pikir hal itu dilakukan karena usia tidak memungkinkannya untuk nglorod. Kenyataannya ? “Dalam sejarahnya dulu, pembatik yang dari Purbalingga itu memang diajarinnya nyanting saja. Untuk pewarnaan di Sokaraja. Dan ndak tau kenapa sampai sekarang kebanyakan pembatik kita ya ndak bisa (teknik) warna”, ujarnya heran.

Kini, Purbalingga memiliki 6 sentra batik tulis yaitu : Limbasari, Tlagayasa, Dagan, Galuh, Kalimanah dan Karang Moncol. “Semoga sih bisa nambah lagi ya, apalagi kami kan tidak hanya terpaku pada sentra itu saja ya Dan sekarang yang sedang dirintis adalah Tlahab Lor Karang Reja.”,ucapnya.

Keinginan itu tentunya bukan sekedar angan-angan. Selain ada institusi yang berperan untuk mengembangkan sentra, sebagai perajin, secara pribadi Yoga pun tak keberatan mengajarkan teknik membatik. “Silakan saja adek-adek pelajar coba membatik disini (Tirtamas)”, tawarnya. Perkenalannya dengan batik semasa kuliah di Jogja memang membuatnya senang membagikan ilmunya. “Aku oleh ilmu mbatik iki nutur Mba. Ditawarin tiba-tiba sama tetangga kost. Katanya kasian lihat saya bengong. Namanya Pak Imam. Sabar sekali Pak Imam ngajarin saya sampai bisa”, kenangnya. Walau tak langsung diaplikasikan ketika lulus kuliah, namun mbatik menjadi keahlian yang berbuah manis baginya.

Koleksi Batik Tulis Tirtamas : Banyu Mudhal (abu-abu, pewarna kayu mahoni), Kembang Sepatu (hijau), Mawaran Kawung (oranye). Yang biru ? Lupa nggak nanya, hehe.. Baginya mendesign, nyanting, nyoga, nglorod, hingga kemudian menjemurnya adalah proses yang seiring sejalan dengan detak nadinya. “Saya pengen terus mbatik”, tekadnya. Bagaimana dengan kita saya ? Mari mengenali batik dengan lebih dekat, agar mudheng dengan intangible value dari kekayaan intelektual nenek moyang ini.

Source https://langgamlangitsore.blogspot.com https://langgamlangitsore.blogspot.com/search/label/Batik
Comments
Loading...